13 November 2017

Mati sebelum mati

Pernah dong denger istilah, jika orang tua kaya maka anak jadi raja, namun jika anak kaya maka orang tua jadi penjaga (baca : pembantu).
Gak salah sih istilah itu, karena kebanyakannya ya seperti itu, walau ada sebagian anak tetap memulyakan orangtuanya, apapun keadaannya.

Beberapa saat yang lalu saya mendengar cerita dari seorang teman baru saja ditinggal pergi ayahnya untuk selamanya. Usia ayahnya sudah cukup tua. Ia tinggal bersama istrinya, yang juga sudah tua. Lebih dari 80 tahun usianya. Usia dimana butuh perhatian lebih dari orang yang jauh lebih muda, yang lebih cekatan, yang lebih sigap, yang bisa menyediakan kebutuhan sehari-harinya. Namun sayangnya ke 5 anaknya semua berada jauh dari meraka. Anak-anak mereka tinggal di ibukota dan sekitarnya, sementara mereka berdua tinggal lebih dari 500 kilometer jaraknya.

Bagi saya, kisah meninggalnya sang ayah cukup memprihatinkan. Ketika itu sang ayah (atau mungkin tepatnya dipanggil kakek) merasakan sakit pada perutnya, lalu ia diantarkan oleh tetangganya untuk berobat bukan oleh anak-anaknya. Hari berikutnya sang ayah berbaring. Namun karena di rasa cukup lama berbaring, tetangganyapun membangunkannya, namun tidak juga bangun. Itulah pembaringan terakhirnya. 
Miris, bahkan tetangganya pun tidak tahu kepergiannya. Sang anakpun tidak lagi dapat melihat wajah ayahnya, walau untuk yang terakhir kali, karena mereka (anak-anaknya) tiba setelah ayah meraka dikuburkan.

Kini tinggal sang ibu, yang hidup seorang diri. Bisa jadi sang ibulah yang 'diharapkan' pergi lebih dulu, karena memang sedang sakit. Namun Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Anak-anaknya yang diharapkan dapat menemaninya ketika sudah tua, semuanya sibuk dengan urusannya (keluarganya) masing-masing. Seperti kebanyakan orang, meraka (anak-anaknya) berdalih bahwa mereka sibuk, mereka sudah punya kehidupan masing-masing, mereka tidak setiap saat bisa menemani, apalagi sang ibu tidak mau meninggalkan kampung halamannya. Bisa jadi mereka lupa, bagaimana perjuangan orang tua membesarkan mereka, bagaimana pengorbanan mereka ketika anak-anaknya masih menjadi tanggungannya, bagaimana mereka meluangkan waktu hanya demi anak-anaknya, dan bagaimana mereka (kedua orangtua) mengijinkan anaknya untuk merantau dengan iringan doa dan harapan agar anak-anaknya sukses. Kini walau mungkin belum terbilang sukses, namun sudah bisa mandiri, sang anak enggan bersama ibunya. Mereka semua hanya menunggu kabar kematiannya.

Ketahuilah wahai sang anak, keadaan ibumu kini seakan sudah mati sebelum mati yang sebenarnya. Ketika saatnya (kematian yang sebenarnya) tiba, jangankan memandikannya, menguburkannyapun kalian tidak sempat. Hanya gundukan tanah yang kalian tangisi. Itupun mungkin hanya sesaat. Selanjutnya kalian berembuk untuk membagi-bagikan harta peninggalannya.

Semoga kalian tidak bernasib sama.

_

Ngomongin Rina Nose

Hadeeuuhh...
Gagal paham saya sama omongan neng Rina nose, tentang keputusannya untuk kembali membuka aurat (menanggalkan jilbabnya).

Sempet sedikit kagum ketika dia memutuskan untuk berhijab ketika berada dipuncak karir, walaupun mungkin dia sendiri merasa belum mencapai puncak. Biasa deh, namanya juga manusia, ga ada puasnya.

Adalah bagian dari dakwah atau syiar ketika kita berada dalam posisi atas, posisi populer, atau kalau di dunia kerja menduduki posisi jabatan yang strategis yang mungkin cukup sulit untuk mencari penggantinya, untuk mengamalkan ajaran agama, salah satunya adalah dengan berhijab bagi wanita. Karena ia akan menjadi icon, ia akan menjadi contoh, ia akan menjadi tauladan, ia memiliki banyak follower, yang tentunya akan ditiru banyak orang, yang insyaAllah, akan menjadi ladang pahala karena banyak yang mengikutinya. Apapun gerak-gerik kita, maka akan menjadi trend, akan menjadi acuan untuk diikuti. Ucapan pun demikian. Bahkan gaya bicarapun bisa jadi akan di tiru oleh para penggemar. Apapun itu, maka bisa jadi akan jadi 'kiblat' bagi mereka yang mengidolakannya. 

