16 Juli 2019

Maklumin aja. Namanya juga anak kecil (2)


Adzan berkumandang. Jelas terdengar. Tapi masih aja santai diluar masjid/musholla. Sambil ngobrol pula. Seakan gak mau kalah sama suara adzan. Ada juga yang sambil ngudut. “lagi nanggung” katanya. Perlu ditegur. Diingatkan. Dengan cara baik dan santun tentunya. Serta penuh kehati-hatian. Biasanya orang kayak gini sensinya tinggi banget. Ibarat kata, ‘senggol dikit gw bacok’. Kalau ketemu yang kayak gini jangan ambil hati. Biar hati plong. Maklumin aja. Namanya juga anak kecil.

Didalam masjid/musholla, orang-orang pada sholat sunnah, nunggu iqomat, ehh masih aja ngobrol. Kalo pake “sssttt…” gak mempan, liat ke mukanya, trus senyumin aja. Biar hati plong. Maklumin aja. Namanya juga anak kecil.

Didalam masjid/musholla, orang-orang pada dzikir nunggu iqomat, ehh dia masih sibuk main hape. Bukan sekedar ketak-ketik, chatting, tapi sampe telponan. Biar hati plong. Maklumin aja. Namanya juga anak kecil.

Masih didalam masjid/musholla, iqomat sudah selesai dikumandangkan, imam udah nyuruh merapatkan shof, barisan. Ehh masih aja duduk bersila. Diam ditempat. Apakah mereka tidak tahu keutamaan berada di shof terdepan? Entahlah. Biar hati plong. Maklumin aja. Namanya juga anak kecil.

Maklumin anak kecil, yang benar-benar kecil, karena umurnya masih belum baligh, adalah suatu keharusan. Karena mereka dalam proses pembelajaran. Bisa jadi hari ini diberi tahu, besok sudah lupa dan perlu diberi tahu lagi. Itu mah sudah lumrah.

Maklumin anak kecil, yang sudah tidak kecil lagi, karena memang usianya sudah dewasa adalah suatu keharusan yang dipaksakan. Mereka bukan lagi dalam proses pembelajaran. Mereka dalam masa kebiasaan. Kebiasaan yang tidak patut di contoh oleh anak kecil beneran. Menasehati mereka itu ibarat orang yang takut ketinggian, lalu naik ke atap rumah tanpa tali pengaman, deg-degan, kaki gemetaran, keringat dingin bercucuran. Perlu strategi yang jitu dan pas. Salah-salah malah bisa jadi perseteruan hebat.

Kalau mau aman ya itu tadi, maklumin aja. Namanya juga anak kecil.



Maklumin aja. Namanya juga anak kecil (1)

15 Juli 2019

Maklumin aja. Namanya juga anak kecil (1)


Anak kecil. Kelakuannya aneh-aneh. Bisa juga diluar dugaan. Bisa salah. Bisa benar. Namun mereka selalu menganggap benar. Tidak ada yang salah. Dan tidak pernah salah. Karena bagi mereka tidak ada salah dan tidak ada benar. Mereka melakukan sesuka hati.

---

Diajarin tiap saat, tapi tetap mengulangi kesalahannya; yang sebenarnya dia tidak tahu kalau itu adalah sebuah kesalahan. Maklumin aja. Namanya juga anak kecil.

Dikasih tahu, tetap tidak mau tahu. Maunya tempe. Keukeuh ada pendiriannya. Jika pendiriannya memang berdasarkan nalar yang benar, ya bagus. Yang jadi masalah adalah ia tidak tahu kalau pendiriannya itu benar atau tidak benar. Kadang ketika kita koreksi atas pendiriannya yang tidak benar, ia manggut-manggut layaknya orang yang paham dan mengerti permasalahan, namun setelah itu ia tetap pada pendiriannya. Maklumin aja. Namanya juga anak kecil.

Hari ini kita tunjukkan sesuatu yang benar, dan syukur alhamdulillah ia bisa menjalankannya sepanjang hari ini. Besok lusa, kembali ke semula, bahkan ia tidak mampu mengingat apa yang pernah di ajarkannya. Maklumin aja. Namanya juga anak kecil.

