22 Agustus 2017

Kamu dokter ?

Iya.
Saya cuma tanya kamu itu dokter apa bukan?
Boleh tahu dokter apa ?
Dokter umum apa dokter spesialis ?
Kalau kamu bilang dokter spesialis, spesialis apa ?
Sebelum jadi dokter spesialis, berarti kamu telah melewati phase menjadi dokter umum, atau setidaknya telah menyelesaikan pelajaran tentang kedokteran umum, bener gak sih?!
Maap deh kalau salah. Saya cuma tanya dan mengira-ngira.
Kalau memang benar harus menyelesaikan pelajaran untuk jadi dokter umum, berarti dokter spesialis itu lebih tinggi dong 'level' nya dibanding dokter umum. Bener gak, atau malah makin ngawur ?!
Sekali lagi maklumin yah...
Setahu saya, dokter umum akan merujuk pasiennya untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis, sesuai dengan keluhan penyakitnya. Itu artinya, penyakit yang diderita si pasien diluar kemampuannya. Dokter umum tidak memaksakan diri memberikan obat yang diluar bidang ke-ilmuannya walaupun bisa jadi secara garis besar ia mengetahuinya. Itulah sebabnya ia memberikan surat rujukan ke dokter spesialis.

Apa sih maksudnya mempertanyakan masalah ini?! Kayak kurang kerjaan aja.
Emang bener sih, lagi kurang kerjaan, makanya nulis yang kayak gini.

'Sepinter' apapun kamu, kalau belom pernah kuliah dan lulus di fakultas kedokteran, atau (mungkin) pernah kuliah namun gak sampai lulus, maka gelar dokter kamu gak ada, dan ke-ilmu-an kamu tidak diakui. Apalagi kamu cuma baca-baca tentang buku-buku kesehatan doang. Sebanyak dan setebal apapun buku-buku kesehatan yang kamu baca, tidak serta merta kamu bisa dikatakan bahwa kamu adalah seorang dokter, lalu dengan mudahnya kamu mendiagnosa keluhan orang, dan memaksa orang untuk mengikuti saran dan nasehat mu. Justru sebaliknya kamu sarankan saja untuk segera berkonsultasi dengan seorang dokter sungguhan.

Iya sih, emang begitu seharusnya.
Trus, maksudnya apa dengan tulisan ini?

Itu cuma ilustrasi.

Begini bro and sis.
Belakangan ini makin marak orang awam, orang yang tidak berkompeten, dengan mudahnya membid'ahkan amalan orang lain, dan memaksakan kehendak bahwa pendapanyalah yang benar. 
Iya ini tentang agama. Dan saya memang bertujuan membicarakan masalah ini.
Kalau memang berkemampuan atau memiliki ilmu pengetahuan yang luas, tentunya mereka tidak akan membahas masalah khilafiyah seperti ini yang bisa membingungkan umat. Masalah khilafiyah atau perbedaan dalam penetapan atau mengamalkan suatu amalan sudah jadi bahasan ulama terdahulu dan sudah dijawab tuntas. Ehhh tau-tau sekarang mereka seakan menutup itu semua (segala khilafiyah), dan 'menggunjingkannya' lagi. Mereka menganggap bahwa si pelaku bid'ah dan ulamanya tidak mengikuti dan memahami Al Qur'an dan Sunnah.

Udah baca kan ilustrasi diatas tentang dokter?, nah kayak gitu tu... persis.
Kalau cuma modal paket internet, trus googling sono-sini cari-cari dalil yang sesuai kemauannya mah gampang banget. Coba deh berkali-kali (bukan sekali-kali loh ya), ngajinya offline, artinya bertatap muka langsung sama guru, bahas kitab, mulai dari awal hingga khatam. InsyaAllah bakal paham. Kalau gak paham kan bisa nanya, maksud dari ayat atau hadist yang lagi dibahas, bukan malah menafsirkan ayat atau hadist berdasarkan logika dan pemahamannya sendiri yang tanpa mempunyai ilmu tentang itu semua. Sampai sini ngerti kan ?!

Belom ngerti juga ?
Gini deh gampangnya. Walaupun kamu seorang sarjana sampai S3 sekalipun, kamu harus sadar bidang pendidikan apa yang kamu tekuni. Jangan ngebahas terlalu dalam yang bukan bidangmu, kecuali kamu mau menekuninya dan mempelajarinya dari awal, bukan dari tengah-tengah apalagi cuma comot sono comot sini aja. 
Mudah-mudahan sampai sini udah agak mudeng.

_

21 Agustus 2016

Transit di Dubai lumayan lama. Hampir lima jam. Tengah malam pula. Ngantuk tapi gak bisa tidur, karena nggak ada tempat tidur. Paling-paling di kursi. Tapi tetep aja gak bisa. Lagian kalaupun sengaja-sengaja di-tidurin, takutnya kebablasan. Giliran dipanggil-panggil gak denger, malah jadi berabe. Mending di tahan aja, sambil sesekali keliling. liat-liat souvenir. Tapi yang namanya di bandara, jajanan apapun pastilah mahal. Apalagi di Dubai. Wooww harganya selangit. Mestinya sih keluar airport, trus cari-cari deh. Tapi kan gak bisa, mesti ada visa. Untungnya dari maskapai penerbangan dapat voucher makan, lumayan menghemat pengeluaran. Banyak pilihan pula. Ehh ketemu lagi orang baik. Pas lagi makan, ternyata mereka memberikan dua box makanannya yang baru saja di beli. Tapi karena perut udah kenyang, dua box tersebut saya berikan ke pelayan. Lumayan buat makan malam mereka. 