Bukan saja sesuatu hal yang baik dan benar menurut tuntunan agama, hal yang bertentangan dengan agamapun akan diikuti oleh mereka yang fanatik buta mengidolakannya. Nah disini sumber malapetaka bagi sang idola. 
Loh kenapa demikian ?! Ya jelas lah.... jika ia melakukan sesuatu yang melanggar secara jelas aturan agama dan diikuti oleh orang lain atas alasan yang diutarakannya, maka ia menjadi penyebab kesalahan orang lain, dan konsekwensinya, iapun akan menerima dosa atas apa yang dilakukan dan diikuti oleh penggemarnya. Rina Nose, misalnya, ketika ia kembali memutuskan untuk membuka hijabnya, lalu berputar-putar menyusun kata dan kalimat pembenaran atas sikapnya tanpa menghiraukan lagi ajaran agama yang dianutnya, mencari-cari dalih untuk membenarkan keputusannya dan lain-lain, maka disaat itu disampaikan diruang publik dan menyebar keseluruh jagad, maka disaat itu pula ketika penggemar 'buta' nya mengikuti dan beramai-ramai membuka hijab karena menganggap benar apa yang disampaikannya, maka ia menanggung setiap dosa dari mereka, dan mereka pun tak terlepas dari dosa karena kebodohannya.

Sadarlah diri siapa kita.
Ketika banyak orang yang hanya bisa 'bersandar' pada kita karena kepopuleran kita, ketika banyak orang akan selalu mengikuti kemana langkah kita, jadilah manusia bijak, bersikap dan bertingkahlakulah yang akan membawa manfaat dan tabungan amal buat dirikita, bukan sebaliknya.

Siapapun kita, ketika kita tidak bisa menjalankan semua aturan agama, maka jalankan apa yang bisa diamalkan, dan diamlah apa yang belum bisa diamalkan. Bicaramu pada suatu urusan agama yang kamu belum bisa mengamalkannya sesungguhnya adalah bentuk 'protes' atas aturan Allah. Apa bedanya kamu dengan iblis, yang ketika Allah perintahkan untuk bersujud (memberi penghormatan) kepada Nabi Adam, iapun menolak melakukannya dan memberikan argumen untuk membenarkan pendapatnya.

_

07 November 2017

Obat dan Doa

Saya pernah ngasih tahu ke orang yang sedang sakit, bahwa obat itu ada 2. Ini sih hasil analisa saya sendiri, bisa benar, bisa juga salah. Harap maklum deh.
Yang 2 ini bukanlah jenis obatnya atau khasiatnya. Yang saya maksudkan ada 2 itu adalah caranya, ikhtiarnya. Yang pertama adalah melalui jalan medis yaitu bisa lewat dokter, tabib, ahli medis, orang yang punya kemampuan mengobati walaupun ia bukan seorang dokter, bisa melalui obat herbal, obat warung, obat racikan sendiri, jamu-jamuan dan lain-lain. Yang kedua adalah non medis. Saya menyimpulkan non medis ini adalah pengobatan yang tidak membutuhkan apapun sebagai medianya seperti obat, jamu, herbal dll. tetapi doa. Kekuatan doa dan keyakinan yang membacanya menjadikan ia sebagai obat yang sangat ampuh. Bisa mengobati berbagai macam penyakit, yang oleh kalangan medis sudah tidak sanggup lagi.

Pernah kan mendengar dokter, ketika segala upaya pengobatan yang dilakukan namun belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan lalu ia menyarankan agar pasien atau keluarga pasien untuk membantunya dengan doa, bahkan terkadang ia berkata, "hanya doa yang bisa menyembuhkannya".
Itu artinya doa juga merupakan media atau sarana untuk suatu kesembuhan.

Kalau secara medis kita bisa pergi ke dokter atau ahli medis lainnya, maka dengan doa, bisa kita lakukan sendiri, atau meminta orang lain ikut mendoakan, atau kita bisa datang kepada orang yang kita anggap sholeh untuk mendoakan kita, insyaAllah penyakit kita akan disembuhkan.

