Pernah sakit ?
Pernah dirawat di rumah sakit, atau bed rest di rumah?
Berapa lama ?
Sakit apa ?
Apa yang dirasakan waktu itu ? Demam ? letih ? lemah ? gak bisa bangun ? loyo ? atau memang cuma saran dokter aja supaya beristirahat dan tidak banyak aktifitas padahal masih bisa ?
Banyak dari kita yang pernah mengalamai sakit hingga harus meninggalkan aktifitas rutin. Ada yang harus dirawat di rumah sakit, ada yang dirawat dirumah alias berobat jalan, dan ada yang masih tetap bekerja dengan kondisi yang lemah dikarenakan tuntutan pekerjaan yang mengharuskan kehadirannya.
Namanya juga orang sakit, tentunya memang ada yang dirasakan tidak beres pada tubuhnya, entah itu demam, nyeri atau memang ada penyakit yang mengharuskan si penderita berbaring, beristirahat dan fokus pada pemulihan penyakit yang dideritanya.
Apa yang dirasakan ketika sakit, saya tidak sedang bicara tentang fisik, tetapi rasa yang ada di hati atau pikiran.
Saya ulangi, apa yang dirasakan ketika sakit, hendak buru-buru sembuhkah, sehingga merasa bahwa sehat adalah segalanya atau justru malah mengeluh.
Sebagian orang ketika di beri sakit, ia mengeluh, sebagian lain menghujat mengapa dirinya yang sakit padahal ia telah dengan seksama menjaga kesehatan, entah itu dengan berolahraga secara rutin, mengkonsumsi makanan yang bergizi, berada di lingkungan yang bersih dan higienis atau juga mengkonsumsi suplemen. Ada juga yang pasrah atas derita sakitnya.
Bagi beberapa orang, sakit adalah sarana untuk introspeksi diri. Banyak yang diingat ketika sakit, banyak harapan yang ingin diwujudkan, banyak janji yang diikrarkan bahkan ada yang bernazar ini dan itu apabila diberi kesembuhan.
Namun tidak sedikit yang justru lalai akan janji-janjinya ketika ia sudah sembuh.
Yang tadinya ingin melakukan ini dan itu, setelah sembuh ini dan itu yang di janjikan ditunda bahkan diabaikan.
Sakit adalah taubat. Itulah mengapa ketika sakit dihadapi dengan sabar, maka ia akan jadi penggugur dosa.
Perbanyaklah mengingat sakit.
Perbanyaklah mengingat akan datangnya kematian.
_
Artikel yang dimuat dihalaman ini bisa berupa apa saja, dari motivasi diri sampai perbaikan akhlaq. Saya hanya berupaya untuk bisa sharing ke semua orang tanpa terkecuali, dan saya mengharapkan feed back yang positif, karena sesungguhnya motivasi diri dan perbaikan akhlaq yang dimaksud adalah lebih dikhususkan utk diri saya sendiri dan keluarga dan mudah2an bisa bermanfaat utk siapa saja tanpa bermaksud menasehati apalagi mengurui. Opps... ada juga yang copas. Afwan*
06 Oktober 2017
04 Oktober 2017
Tambah umur
Harusnya tambah umur itu tambah bijak. Setidaknya dalam bertutur, bersikap atau dalam hal apapun. Masa-masa lebay bin alay kan sudah dilalui dulu, agak kurang pantas jika itu masih dilakukan di usia yang seharusnya banyak zikir, dan muhasabah diri atau setidaknya tahan diri dari bersikap 'kekanak-kanakan' hanya karena ingin dianggap gaul.
Jika berpikiran bahwa "biar sudah tua yang penting jiwa muda" lalu di ekspresikan dengan tingkah polah tidak sesuai umur, kayaknya justru malah terlihat norak. Artikan kata "jiwa muda" dengan semangat yang masih tetap muda, masih berinovasi layaknya anak muda, namun bukan sikap dan tingkah laku atau candaan yang malah seakan-akan telah datang masa-masa kearah kepikunan alias kembali menjadi anak-anak yang susah di kontrol, semaunya dewek (semaunya sendiri), dan cepat tersinggung ketika diberi masukan atau nasehat.