Hari ini kita ajarkan sesuatu yang baru dan tentunya yang benar. Alhamdulillah ia memahaminya, dan selalu berbuat sesuatu yang benar ketika dihadapan kita. Ketika kita berpaling darinya, ia tidak melakukannya dengan benar. Maklumin aja. Namanya juga anak kecil.

Anak kecil punya dunianya sendiri, yang terkadang sulit dipahami oleh orang dewasa. Namun akan menjadi sesuatu yang membahagiakan dan menyenangkan hati adalah ketika kita sadar dan kita tahu bahwa mereka memang anak kecil, hingga tiada sakit hati dalam menghadapi tingkah lakunya.

Hati akan plong dalam menghadapi mereka ketika hati kita bisa selalu berucap, “Maklumin aja. Namanya juga anak kecil”


Maklumin aja. Namanya juga anak kecil (2)


12 Juli 2019

Your secret admirer


Posting tentang dakwah, dibilang sok suci, sok alim.
Posting tentang tausiah, dibilang “Ceramahin diri sendiri dulu sebelum ceramahin orang”
Posting tentang politik, cuma karena beda pilihan, ehh di serbu buzzer bayaran, di laporin, di banned.

Upload makanan gak boleh, katanya tidak ber-empati sama orang susah. Kasian kan mereka yang miskin, yang buat makan aja susah, ehh harus lihat postingan yang isinya makanan melulu. Hmmm, apa iya orang miskin yang buat makan aja susah terus bela-belain beli kuota buat liatin potingan orang-orang..?! mending duitnya buat beli makan kali ya.

Share lokasi wisata, dibilangnya pamer, sok kaya. Orang kaya aja gak gitu-gitu amat.
Share tempat sholat dibilang sok agamis.

Upload foto anak kecil, yang lagi lucu-lucunya, dibilangnya eksploitasi anak.
Upload foto anak yang udah agak gede-an, dibilangnya apalah gitu. Gak ngenakin.
Upload foto anak berprestasi, dibilang pamer.
Upload foto sendirian, selfi, dibilang “kesian deh, keluarganya aja gak ada yang mau foto bareng”
Upload foto bareng temen dibilang gak sayang sama keluarga.
Upload foto bareng anak dibilang “mamanya mana tuh, atau jangan-jangan……..?!”
Upload foto bareng keluarga, dibilang “keliatannya aja rukun, padahal mah belom tentu”
Upload foto bareng pasangan, dibilang “tumben-tumbenan, abis berantem yee?”; ada yang bilang “ciee…ciee.. biar dibilang sayang istri/suami ye?” atau ada juga yang lain bilang “ahh basi, kalau udah ketauan selingkuh, pasang deh poto mesra berduaan”

Trus… jadi ngapain dong.
Tutup akun ?! Salah juga.

Gak posting, di cariin,
Gak upload di tanyain,
Gak share di tungguin
Yaa gitu deh.

---

So guys, jangan berharap apa yang kamu lakukan dapat menyenangkan semua orang.

Percaya deh, mereka itu sebenarnya orang yang paling perhatian. Buktinya adalah apapun yang kamu lakukan, apapun yang kamu tulis, apapun yang kamu share, mereka selalu memperhatikan. Komentar mereka yang sepertinya terlihat kurang baik, sesungguhnya adalah bentuk perhatian yang berlebih dari mereka.

Mereka itu sebenarnya adalah your secret admirer



09 Juli 2019

“Sorry ya Bro, gw gak like"


“Sorry ya Bro, gw gak like”

Begitu personal chat yang dikirim oleh seorang teman, ketika postingan saya yang menurutnya agak keras. Biasanya tentang politik atau kritikan terhadap kelompok tertentu, atau tentang dakwah yang kontennya tidak meng-enakkan hatinya, padahal disertai dalil-dalil yang jelas yang sudah menjadi keputusan jumhur atau bisa jadi tentang sesuatu hal yang kalau dia berikan ‘like’ maka takut dianggap sebagai pendukungnya dimana komunitasnya atau orang-orang yang berada didekatnya adalah kelompok ‘semacam’ liberal yang maunya bebas berekspresi sesuai dengan kehendak hatinya.
Aneh memang.
Berada atau sudah terpengaruh dengan pemikiran liberal dimana kebebasan adalah jalan hidupnya namun membatasi kebebasan orang lain dalam berekspresi atau  menyampaikan pendapat.