So... jangan hanya bergantung sama dokter atau ahli medis. Diperika atau diberi obat oleh dokter atau ahli medis sih boleh-boleh saja, tapi yang memberi kesembuhan bukanlah obatnya atau karena dokternya, tapi Kuasa Allah-lah dibalik itu semua. Dia-lah yang Maha Berkehendak.
Hanya kepada Dia (Allah) kita serahkan segala sesuatu, termasuk meminta kesembuhan dari-Nya.

_

Yuk, kembali sehat

Suka sedih kalo ngedenger ada yang sakit. Entah itu istri, anak atau saudara, bahkan teman. Apalagi kalau sakitnya parah. Sakit yang bikin si penderita tidak ada dan upaya alias tubuhnya lunglai. Ia hanya bisa berbaring. Tidak banyak aktifitas yang bisa dilakukan kecuali berdoa semoga segera diberi kesembuhan. 

Ada juga orang yang nampak sehat atau biasa-biasa saja, padahal ia sedang mengidap penyakit. Hanya saja tubuhnya masih terlihat tegar atau mampu untuk bergerak dan menjalankan aktifitasnya walau agak terbatas.

Ketika kita sedang sakit, disaat itu kita betul-betul paham bahwa sehat itu adalah segalanya. Banyak aktifitas yang bisa kita lakukan ketika sehat dan bugar, termasuk ibadah. Selama ini kita hanya tau kalau sehat itu adalah segalanya, namun hanya sekedar tau saja, tidak lebih, dan menjadi paham ketika sakit 'menyerang'.

Ketika kita sedang sakit, kadang terlintas begitu banyak hal yang belum kita kerjakan, hingga kita berhayal, agar apabila diberi kesehatan segala sesuatu yang tertunda akan segera dikerjakan.
Masih mending saya pakai kata "berhayal" daripada saya pakai kata "berhalusinasi".
Memang biasanya demikian. Ada beberapa orang, yang kalau sedang sakit itu suka berhayal, jikalau aku sehat, aku akan melakukan semua yang bisa dilakukan. 

Satu hal yang menarik (saya katakan menarik, karena memang ini agak unik sehingga jadi menarik) adalah ketika kita sedang sakit, kita dapat menyaksikan sekitar kita, teman kita, sahabat kita, saudara kita, pasangan kita bahkan anak-anak kita, mereka 'berubah menjadi (bagaikan) seorang dokter', perhatian mereka terhadap kita yang sedang sakit, menjadikan mereka 'prihatin', sehingga pengalaman yang mereka dapat di jadikan sebagai solusi untuk menyembuhkan penyakit yang sedang kita derita. Tidak sedikit saran mereka adalah pemaksaan bagi kita. Tidak jarang juga justru merekalah yang 'memaksa' kita untuk mendatangi dokter anu, untuk melakukan terapi anu, untuk pergi ke alternatif si anu dan anu dan banyak yang lainnya. Itu dilakukan tidak lain hanya kepedulian mereka yang begitu besar terhadap kita (yang sedang sakit).

Menjadi sehat adalah impian dan harapan setiap orang. 
Namun jika sakit menyerang, ia tidak peduli pada siapa ia datang.
Sabar adalah (salah satu) obat yang paling mujarab.
Sabarmu terhadap sakitmu adalah penggugur dosa-dosamu. InsyaAllah

Yuk, kembali sehat.
Dan wujudkan setiap impian.
_


31 Oktober 2017

Yang sabar ya...

Ngomongin sabar tuh gampang banget. 
Apalagi kalau nasehatin orang supaya bersabar atas musibah yang sedang dialaminya. Kebanjiran, kebakaran, kehilangan harta, musibah kematian dan lain-lain. Pokoknya segala sesuatu yang menyebabkan si korban merasa dirugikan atas kejadian tersebut. (Merasa dirugikan ?! aneh juga kalimat ini, tapi biarkanlah dulu jangan dibahas kalimat ini, bisa panjang lebar penjelasannya).