Ada batasan-batasan yang harusnya dipatuhi oleh orang yang sudah tidak muda lagi, bukan sekedar jaim alias jaga imej, tapi lebih menunjukkan bahwa semakin bertambah usia maka bertambah pula akhlaq baiknya sehingga bisa jadi teladan.
Candaan dalam bentuk tulisan harus lebih diperhatikan dampaknya, salah-salah bisa menyebabkan yang membaca menjadi salah tafsir. Apalagi jika dibaca oleh orang lain (sebut saja anak kecil) yang tidak mengetahui secara jelas prilaku dan kebiasaan si penulis.
Bisa jadi dulu kita banyak salah atau setidaknya pernah berbuat salah, bukan berarti kita sekonyong-konyong mentolelir perbuatan salah orang lain.
Bisa jadi dulu kita memang supel, ceriwis, tukang ngebanyol, bukan berarti hingga tua sikap itu dipertahankan lalu seenaknya ngocol tanpa arah dan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.
Bisa jadi dulu kita jailnya gak ketulungan, bukan berarti itu terus berlanjut.
Saya mengingatkan diri sendiri, semakin bertambah usia, maka semakin bertambah dekat pada akhir usia.
Semoga kita semua kembali dalam husnul khotimah dan dikenang sebagai manusia yang berahlaq baik.
_
Jika berpikiran bahwa "biar sudah tua yang penting jiwa muda" lalu di ekspresikan dengan tingkah polah tidak sesuai umur, kayaknya justru malah terlihat norak. Artikan kata "jiwa muda" dengan semangat yang masih tetap muda, masih berinovasi layaknya anak muda, namun bukan sikap dan tingkah laku atau candaan yang malah seakan-akan telah datang masa-masa kearah kepikunan alias kembali menjadi anak-anak yang susah di kontrol, semaunya dewek (semaunya sendiri), dan cepat tersinggung ketika diberi masukan atau nasehat.
Ada batasan-batasan yang harusnya dipatuhi oleh orang yang sudah tidak muda lagi, bukan sekedar jaim alias jaga imej, tapi lebih menunjukkan bahwa semakin bertambah usia maka bertambah pula akhlaq baiknya sehingga bisa jadi teladan.
Candaan dalam bentuk tulisan harus lebih diperhatikan dampaknya, salah-salah bisa menyebabkan yang membaca menjadi salah tafsir. Apalagi jika dibaca oleh orang lain (sebut saja anak kecil) yang tidak mengetahui secara jelas prilaku dan kebiasaan si penulis.
Bisa jadi dulu kita banyak salah atau setidaknya pernah berbuat salah, bukan berarti kita sekonyong-konyong mentolelir perbuatan salah orang lain.
Bisa jadi dulu kita memang supel, ceriwis, tukang ngebanyol, bukan berarti hingga tua sikap itu dipertahankan lalu seenaknya ngocol tanpa arah dan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.
Bisa jadi dulu kita jailnya gak ketulungan, bukan berarti itu terus berlanjut.
Saya mengingatkan diri sendiri, semakin bertambah usia, maka semakin bertambah dekat pada akhir usia.
Semoga kita semua kembali dalam husnul khotimah dan dikenang sebagai manusia yang berahlaq baik.
_
29 September 2017
Parfum
Dibilang tumben juga nggak sih. Cuma pagi ini cukup sering nyium aroma minyak wangi atau parfum orang lain. Dalam perjalanan ke kantor aja bisa lebih dari 3 kali nyium aroma minyak wangi orang lain. Tepatnya sih dari pengendara motor atau yang di boncengin. Sampe segitunya pake minyak wangi, begitu disalip itu aromanya langsung menyebar sepanjang jalan. Maksud hati menjauh dari motor yang tadi nyalip, ehh taunya adalagi pengendara motor lainnya yang menabur wewangian yang luar biasa menyengat. Aromanya beda dari sebelumnya, tapi sama-sama menyengat. Bisa jadi cara nyemprot minyaknya sama seperti nyemprot nyamuk. Aromanya ngambreng (menyebar) kemana-mana. Trus apa begitu sampe kantor selamat dari aroma yang menyengat itu ? Nggak tuh!.
