Artikel yang dimuat dihalaman ini bisa berupa apa saja, dari motivasi diri sampai perbaikan akhlaq. Saya hanya berupaya untuk bisa sharing ke semua orang tanpa terkecuali, dan saya mengharapkan feed back yang positif, karena sesungguhnya motivasi diri dan perbaikan akhlaq yang dimaksud adalah lebih dikhususkan utk diri saya sendiri dan keluarga dan mudah2an bisa bermanfaat utk siapa saja tanpa bermaksud menasehati apalagi mengurui. Opps... ada juga yang copas. Afwan*
26 Maret 2025
Mohon Maaf
31 Desember 2024
31 Desember
Akhir tahun
Selalu berulang
Bagi yang berumur panjang
Sebagian bersuka ria dan senang
Sebagian lain ada duka yang terkenang
31 Desember
Akhir tahun
Umur bertambah
Masihkah berulah?
Atau sudah berubah?
Demi akhir yang cerah
31 Desember
Akhir tahun
Bukan akhir perjuangan
Bukan akhir perjalanan
31 Desember
Akhir tahun
Dimana kamu berkumpul?
Dengan siapa kamu bergaul?
31 Desember 2024
Aku masih disini
Masih bisa berjalan
Masih bisa berlarian
Masih bisa makan
Masih bisa menikmati hiburan
Masih bisa bercengrama dengan keluarga dan handai taulan
Masih bisa sujud memohon ampunan
Berharap akhir hidup dalam naungan Ilahi Robbi Yang Maha Rahman
Robb,
Alhamdulillah atas segalanya
Alhamdulillah masih bisa mengucap Syukur alhamdulilah
Alhamdulillah masih bisa memohon ampunan-Mu
Alhamdulillah masih bisa bersujud pada-Mu
Robb,
Wafatkan aku dalam ridho-Mu
Wafat dalam husnul khotimah
Hingga Kau masukkan aku ke dalam jannah
18 Desember 2024
Lupakan
Belajarlah untuk dilupakan
Kita semua akan dilupakanOleh teman-teman kita
Oleh teman-teman kita yang mengaku sahabat kita
Oleh orang-orang disekitar kita
Oleh orang-orang yang mencintai kita
Walau mereka ada
Kita akan dilupakan
Tak ada lagi yang membicarakan kita
Tak ada lagi yang mau berbicara dengan kita
Tak ada lagi yang mau mengundang kita
Tak ada lagi yang mau mendekati kita
Walau untuk menyapa “Hai”
Belajarlah untuk dilupakan
Dilupakan oleh teman sendiri
Dilupakan oleh mereka yang mengaku sahabat
Dilupakan oleh orang-orang yang dulu dekat dengan kita
Biasakan untuk dilupakan
Disaat bersama mereka
Mereka mengabaikan kita
Disaat kita diantara mereka
Mereka berpaling
Biasakan untuk dilupakan
Jangan ada dendam
Walau mereka enggan hadir dalam jamuan makan yang kita sediakan
Jangan sakit hati
Walau mereka enggan merapat untuk menjabat
Kita PASTI akan dilupakan
Oleh orang-orang sekitar kita
Bahkan oleh orang yang sangat mencintai kita
Ketika Izroil menjemput kita
Kita akan dilupakan
Mereka enggan menemui kita
Walau sekejap
Walau sekedar berucap “Aamiin”
Atas doa orang-orang yang menyayangi kita
Kita dilupakan
Oleh mereka semua
Sekejap setelah ruh berpisah meninggalkan jasad kita
Semua kembali pada aktifitasnya
Pada kesibukannya
Merekapun akan segera dilupakan
15 Agustus 2023
Kita akan segera dilupakan!
Kita akan segera dilupakan walau mereka mengaku kalau merekalah yang paling sayang padamu.
Entah siapa duluan, semua sesuai dengan urutan yang telah ditentukan, yang telah ditetapkan. Malaikat tidak pernah salah cabut nyawa orang. Tidak pernah!
Jika telah waktunya, maka orang tersebut akan segera mengakhiri hidup di dunia.
Dia tidak menunggu kita tua
Dia tidak menunggu kita sakit
Dia tidak menunggu kita siap atau tidak
Bahkan dia tidak menunggu tobat kita.