Jujur ya pren, gw gak butuh banyak like.
Juga gak butuh banyak yang komen.
Udah kebaca aja sama orang lain udah bersyukur. Mudah-mudahan jadi ladang amal. Setidaknya sebenarnya itu juga yang jadi pemikiran banyak orang, dimana tidak banyak orang yang sanggup menyampaikannya dengan berbagai alasan.
Contohnya, postingan tentang elgebete. Secara naluri kita semua (sebagian besar dan lebih dari 99 persen) menolak hal itu, namun karena takut dibilang tidak toleran atau takut dianggap melanggar hak asasi, maka kita takut menyuarakan penolakannya bahkan untuk sekedar like aja gak berani. Disisi lain mereka takut banget kalau anak keturunannya ‘mengidap’ virus tersebut.
Saya cuma mau bilang, bahwa pilihan tersebut menjijikan. Yaitu pilihan untuk diam dalam masalah ini.

“Sorry ya Bro, gw gak butuh di like”

Tuhan 9 cm berkepala api


Puisi karya Taufik Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-‘ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini...

🌻Taufik Ismail 🌻
Edisi Copas From Group WA

16 April 2019

Kiyeu wae, ngenah...

“Maneh mah ulah hayang jadi Kyai, sok di pihukum ku batur. Kiyeu wae, ngenah”
Begitulah kata yang keluar dari lisan seorang Kyai pimpinan dan pengasuh pondok pesantren yang didirikannya di wilayah Bogor. Ketika itu saya baru beranjak dewasa, sudah makin kritis. 
Beliau adalah KH. Abdul Salam. Masih ada hubungan saudara. Saya memanggilnya dengan sebutan Kang Haji. Akang yang berarti kakak dalam bahasa Sunda. Ya, beliau adalah kakak saya, anak dari uwak saya.

“Kamu gak usah kepengen jadi Kyai, suka dijadikan hukum sama orang lain” begitu kira-kira artinya.
Dari penjelasannya yang panjang lebar, mengertilah saya apa yang dimaksudkan oleh Kang Haji. Seseorang yang ‘diberi’ gelar Kyai oleh masyarakat setempat, punya beban tanggungjawab yang sangat berat. Setiap gerak langkahnya akan ditiru oleh orang lain dan dijadikan dalil bagi orang lain untuk mengikutinya. Setiap ucapannya adalah bahasa hukum yang harus dipatuhi oleh orang lain. Dengan kata lain, menjadi seorang (yang diberi gelar) Kyai, haruslah menjadi sosok yang (paling tidak) sempurna. Wow berat juga ya Bro! Padahal sejatinya, manusia itu tidak luput dari kesalahan, tidak terkecuali seorang Kyai/Ulama. Satu saja khilaf yang dilakukan oleh seorang Kyai, dan diikuti oleh jamaahnya, maka sulit untuk kembali meluruskannya. Biasanya beliau melakukan klarifikasi pada jamaah yang rutin datang ke pengajiannya.

Lain halnya bila ada seseorang atau sekelompok orang yang memang tidak suka terhadap sosok Kyai atau Ulama. Kesalahan Kyai atau Ulama adalah senjata ampuh untuk menjatuhkannya. Bahkan mereka tidak peduli berita itu datangnya dari mana. Mereka mendengarkan bukan untuk menambah ilmu, namun untuk mencari celah kapan sang Kyai salah bicara. 
Bila ada orang yang menasehatinya untuk tidak menghujat, menghina ataupun menyudutkan Kyai atau Ulama, hanya karena (anggaplah) kesalahan yang tidak disengaja, maka mereka akan semakin membabi buta, dan dianggapnya kita (yang menasehati) sebagai fanatik buta.