Mereka yang pakai minyak wangi segitu banyak punya motivasi yang berbeda-beda, ada yang mau pamer, ada yang mau nutupin bau badannya, ada juga yang cari-cari perhatian, ada juga yang mungkin kesiangan, trus nggak sempet mandi, makanya di semprotlah seluruh badan dan pakaiannya sama minyak wangi. Macem-macem deh pokoknya.
Tapi dia lupa bahwa tidak semua orang suka sama minyak wangi. Bukan norak, tapi emang dasarnya gak suka. Lagian kan orang lain juga punya hak menghirup udara segar tanpa minyak wangi. Opps... jangan pake alesan mending bau minyak wangi dari pada bau asap rokok atau ngasih pilihan mending bau minyak wangi apa bau sampah atau asap knalpot. Heei.... saya lagi ngomongin minyak wangi, bukan ngomongin yang laen. Fokus dong !. Selain itu juga tidak semua orang suka aroma minyak wangi yang kita pakai. Itulah mengapa aroma minyak wangi itu beda-beda, biar bisa dipilih sama yang mau pakai minyak wangi. Dari sini harusnya ngerti, kalau selera orang akan minyak wangi beda-beda. Jadi sarannya sih, boleh pakai tapi jangan berlebihan, apalagi sampai bikin orang lain eneg. Emang sih gak ada (setidaknya saya blom ngeliat) orang laen muntah di depan kamu gara-gara minyak wangi yang kamu pakai. Mereka diam cuma gak mau ribut kok. Dan akhirnya bukannya perhatian yang didapet, malah cemo-ohan, makian, hujatan dlsbg, tapi gak didepan muka. Gausah deh saya ngomongin pake dalil agama, takutnya malah bikin kamu-kamu jadi ingkar karena saking cintanya sama minyak wangi. Tapi kalau penasaran aturan main pake minyak wangi, browsing aja, banyak kok diinternet. Kalau buat main game online, atau download aplikasi atau nonton streaming aja bisa, masa sih cuma nyempetin baca artikel tentang minyak wangi yang gak lebih dari 5 menit alesannya gak ada paket.
Bisa kan ?!
_
27 September 2017
Optimistic
Wahai jiwa yang rapuh
Lupakan masa lalu
Jangan berharap dia beri waktu
Tuk sembuhkan jiwa yang beku
Walau ia datang bertubi-tubi bertalu-talu
Enyahkan dan biarkan ia membatu
Walau bagai tersayat sembilu
Karena .. sungguh ia telah berlalu
Wahai jiwa yang rapuh
Bukalah topengmu
yang menghalangi pandanganmu
yang mengacaukan oranglain terhadapmu
'tuk jadi dirimu
Agar tak selalu membisu
Bukalah topengmu
yang menghalangi pandanganmu
yang mengacaukan oranglain terhadapmu
'tuk jadi dirimu
Agar tak selalu membisu
Wahai jiwa yang rapuh
Bangkitlah !
Mohonkan pada Yang Kuasa
Tuk hadirkan damai dalam dada
Dan hilangkan semua sesak dan luka
Agar tak terasa lagi menyiksa
Walau sungguh berat terasa
Tapi ia akan segera sirna
Wahai jiwa yang rapuh
Jadilah kau utuh
_
Wahai jiwa yang rapuh
Jadilah kau utuh
_
25 September 2017
Riya Versus Hasad
1. "Kalau udah sholat tahajjud rasanya tenang deh"
2. "Sholat kok dipamer-pamerin, riya tuh namanya, gak ada pahalanya alias sia-sia"
1. "Baru mendarat di Jeddah nih, siap-siap menuju Baitullah"
2. "Baru umroh aja udah sombong, saya yang udah haji aja gak begitu"
1. "MasyaAllah, Ka'bah itu ternyata megah sekali. Terharu ðŸ˜ðŸ˜" sambil jeprat-jepret.