Cara menghadapi musibahpun tiap orang macem-macem, ada yang marah-marah gak karuan juntrungannya, ada ngedumel sepanjang masa, ada yang nyeritain ke semua orang yang ditemuinya, ada yang mengulang-ulang cerita padahal bisa jadi yang mendengar udah bosan dengerinnya, ada yang cuma curhat dalam bentuk tulisan lalu diupload ke media sosial, selain itu juga ada yang sepertinya terlihat bahagia atas kejadian yang dialaminya, buktinya masih bisa selfi, jeprat-jepret pake kamera canggihnya dengan senyum sumringah walau dengan latar belakang banjir, kebakaran dll. Ada yang diam saja termangu seakan ada yang disesalkan, ada pula yang sampai stress atau histeris berhari-hari, ada juga yang tertunduk pasrah, entah karena memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan atau mengingat akan dosa-dosa yang telah lewat atau apalah, hanya dia yang benar-benar tau kenapa tertunduk pasrah. (atau mungkin dia juga tidak tau kenapa ia tertunduk, termenung, diam termangu dan pasrah ... ?!), ada yang beristighfar, berzikir tak henti-hentinya merasa kalau musibah yang sedang dialaminya adalah berupa teguran atau mungkin sebagai penggugur dosa-dosanya atau sebagai pembersih hartanya, ada pula yang sibuk menyalahkan berbagai pihak hingga menyalahkan Yang Maha Berkehendak. 

Apapun ekspresinya, yaa itulah manusia. Bisa bermacam-macam.

Kita-kita yang tidak sedang mengalami hal tersebut dengan lincahnya lidah ini berucap, "yang sabar ya..."
Tapi memang itu yang bisa diucapkan dan harus diucapkan. Tidak ada kata lain yang tepat untuk menenangkan orang yang sedang kena musibah selain mengajak dan mengarahkannya untuk tenang dan bersabar. 
Ada hikmah dibalik musibah. Kalimat ini bisa jadi akan diterima dengan senang hati oleh yang mendengar apabila hatinya lapang, sebaliknya bisa jadi ketika orang yang kena musibah disuruh untuk bersabar dan mengambil hikmah atas kejadian tersebut, malah ia semakin 'meronta-ronta' gak jelas alias tidak senang dinasehati. Mungkin senangnya kalau langsung diberi 'ganti rugi' atau tidak perlu ada musibah.

Ketika musibah itu benar-benar sudah terjadi, mau tidak mau, senang tidak senang, yaa harus diterima. Karena itu sudah takdir. Udah kejadian.
Arahkan hati untuk bersabar menerima kenyataan. Dengan atau tanpa oranglain menyuruhmu untuk bersabar. 
Apakah orang lain yang menyuruhmu untuk bersabar bisa bersabar seperti nasehatnya kepada orang lain ketika ia di timpa musibah ? Bisa iya bisa tidak.

Keberuntungan besar adalah sebelum orang-orang berkata agar kita bersabar, kita telah terlebih dahulu bersabar.

"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar"

_






30 Oktober 2017

Pinjami

Tau nggak, perjuangan untuk meminjam uang itu luar biasa loh. Setidaknya ini untuk pemula. Buat mereka yang gak pernah pinjam uang. Juga buat mereka yang agak sensitif dengan perasaannya alias baperan. 
Ia harus mempersiapkan segala kekuatan yang ada pada dirinya untuk berani meminjam.
Ia pertaruhkan rasa malunya. Tertunduk pasrah dengan debaran jantung yang berdegub super kencang ketika ingin mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya. Nggak kalah sama bujang yang mau nembak gacoannya. 
Bagai seorang penulis, ia berpikir keras hal-hal yang perlu disampaikan, hal mana yang seharusnya pertama kali diutarakan, mana yang menjadi poin-nya, dan hal mana yang akan dijadikan sebagai penutup. Sama halnya untuk memulai usaha atau suatu kegiatan, START adalah kata yang mudah di ucapkan namun sulit diaplikasikan. Berbagai teori dikumpulkan. Berharap semua berjalan sesuai dengan rencana. Contingency plan juga dipersiapkan. Jika sesuatu terjadi tidak sesuai rencana apa yang mesti dilakukan. Malu, sudah bisa dipastikan, namun gimana caranya agar malu itu tidak tampak. Masih punya ego juga rupanya. 
Hal lain yang jadi pertimbangan adalah waktu. Ia merasa diri harus mencari tahu kapan waktu yang tepat. Bahkan sampai 'menyelidiki' apa yang sedang dirasakan sasarannya. Apakah ia sedang happy atau sedang murung, apakah ia orangnya moody-an atau biasa-biasa saja. Semua penuh pertimbangan. Hanya untuk sebuah tujuan, sukses meminjam.

Memang tidak semua orang seperti yang saya ceritakan diatas, tapi setidaknya ada beberapa jenis orang yang seperti itu. Jika tidak benar-benar kepepet, ia tidak akan pernah berani meminjam, bahkan ia lebih rela menjual harta benda yang dimiliki walau dengan harga yang sangat murah. Bahkan ketika dipinjami-pun, ia rela meninipkan barangnya sebagai jaminan.