Di ujung kalimat berbunyi, “.. Kiyeu wae, ngenah” Begini saja, enak. Artinya jadilah orang biasa saja. Bisa bebas melakukan apa saja, dan tentu saja dengan tetap tidak melanggar aturan, terutama aturan agama.
Begini saja, enak. Artinya juga, kita bisa masuk ke kalangan mana saja, berda’wah dengan cara apa saja, dengan bahasa apa saja, tidak perlu formil. Menjadi seorang Kyai punya keterbatasan dalam menyampaikan da’wah. Salah satu contoh kecil saja, jika ia berpapasan dengan seorang Muslimah tanpa hijab dijalan, dan Muslimah itu bertanya satu-dua persoalan, atau sekedar menyapa, dan seketika sang Kyai menjawab atau memberikan pencerahan, maka hal itu bisa menimbulkan salah pengertian bagi orang lain yang pada saat itu tidak berada dekat dengan mereka, yang pada akhirnya bisa menimbulkan fitnah. 

“.. Kiyeu wae, ngenah” Begini saja enak, tidak terbebani oleh keadaan apabila kita memberikan masukan pada orang lain. Kita bisa menggunakan bahasa mereka, gaya mereka, dan mereka yang mendengarnyapun dapat dengan nyaman berdiskusi, bahkan mengkritisi tanpa sungkan.

04 Maret 2019

Najwa Adinda


Dear Najwa,

Kebersamaan kita tak lama. Di usia 15 tahun, Allah Subhanahu Wa ta’ala telah memanggilmu, untuk memberikan tempat yang terbaik di sisi Nya. Tidak ada yang dapat merubah taqdirNya. Tidak ada yang dapat merubah ketetapanNya. Sungguh Allah Subhanahu Wa ta’ala lebih mengetahui yang terbaik bagi hambaNya. Juga bagi kamu.

Kebersamaan kamipun sesungguhnya fana. Hanya sesaat. Kami disini yang masih hidup di duniapun sebentar lagi akan kembali kepada Nya. Kami akan menyusulmu. Berkumpul bersamamu. Bersama umat Rosullulloh Shalallahu ‘alayhi Wasallam. Bersama dengan orang-orang yang di cintai Allah dan Rosul-Nya.

Najwa, kamu diwafatkan dalam husnul khotimah. InsyaAllah. Dan kami meyakini itu. Tidak ada sebutir dosa yang melekat padamu. Namun justru Rahmat dan kasih sayang Allah-lah yang menyertai hari-harimu. Surga adalah tempatmu. Doa-doa kami untuk mu akan mengangkat kamu ke derajat yang lebih tinggi lagi di Surga-Nya.

Najwaku,
Kami selalu bermohon kepada Allah Yang Maha Rahman, agar mengampuni dosa-dosa kami. Dosa dan kesalahan kami ketika bersamamu. Dosa dan kesalahan kami dalam merawat dan membesarkanmu.

Najwaku sayang,
Tangisan kami bukan untuk mu. Karena kepergianmu bukan untuk ditangisi. Kamu ahli Jannah.
Tangisan kami adalah untuk kami. Untuk dosa-dosa kami.
Karena kami tidak tahu, dimana kami akan diwafatkan, sedang apa ketika kami wafat, dan dalam keadaan apa kami wafat, amal apa yang akan ikut bersama kami ketika kami wafat, siapa yang akan selalu mendoakan kami disaat kami telah wafat.
Itulah sesungguhnya tangisan kami.
Tangisan kami adalah permohonan taubat kami kepada Allah Sang Maha Pengampun.
Semoga Allah mengampuni kami.

Najwaku,
Kami akan selalu bermunajat kepada Allah, agar Allah ridho pada kami, agar Allah mengijinkan Rosul-Nya memberikan syafa’at kepada kami kelak, dan kami menyakini bahwa kamu juga akan menjadi salah satu penyebab kami semua akan berkumpul di Surga-Nya

Faghfirlana Ya Allah.
Fainnahu laa yaghfirudz dzunuubana illa Anta.


Ajarkan anak-anak kita

Terkadang kita begitu pintarnya, begitu lihainya, begitu "gercep" nya ketika kita menyuruh anak orang lain untuk meminta maaf atas...