2. "Katanya ibadah, kok selfi melulu"
1. "Dinner yang tertunda @10pm" sambil jepret makanan satu meja penuh.
2. "Ngapain sih foto-foto makanan segala. Kasihan tuh yang kere yang belom makan seharian kalau ngeliat makanan sebanyak dan semahal itu. Punya empati dikit lah.."
1. "Anakku lucu deh, pinter pula"
2. "Anak kecil kok di ekspos. kasihan kan"
1. "Akhirnya selesai juga resep baruku hari ini"
2. "Baru belajar masak ya jeng?"
1. "Alhamdulillah sudah khatam"
2. "baru khatam aja udah diumumin, saya yang sering khatam aja biasa aja tuh"
1. "ini namanya tembok raksasa @China"
2. "Kalo saya mah mending ke Mekah dulu daripada ke negara laen"
1. "Alhamdulillah sekarang sudah punya mobil"
2. "Dasar OKB"
1. "Ayoo bangun. sebentar lagi sholat subuh" waktu menunjukkan pukul 4.00 wib
2. "Biar dibilang rajin ya pak. Saya yang tiap malam bangun jam setengah empat gak pake pengumuman tuh"
1. "Mudah-mudahan di ijabah"
2. "Doa kok di medsos sih. Aneh"
1. "Berbagi kebahagiaan itu menentramkan hati @pantiAsuhan"
2. "Sedekah itu tangan kanan memberi tangan kiri tidak tahu"
-------
Apakah benar nomor 1 itu adalah perbuatan riya ?
Ataukah nomor 2 saja yang dengki ?!
Riya itu pamer
Hasad itu bisa berarti iri atau dengki
Dua-duanya gak bagus
Biasanya riya dikaitkan dengan suatu perbuatan, aktifitas atau sejenisnya dengan berharap dapat sanjungan, pujian atau setidaknya mengharapkan perhatian dari orang lain.
Tapi.... tidak semua perbuatan atau aktifitas yang mendapatkan perhatian dan sanjungan orang lain itu lalu dianggap sebagai perbuatan riya.
Hasad. Penyakit hati. iri atau dengki. Biasanya menyangkut dengan orang lain. Tidak ingin orang lain mendapat nikmat, tidak ingin disaingi orang lain, merasa diri lebih berhak atau lebih hebat daripada orang lain, dll.
Keduanya penyakit hati.
--
Bro and Sis,
Namanya juga medsos, suka-suka mereka lah.
Ada yang memanfaatkan untuk dakwah, mengajak orang lain untuk berbuat baik, berbagi kebahagiaan atau sekedar mengingatkan untuk tetap istiqomah dalam kebaikan.
Ada yang memanfaatkan untuk upload foto-foto selfi, atau foto-foto makanan atau masakan.
Ada yang memanfaatkan untuk promosi produk, jualan, aneka bisnis.
Ada yang hanya sekedar liat-liat saja.
Ada yang cuma nge-share postingan orang.
Ada yang komen sesuka hatinya. Yang menurutnya baik ia akan beri dukukan. Yang tidak disukai akan di hujat atau dikomentari dengan pedas.
Suka-suka merekalah. Yang penting tidak melanggar norma dan tidak melanggar UU.
Bebas namun bisa dipertanggungjawabkan. Setidaknya punya argumen yang mempunyai dasar dan rujukan, bukan fitnah murahan.
Jika tidak suka postingan orang lain, abaikan saja. Simpel kan. Gausah nyinyir.
"Tapi kan keliatan. Bikin sebel" sanggahnya.
Yaudah unfollow aja atau unfriend aja. Simpel kan. Kenapa sih dibikin repot.
Kamu kalau mau posting makanan, ya silahkan, mau selfi, silahkan, mau infoin seluruh kegiatanmu, ya monggo. Yang penting bisa dipertanggungjawabkan.
Itu saja.
_
12 September 2017
Haji dan Umroh
Siapa sih yang tidak mau menunaikan ibadah haji ?
Hampir bisa dipastikan 99,9 % muslim ingin berhaji atau berumroh. Entah siapa yang 0,1% muslim yang tidak menginginkannya.