Setelah kita mati, maka dengan cepat kita akan dilupakan oleh orang lain, walaupun ia adalah pasangan hidup kita, orangtua kita, anak-anak kita, saudara-saudari kita apalagi oleh teman-teman kita. Bahkan mungkin merekapun tidak mendoakan kita.
Apakah mereka menyempatkan diri untuk diam sejenak dan mendoakanmu? Entahlah. Hanya mereka yang tau, dan itupun yang akan mereka alami ketika mereka mati, kelak.
Setelah kita dikubur, ada sebagian dari mereka membicarakanmu. Membicarakan masa-masa lucu mu sambil sesekali mereka ikut tertawa.
Setelah kita dikubur, tidak sedikit dari mereka meninggalkanmu tanpa mengingatmu lagi.
Posisimu di kantor, ditempat kerja, sudah siap digantikan oleh orang lain.
Pasanganmu, sudah mulai mempersiapkan diri untuk hidup tanpamu. Satu dua hari bisa jadi mereka masih menangis, setelah itu mereka bisa tertawa-tawa dengan kerabatnya dan melupakanmu.
Bagaimana dengan anak-anakmu? Mereka sudah mulai beraktifitas seperti biasa. Mereka tidak boleh larut dengan mengingatmu dan menangisimu sepanjang masa. Mereka harus melupakanmu.
Hartamu, jika kamu punya, ia akan segera dibagi-bagikan. Tidak sedikit yang memperebutkannya. Jerih payahmu hanya menjadikan ‘masalah’ baru bagi mereka.
Kita akan cepat dilupakan
Lalu buat apa kita hidup bergantung pada mereka?
Lakukanlah kewajibanmu sewajarnya.
Jangan bergantung pada mereka. Bergantunglah seperlunya.
Perbanyak amal untuk bekalmu di akherat.
Jangan terlalu banyak berharap pada yang hidup untuk selalu mendoakanmu, mengirimkan ‘hadiah’ padamu. Mereka punya kesibukan. Mereka punya keterbatasan. Dan merekapun akan segera mati. Menyusulmu.
Tobatlah dari sekarang. Jangan ditunda lagi.
Perbanyak amal jariyah, amal yang abadi sepanjang masa, yang akan selalu menemanimu.
Mulailah dengan mengikhlaskan amal-amamu karena Allah, bukan karena ingin dibanggakan, dihormati atau disanjung manusia.
Namun Allah tidak akan meninggalkanmu
Dia akan menerima amal-amal (ikhlash) mu
Dia akan mengampuni dosa-dosamu yang telah kamu tobati, memintakan ampunanNya.
Berharaplah rahmatNya
Agar Allah mengumpulakanmu bersama orang-orang yang dirahmatiNya
15 Februari 2021
No more stess
Solusinya gimana supaya gak gampang stress?
Ya cuma orang itu yang bisa. Orang lain mah cuma bisa ngomong. Cuma bisa nasehatin. Cuma bisa kasih saran. Cuma bisa kasih masukan. Se-simple itu. Di internet juga bertebaran solusinya, tinggal mau apa nggak bacanya.
Nah, yang dinasehatin, yang dikasih saran, yang dikasih masukan, apa bisa ngikutin?, apa mau ngikutin?
Kalau pengen gak kumat ya harusnya sih bisa. Harusnya sih mau mencoba apa-apa yang dinasehanin sama orang lain. Kalau gak percaya sama orang yang nasehatin, ya cari orang lain yang dipercaya. Namanya juga pengen sehat (pikiran), ya harus konsultasi dan ikutin arahannya. Kalau gak mau ikutin arahannya, ya gak usah abis-abisin waktu dan tenaga untuk konsultasi sama mereka.
Punya keluarga?
Nah pikirin deh dampaknya ke keluarga? Anak, orangtua, pasangan hidup, saudara-saudara dan semua orang yang ada disekitarmu. Pikirin dampaknya ke mereka kalau kita mengumbar stress kita dihadapan mereka. Pikirin juga diri sendiri akibat dari mengumbar stress.
Belajar kontrol diri.
Plus tambah dengan doa, banyakin zikir. Eling kalau kata orang tua mah.
Kamu bisa!
Yakinkan diri
Demi kamu
Demi keluargamu
Demi orang-orang disekitarmu.