Adalagi yang melakukannya dengan teknik bercanda artinya ia coba meminjam dengan cara guyonan agar tidak terlihat malu ketika tujuan tidak tercapai. Setidaknya ia bisa bernafas lega keluar dari arena yang 'menegangkan'.

So... pinjami siapapun yang mau meminjam. 
Walau kamu tidak mengenal dekat kepribadiannya.
Mereka meminjam itu karena memang butuh.
Butuh meminjam.
Setidaknya, mereka telah berjuang 'membunuh' ego mereka dihadapanmu.
Pinjami, jika memang kamu bisa meminjami.
Pinjami, jika memang ada yang bisa dipinjam.
Pinjami, dan ia bisa jadi bagian dari amalmu.
Pinjami.... Mudah-mudahan Allah merahmatimu.

_


27 Oktober 2017

Bro & Sis... segera lunasi hutangmu !

Kalo ngomongin tentang hutang, macem-macem deh komentarnya. Ada yang jadi keinget sama utangannya ke orang laen yang gak dibayar-bayar, begitu ngedenger tentang bahasan hutang semangatnya luar biasa, semangat nanya sampai-sampai yang laen gak diberi kesempatan buat nanya. Ada yang malah sengaja ngabur kalo ada bahasan tentang hutang, karena banyak hutangnya dan gak ada niatan buat ngebayar, ada yang 'bisnis'nya memang mencari hutangan, bayar hutang dengan hutang alias gali lobang tutup lobang, padahal kalo dibayar lunas juga masih mampu artinya gak bikin dia melarat dan kelaparan. Ada juga yang memang bener-bener mau bayar tuh hutang tapi kebutuhan hidupnya begitu besar sehingga menomorduakan bayar hutang yang pada akhirnya menjadi semakin lama dan menjadikan kesan tidak ada niatan buat bayar atau dianggap selalu menghindar. Macem-macem deh...

Hutang itu harus dibayar, semua orang tahu dan pastinya setuju. Karena memang gitu seharusnya. Cuma masalahnya, ketika hutang itu telah terjadi, masing-masing penghutang punya sikap dan prilaku yang berbeda antara satu dan lainnya. Ada orang yang setelah ngutang, mengganjal dihatinya dan merasa was-was kalau-kalau hutangnya tidak bisa dibayarkan tepat waktunya sesuai janjinya atau was-was kalau-kalau si piutang malah punya kebutuhan mendesak sehingga harus menagih sebelum waktunya. Ada yang nyantai aja seakan-akan tidak ada beban. Bisa jadi karena nilai hutangannya kecil, atau bisa juga karena nganggap remeh sama si peminjam artinya dia merasa gak bakalan ditagih hanya karena si peminjam basa-basi "Udah nanti aja bayarnya kalau udah ada uang".
Hutang ya tetap hutang. Jadi harus dibayar sesuai janji walau tidak ditagih (diingatkan). Beda sama minta.
Yang parah adalah hutang dan minta dicampur aduk. Karena keseringan minta, untuk menutupi rasa malunya maka bilangnya hutang berharap si peminjam akan berkata "Ambil aja, gausah pake ngutang segala". Biasanya ini terjadi sama saudara kandung atau teman akrab. 

Sekali lagi, hutang itu harus dibayar. Gak pake tapi.
Kalau memang belum bisa bayar dan waktu pembayarannya telah lewat, segera hubungi si peminjam agar bisa diberikan waktu tambahan. Setidaknya informasikan kalau hutangnya belum bisa dibayar. Bukan malah jadi musuhan. Apalagi sampe ngamuk-ngamuk ketika ditagih, kayak udah amnesia gimana waktu minjamnya dulu.
Saking wajibnya bayar hutang, jual apa yang bisa dijual buat bayar hutang. Jangan bikin sipeminjam bertanya-tanya, beli ini itu mampu, tapi hutang diabaikan.

Perlu diketahui, Nabi aja sampe nggak mau mensholatkan jenazah yang masih memiliki hutang kalau belum ada yang menyatakan menanggung hutang si jenazah. Apa gak serem tuh.

So... Bro & Sis... segera lunasi hutangmu !

_

Mohon Maaf

Assalamu'alaykum, Di hari yang mulia ini Di hari yang telah lalu dan yang akan datang Mohon maaf atas segala salah dan khilaf Mohon maaf...