Dulu daftar antrian haji hanya 2 atau 3 tahun saja. Atau setidaknya masih dibawah 5 tahun.
Tapi sekarang, antriannya bisa lebih dari 10 tahun. Amazing kan ?
Hanya beberapa orang saja yang bisa menunaikan haji tanpa menunggu waktu lama. Biasanya lewat jalur undangan dari orang berpengaruh di Saudi, entah itu Rajanya sendiri yang mengundang, atau mungkin lewat duta besarnya.
Yang jelas, mereka itu semua adalah tamu-tamu undangan dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Allah tidak mengundang yang mampu. Tapi Allah memampukan hamba-Nya yang akan di undang.

Dalam pelajaran disebutkan, bahwa yang wajib menunaikan ibadah haji adalah bagi yang mampu. Mampu dari segi harta seperti ongkos keberangkatan, biaya hidup selama dalam perjalanan dan selama dalam ibadah haji, biaya untuk orang-orang yang ditinggalkan yang menjadi tanggungannya serta biaya untuk kepulangannya. Mampu juga dalam hal ketahanan fisik, mengingat kegiatan ibadah haji sebagian besarnya adalah kegiatan fisik.
Kalimat diatas yang berbunyi, "Allah tidak mengundang yang mampu" jangan disalahartikan bahwa kamu-kamu yang mampu secara finansial dan fisik, dan belum ada kemauan untuk menunaikan ibadah haji lalu beralasan bahwa Allah belum mengundangnya. itu keliru. Justru kamu-kamu sudah punya kewajiban untuk menunaikannya. Kecuali kalau kamu adalah termasuk orang yang 0,1% muslim yang tidak ingin melakukan kewajiban berhaji. Lakukan ikhtiar dengan cara mendaftarkan diri sebagai calon jamaah haji, selebihnya barulah bermohon agar Allah 'memampukan' anda untuk bisa menjadi tamu-Nya.
Sama halnya dengan haji, umroh pun demikian, hanya orang-orang yang dimampukan oleh Allah-lah yang bisa melaksanakannya. Bagaimana cara Allah memampukan hamba-nya adalah menjadi sepenuhnya hak Allah. Jika Allah berkehendak, maka jadilah kehendak itu.
Betapa banyak orang yang secara financial belum dikatakan mampu untuk berhaji atau umroh, tapi nyatanya ia bisa menunaikannya. Ketidakmampuan secara financial adalah cuma pandangan kita sebagai manusia, namun sesungguhnya ia-lah yang nyata-nyata lebih mampu dibandingkan orang terlihat mampu.
Tak perlulah kita sinis melihat orang yang bisa menunaikan haji atau umroh tanpa biaya alias gratis atau karena ada orang lain yang ingin menanggung biayanya. Namun yang perlu diyakini dan dipahami adalah bahwa itu semua adalah KEHENDAK ALLAH, karena Allah telah MEMAMPUKANNYA.
_
22 Agustus 2017
Kamu dokter ?
Iya.
Saya cuma tanya kamu itu dokter apa bukan?
Boleh tahu dokter apa ?
Dokter umum apa dokter spesialis ?
Kalau kamu bilang dokter spesialis, spesialis apa ?
Sebelum jadi dokter spesialis, berarti kamu telah melewati phase menjadi dokter umum, atau setidaknya telah menyelesaikan pelajaran tentang kedokteran umum, bener gak sih?!
Maap deh kalau salah. Saya cuma tanya dan mengira-ngira.
Kalau memang benar harus menyelesaikan pelajaran untuk jadi dokter umum, berarti dokter spesialis itu lebih tinggi dong 'level' nya dibanding dokter umum. Bener gak, atau malah makin ngawur ?!
Sekali lagi maklumin yah...
Setahu saya, dokter umum akan merujuk pasiennya untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis, sesuai dengan keluhan penyakitnya. Itu artinya, penyakit yang diderita si pasien diluar kemampuannya. Dokter umum tidak memaksakan diri memberikan obat yang diluar bidang ke-ilmuannya walaupun bisa jadi secara garis besar ia mengetahuinya. Itulah sebabnya ia memberikan surat rujukan ke dokter spesialis.