Jadilah penghapal Alquran
Dijelaskan dari buku “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi dari Ali Karramallahu Wajhahu, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca Alquran dan menghafalnya, dan menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga dan menjaminnya untuk memberi syafaat bagi sepuluh orang keluarganya yang wajib masuk neraka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Sepertinya
ini jalan yang paling mudah untuk mendapatkan surga. Membaca Alquran dan
menghapalkannya.
Membaca
Alquran sudah dilakukan setiap hari. insyaAllah istiqomah.
Bagaimana
dengan menghapalnya?
Dimulai dengan niat untuk menghapalkan Alquran. Lalu mulai menghapal. Setiap hari satu atau dua ayat. Baca berulang-ulang. Sebelum hafal tidak pindah ke ayat berikutnya. Setelah hafal, maka mulai lagi dengan ayat selanjutnya. Begitu seterusnya. Sisihkan waktu. Jangan mencari waktu luang tetapi luangkan waktu untuk menghapalnya. Rutin. Istiqomah. Sampai akhir hayat.
Kita
tidak tau kapan kita akan mati.
Karena
mati tidak menunggu kita tua.
Mati
tidak harus didahului dengan sakit.
Mati pun
tidak menunggu kita tobat.
Kita semua berharap surga, carilah jalan yang mudah untuk kita capai. Salah satunya dengan menjadi penghapal Alquran. Ikuti cara diatas.
Jika
mati lebih dulu menjemput sebelum kita bisa menghapal seluruh isi Alquran,
insyaAllah kita akan dicatat sebagai penghapal Alquran, dan kelak dikumpulkan bersama
para penghapal Alquran di akherat kelak, karena kita telah berniat untuk
menjadi penghapal Alquran dan istiqomah menghapal Alquran setiap hari walaupun
hanya satu atau dua ayat saja setiap harinya.
Yuk, ajak anak-anak kita, saudara-saudara kita, teman dan sahabat untuk jadi penghapal Alquran, biar kita bisa sama-sama kumpul di surga. InsyaAllah.
26 Agustus 2020
Sampaikan saja!
Jadi teringat ayat dibawah ini:
مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ
Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui
apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. (QS 5:99)
Tugas Rosul yang Mulia saja hanya menyampaikan apa-apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau, dan beliau tidak bisa memaksakan atau memberi hidayah kepada siapapun. Apalagi kita, yang bukan Rosul bukan pula Nabi, bahkan bukan pula bisa disebut sebagai ulama, maka jangan bermimpi bisa merubah orang lain untuk bisa taat pada Allah dan Rosul-Nya. Kita cuma bisa dan hanya bisa memberitahukan apa-apa yang kita ketahui tentang islam, tentang adab, tentang aturan-aturan yang telah ditetapkan. Kita tidak bisa memaksakan mereka untuk mengikuti, bahkan kita tidak bisa memaksakan mereka untuk (hanya sekedar) mengerti. Allah yang akan memberikan petunjuk, jika Allah menghendaki. Jika tidak? Mereka akan tetap dalam kesesatan.
Jadi, tidak perlu heran dan bingung pada orang-orang disekitar kita. Terkadang kita sudah ‘berbusa-busa’ namun mereka tetap pada kelakukan mereka, tidak berubah. Entahlah sampai kapan. Kita cuma bisa menyampaikan, memberitahukan, dan setelah itu mendoakan. Mudah-mudahan mereka dan juga kita, diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bertobat sebelum ajal kita menjemput. Satu hal yang perlu diingat lagi, bahwa kita tidak akan pernah tau kapan ajal kita akan datang, so… perbanyak istighfar. Bertobatlah. Mudah-mudahan Allah mengampuni.
20 Agustus 2019
Surat Terbuka untuk “Haters” Ulama dan UAS
Jangan pernah suka memanfaatkan keadaan dimana kalian hidup di rezim ini yang tidak peduli umat Islam dan suka menyebut Islam adalah radikal.
Jangan pernah memanfaafkan kondisi negara saat ini yang dipimpin oleh kalangan Islamophobia, lalu anda melanjutkan persekusi ulama.
Pelaporan UAS ke polisi karena ceramah yang dianggap menghina Kristen adalah salah alamat, gegabah, dan dilakukan dengan kebodohan maksimal.
Pelaporan UAS ke polisi menunjukkan langkah yang tergesa gesa dan gegabah, karena sejatinya selama ini kebencian anda kepada Islam sudah disimpan lama, namun belum ketemu momentumnya.
Pelaporan UAS ke polisi menunjukkan anda merasa kuat karena merasa satu DNA dengan rezim yang bekuasa, meresa ada yang membela.
Pelaporan UAS ke polisi dengan bukti ceramah untuk internal umat Islam adalah langkah mencari cari kesalahan yang menunjukkan kebodohan luar biasa dari pihak anda sebagai pelapor.
Pelaporan UAS ke polisi hanya akan menyibak wajah busuk anda selama ini yang sangat membenci Islam, karena anda menghina Islam di dalam gereja gereja terasa belum cukup.
Pelaporan UAS ini adalah sikap arogansi kaum minoritas yang tidak tau diri dan tidak tau malu, ini mungkin karena kaum mayoritas terlalu baik kepada mereka selama ini.
Ormas-ormas Kristen yang melakukan pelaporan UAS ke polisi bisa disebut ormas Kristen radikal yang dibalut dengan kebodohan luar biasa.
Kalau anda gagal paham soal ceramah orang Islam, maka bagusnya anda belajar lagi kepada pendeta pendeta anda, anda sekolah lagi soal teologi, jadi bagusnya ke sekolah bukan ke polisi. Jangan sampai sudah kafir bodoh pula.
Umat Islam sudah lama bersabar atas arogansi minoritas di negeri ini, jadi jangan terus terusan memancing di air keruh, karena akibatnya nanti anda sendiri tidak akan mampu menanggungnya.
Umat Islam tidak punya ajaran kalau pipi kiri ditampar maka berikan pipi kanan, karena kalau anda memilih menampar pipi kiri kami duluan, maka kami akan tampar pipi kanan anda bahkan 100x tamparan yang lebih keras.
Umat Islam diajarkan damai, tapi bukan berarti anda bebas bermain api dan test case, umat Islam damai makanya anda hidup disini dengan aman dan nyaman, kalau kami bar bar dan arogan, gak tau nasib anda akan bagaimana, maka merenunglah. Jangan suka cari kesalahan yang gak perlu.
Umat Islam diajarkan damai, ratusan ayat al-Quran mengajarkan kami soal esensi damai ini, tapi kalau anda mengusik umat Islam, maka anda silahkan baca surat at Taubah dalam kitab suci kami, disana tidak ada lagi kata Bismillah sebagai tanda baca awal al Quran, karena surat ini identik dengan kemarahan kami.
Umat Islam tau kapan damai kapan tidak, tau kapan diam dan kapan membalas, tau kapan diam dan kapan mengambil sikap. Maka hiduplah dengan damai di negeri yang indah ini, jangan cari masalah dan cari cari konflik.
Cek dan ricek segala sesuatu sebelum berbuat, jangan arogan dan jangan suka berlebihan. Soal agama adalah soal sensitif, lebih sensitif daripada masalah politik. Maka hati-hatilah dalam melangkah.
Umat Islam terkenal damai di seluruh dunia, dibantai, dihabisi, dikudeta, diserang dst. Tapi kami tidak sembarangan membalas, karena umat Islam punya aturan yang ketat soal soal nyawa dan nama baik orang lain termasuk yang beda agama, maka pelajarilah kami sebelum anda mencari masalah dengan kami.
Kami damai bukan karena kami lemah, tapi kitab suci kami tidak mengizinkan perang sembarangan kalau tidak mencukupi syarat, nabi kami dulu sampai menunggu turun ayat izin perang bertahun tahun karena beliau tidak mau berperang kalau belum ada restu langit.
Berhati-hatilah dalam hal ini, umat Islam cinta damai, itu sudah terbukti di lapangan bukan sebatas khutbah palsu di mimbar mimbar tapi di lapangan anda terus mengutus misionaris untuk menyerang agama kami.
Karena kalau umat Islam sudah marah, dan semua syarat sudah terpenuhi, sejarah mencatat, tidak ada benteng pertahanan yang terlihat kuat di depan umat Islam. Raja dan Gubernur saja kami singkirkan, apalagi yang gembel-gembel.