Apa sih maksudnya mempertanyakan masalah ini?! Kayak kurang kerjaan aja.
Emang bener sih, lagi kurang kerjaan, makanya nulis yang kayak gini.
'Sepinter' apapun kamu, kalau belom pernah kuliah dan lulus di fakultas kedokteran, atau (mungkin) pernah kuliah namun gak sampai lulus, maka gelar dokter kamu gak ada, dan ke-ilmu-an kamu tidak diakui. Apalagi kamu cuma baca-baca tentang buku-buku kesehatan doang. Sebanyak dan setebal apapun buku-buku kesehatan yang kamu baca, tidak serta merta kamu bisa dikatakan bahwa kamu adalah seorang dokter, lalu dengan mudahnya kamu mendiagnosa keluhan orang, dan memaksa orang untuk mengikuti saran dan nasehat mu. Justru sebaliknya kamu sarankan saja untuk segera berkonsultasi dengan seorang dokter sungguhan.
Iya sih, emang begitu seharusnya.
Trus, maksudnya apa dengan tulisan ini?
Itu cuma ilustrasi.
Begini bro and sis.
Belakangan ini makin marak orang awam, orang yang tidak berkompeten, dengan mudahnya membid'ahkan amalan orang lain, dan memaksakan kehendak bahwa pendapanyalah yang benar.
Iya ini tentang agama. Dan saya memang bertujuan membicarakan masalah ini.
Kalau memang berkemampuan atau memiliki ilmu pengetahuan yang luas, tentunya mereka tidak akan membahas masalah khilafiyah seperti ini yang bisa membingungkan umat. Masalah khilafiyah atau perbedaan dalam penetapan atau mengamalkan suatu amalan sudah jadi bahasan ulama terdahulu dan sudah dijawab tuntas. Ehhh tau-tau sekarang mereka seakan menutup itu semua (segala khilafiyah), dan 'menggunjingkannya' lagi. Mereka menganggap bahwa si pelaku bid'ah dan ulamanya tidak mengikuti dan memahami Al Qur'an dan Sunnah.
Udah baca kan ilustrasi diatas tentang dokter?, nah kayak gitu tu... persis.
Kalau cuma modal paket internet, trus googling sono-sini cari-cari dalil yang sesuai kemauannya mah gampang banget. Coba deh berkali-kali (bukan sekali-kali loh ya), ngajinya offline, artinya bertatap muka langsung sama guru, bahas kitab, mulai dari awal hingga khatam. InsyaAllah bakal paham. Kalau gak paham kan bisa nanya, maksud dari ayat atau hadist yang lagi dibahas, bukan malah menafsirkan ayat atau hadist berdasarkan logika dan pemahamannya sendiri yang tanpa mempunyai ilmu tentang itu semua. Sampai sini ngerti kan ?!
Belom ngerti juga ?
Gini deh gampangnya. Walaupun kamu seorang sarjana sampai S3 sekalipun, kamu harus sadar bidang pendidikan apa yang kamu tekuni. Jangan ngebahas terlalu dalam yang bukan bidangmu, kecuali kamu mau menekuninya dan mempelajarinya dari awal, bukan dari tengah-tengah apalagi cuma comot sono comot sini aja.
Mudah-mudahan sampai sini udah agak mudeng.
_
Langganan:
Postingan (Atom)
Mohon Maaf
Assalamu'alaykum, Di hari yang mulia ini Di hari yang telah lalu dan yang akan datang Mohon maaf atas segala salah dan khilaf Mohon maaf...
-
Syarat-syarat penyembelihan hewan kurban 1. Hewan kurban yang akan disembelih adalah milik sepenuhnya orang yang akan ber...
-
Awal waktu menyembelih hewan kurban Awal waktu menyembelih hewan kurban adalah setelah dilaksanakan shalat Idul Adha bagi orang-orang yang...
-
Ngomongin sabar tuh gampang banget. Apalagi kalau nasehatin orang supaya bersabar atas musibah yang sedang dialaminya. Kebanjiran, kebakar...