Selamat merenung, lanjutkan hidup yang damai. Jangan suka bermusuhan karena akhir dari sebuah permusuhan tidak ada yang indah. (*)
*Penulis: Tengku Zulkifli Usman (Analis Politik Islam)
Sumber :
https://www.eramuslim.com/berita/nasional/surat-terbuka-untuk-haters-ulama-dan-uas.htm#.XVtyD-gzbIU
31 Juli 2019
Watawa showbil haq, watawa showbish shobr
29 Juli 2019
Nggak ribet kok
Lebih aman lagi, gausah bawa hape ke toilet.
26 Juli 2019
Ngerumpiin ghibah, boleh kok
Jelas dong. Ngerumpi itu gak boleh. Ngerumpi bisa jadi sama dengan ghibah.
Ghibah sendiri juga jelas tidak boleh. Terlarang.
Nah kalo ngerumpiin ghibah?
Boleh.
So..
18 Juli 2019
It has been banned
You won't see me again on Facebook
It has been banned. Since end of June 2019
I only had one account.
And it was real account.
I joint to Facebook on April 2009.
Woww, it is more than 10 years. Amazing !!.
If someone claimed to be me or pretends to be me or using my profile, my picture etc.,
I guarantee it is NOT ME
It is easy to create a new one
But I have not decided yet to do that.
If I am not mistaken, I have only 300 friends more or less in FB. Not much.
but most of them (more than 90 percent) are really my friends. I know them well.
And the rests are followers.
Some of them are also followers on IG. :)
I had two Fanpages
First : Abbhie.
it only has 110 followes more or less.
All posts in FP Abbhie was my original writing.
The second one is, I used the name of Owner of Pondok Pesantren in the Middle of Java.
The Famous one. Sorry, I do not mention the name.
But honestly, I created it for him and he knew it.
I made him as an admin, but he refused caused he was not familiar with Fanpage, and he was also not have much time to manage the Fanpage.
In a few months, this Fanpage has more than 50K followers.
And always has new followers everyday.
All posts in this Fanpage is copied from his account.
Both Fanpages are about da'wah.
Facebook allowed me to download memories.
But not for both Fanpages.
I am not sad at all losing my account on FB.
I am just curious why they did it to me.
Political issues made them not fair to take action.
_
16 Juli 2019
Maklumin aja. Namanya juga anak kecil (2)
15 Juli 2019
Maklumin aja. Namanya juga anak kecil (1)
Maklumin aja. Namanya juga anak kecil (2)
12 Juli 2019
Your secret admirer
09 Juli 2019
“Sorry ya Bro, gw gak like"
Tuhan 9 cm berkepala api
Puisi karya Taufik Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-‘ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini...
🌻Taufik Ismail 🌻
Edisi Copas From Group WA
16 April 2019
Kiyeu wae, ngenah...
Begitulah kata yang keluar dari lisan seorang Kyai pimpinan dan pengasuh pondok pesantren yang didirikannya di wilayah Bogor. Ketika itu saya baru beranjak dewasa, sudah makin kritis.
Beliau adalah KH. Abdul Salam. Masih ada hubungan saudara. Saya memanggilnya dengan sebutan Kang Haji. Akang yang berarti kakak dalam bahasa Sunda. Ya, beliau adalah kakak saya, anak dari uwak saya.
“Kamu gak usah kepengen jadi Kyai, suka dijadikan hukum sama orang lain” begitu kira-kira artinya.
Dari penjelasannya yang panjang lebar, mengertilah saya apa yang dimaksudkan oleh Kang Haji. Seseorang yang ‘diberi’ gelar Kyai oleh masyarakat setempat, punya beban tanggungjawab yang sangat berat. Setiap gerak langkahnya akan ditiru oleh orang lain dan dijadikan dalil bagi orang lain untuk mengikutinya. Setiap ucapannya adalah bahasa hukum yang harus dipatuhi oleh orang lain. Dengan kata lain, menjadi seorang (yang diberi gelar) Kyai, haruslah menjadi sosok yang (paling tidak) sempurna. Wow berat juga ya Bro! Padahal sejatinya, manusia itu tidak luput dari kesalahan, tidak terkecuali seorang Kyai/Ulama. Satu saja khilaf yang dilakukan oleh seorang Kyai, dan diikuti oleh jamaahnya, maka sulit untuk kembali meluruskannya. Biasanya beliau melakukan klarifikasi pada jamaah yang rutin datang ke pengajiannya.
Lain halnya bila ada seseorang atau sekelompok orang yang memang tidak suka terhadap sosok Kyai atau Ulama. Kesalahan Kyai atau Ulama adalah senjata ampuh untuk menjatuhkannya. Bahkan mereka tidak peduli berita itu datangnya dari mana. Mereka mendengarkan bukan untuk menambah ilmu, namun untuk mencari celah kapan sang Kyai salah bicara.
Bila ada orang yang menasehatinya untuk tidak menghujat, menghina ataupun menyudutkan Kyai atau Ulama, hanya karena (anggaplah) kesalahan yang tidak disengaja, maka mereka akan semakin membabi buta, dan dianggapnya kita (yang menasehati) sebagai fanatik buta.
Di ujung kalimat berbunyi, “.. Kiyeu wae, ngenah” Begini saja, enak. Artinya jadilah orang biasa saja. Bisa bebas melakukan apa saja, dan tentu saja dengan tetap tidak melanggar aturan, terutama aturan agama.
Begini saja, enak. Artinya juga, kita bisa masuk ke kalangan mana saja, berda’wah dengan cara apa saja, dengan bahasa apa saja, tidak perlu formil. Menjadi seorang Kyai punya keterbatasan dalam menyampaikan da’wah. Salah satu contoh kecil saja, jika ia berpapasan dengan seorang Muslimah tanpa hijab dijalan, dan Muslimah itu bertanya satu-dua persoalan, atau sekedar menyapa, dan seketika sang Kyai menjawab atau memberikan pencerahan, maka hal itu bisa menimbulkan salah pengertian bagi orang lain yang pada saat itu tidak berada dekat dengan mereka, yang pada akhirnya bisa menimbulkan fitnah.
“.. Kiyeu wae, ngenah” Begini saja enak, tidak terbebani oleh keadaan apabila kita memberikan masukan pada orang lain. Kita bisa menggunakan bahasa mereka, gaya mereka, dan mereka yang mendengarnyapun dapat dengan nyaman berdiskusi, bahkan mengkritisi tanpa sungkan.
04 Maret 2019
Najwa Adinda
22 Januari 2019
Mereka itu tamu Allah
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh atas biaya orang lain alias gratis, entah karena memang dapat jatah dari kantor, dari komunitas, dari orang dermawan atau bahkan dari undian berhadiah.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena menjual asset, entah itu tanah, sawah, rumah kontrakan, kendaraan dan aset berharga lainnya.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena meminta diberangkatkan atau karena ‘menyelinap’ (numpang sana, numpang sini, sebrang sana, sebrang sini, hingga akhirnya sampai di tanah suci).
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena berhutang, atau memberi jaminan pada seseorang atau siapapun.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena menabung bertahun-tahun dan langsung membayar lunas saat jumlah uang telah mencukupi.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh lebih didahulukan daripada membeli rumah atau tempat tinggal yang layak.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena alasan apapun, toh mereka sampai tujuan dengan selamat, dan kembali dengan selamat pula, dan mudah-mudahan membawa pahala mabrur.
Apa yang kamu pusingkan dari alasan mereka sampai ke sana?
Apa yang kamu risaukan dari cara mereka?
Semua itu sudah ada dalam ketetapan-Nya
Dan mereka yang berangkat ke sana, yang kamu nyinyir karenanya, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, sakit hati atau malah bergembira, mereka itu adalah tamu Allah.
Lalu kamu sendiri bagaimana?
Apakah kamu sudah siap berangkat (lagi) kesana?
Dan kembali dengan membawa hati yang bersih tanpa nyinyir?
So, doakan saja agar mereka mabrur, dan bisa jadi teladan.
_
Mohon Maaf
Assalamu'alaykum, Di hari yang mulia ini Di hari yang telah lalu dan yang akan datang Mohon maaf atas segala salah dan khilaf Mohon maaf...
-
Syarat-syarat penyembelihan hewan kurban 1. Hewan kurban yang akan disembelih adalah milik sepenuhnya orang yang akan ber...
-
Awal waktu menyembelih hewan kurban Awal waktu menyembelih hewan kurban adalah setelah dilaksanakan shalat Idul Adha bagi orang-orang yang...
-
Ngomongin sabar tuh gampang banget. Apalagi kalau nasehatin orang supaya bersabar atas musibah yang sedang dialaminya. Kebanjiran, kebakar...