Hasil dari keliling cuma dapat kurma Madina. Paket ekslusif. Harga lumayan mahal. Tapi gak apa-apalah. Mudah-mudahan dapat berkah beli kurma Madina. Sementara kurma Ajwa lebih mahal lagi. Kirain kalau beli kurma di Dubai itu lebih murah, tapi ternyata tidak, masih murahan di Tanah Abang. Opps ya itu tadi, mahal karena belinya di bandara. Kalau di luar bandara pastinya lebih murah.

Pengalaman beberapa kali di bandara, jadi gak kikuk lagi harus kemana. Udah terbiasa baca petunjuk. Malah gak jarang orang pada nanya arah. Disinipun begitu. Beberapa orang sempet nanya harus kemana dan bagaimana. Bahkan terkadang komunikasi cuma pakai bahasa tubuh, karena mereka tidak mengerti bahasa inggris. Tapi alhamdulillah mereka ngerti.

Jadi ingat waktu pertama kali ke luar negeri. Waktu itu ke Hong Kong sama seorang teman. Tugas kantor juga. Teman saya yang bule bebas aja melenggang setelah melalui imigrasi, sementara saya harus di 'giring' kekantor. Saya kira cuma saya yang 'bermasalah', eehh ternyata diruangan kantor imigrasi yang ada dibandara, banyak sekali orang dengan masalah yang sama. Ternyata cuma ditanya-tanya doang kelengkapan dokumennya. Mungkin karena paspor saya masih baru, masih kosong, belum ada stempel, jadinya harus melalui proses itu. Buktinya, kedua kali ke Hong Kong, atau waktu ke Thailand dan Singapur, lancar-lancar aja tuh. Tidak ada hal-hal yang bikin ribet. Mungkin memang begitu prosesnya.

Pengennya sih selanjutnya ke Mekah dan Madinah sebelum pergi kemana-mana lagi. Udah kangen banget. Tiap hari berdoa supaya disegerakan ke sana. Mumpung masih kuat dan bertenaga. Kalau sudah semakin tua, kondisi fisik semakin lemah, sedangkan ibadah haji sebagian besarnya adalah ibadah fisik, perlu tenaga dan stamina yang prima.
Saya yakin banget kalau Allah akan mengabulkan permohonan dan doa saya, doa istri saya dan anak-anak saya. Terkadang suka nggak sabaran supaya segala doa cepat terkabul. Tapi Allah pasti punya rencana yang terbaik yang memang saat ini belum atau tidak diketahui kapan akan dikabulkan. Atau sudah dikabulkan dengan cara yang lain? yaa terkadang saya suka terlambat mengetahuinya.

--

Menunggu lama dalam kondisi seperti ini, dengan badan yang lelah setelah perjalanan dari Belgia ke Dubai, memang terasa semakin dan menambah lelah. Penat. Ditambah lagi dengan ngantuk yang tertahan. Yang bikin 'jengkel' adalah ketika aktifasi wifi di henpon. Di sini, di bandara Dubai, wifi gratisnya hanya 60 menit. Begitu aktifasi selesai dan saya rubah time zone di henpon, setelah itu langsung tidak aktif lagi, karena waktu telah habis. Gak bisa baca-baca deh. Walaupun jam dirubah lagi seperti semula, tetep aja gak bisa. Akhirnya buka laptop. Aktifasi wifi dan gak rubah-rubah jam. Lumayan 1 jam, bisa bikin tulisan ini.

Baru kali ini ngeliat orang syiah sholat. Tepat disamping saya. Si Bapak dan si Anak. Si Bapak menyuruh anaknya sholat duluan. Dia gelar sejadah. Si Bapak memperhatikan dari belakang. Setelah selesai baru si Bapak yang sholat. Mereka pakai sejadah sendiri dan ditengah-tengah diletakkan benda bundar untuk tempat sujudnya. Jadi pada saat sujud, dahinya menyentuh benda itu, dan tidak sujud di sajadah. Sholatnya pun berkali-kali. Tahiyat akhirnya pun ditandai dengan menepuk-nepuk tangannya ke pangkal paha beberapa kali. Persis yang saya lihat di internet. Namun saya merasa mendapatkan keanehan lagi, selain sholatnya berulang kali, ia juga pada saat sholat terakhir, sholatnya sambil duduk, posisi ruku'nya pun setengah membungkuk dan dilanjutkan dengan sujud seperti yang biasa dia lakukan. Cara solatnya seperti orang yang tidak mampu berdiri. Aneh. Nyeleneh. Tapi begitulah yang mereka yakini.

----

Ngantuk semakin menjadi. Masih satu setengah jam lagi bording
Lalu lalang orang gak perlu dipedulikan. Mereka sibuk urusannya masing-masing.
That's live !

-

20 Agustus 2016

Traveling to Brussels (12) - End

Saya bukan penulis.
Mungkin kalau saya penulis, saya akan bikin satu atau dua novel tentang perjalanan saya ke Brussels. Yang satu tema-nya tentang urusan dinas beserta konfliknya dan yang satunya lagi tentang plesirannya.
Tapi sayangnya saya bukan penulis. Makanya saya selesaikan saja sampai episode ini tentang keberadaan saya di Belgia, walaupun judulnya traveling.

Sejak selasa kemarin (16/8), bahan training banyak banget, ditambah lagi harus ngomongin masalah yang lain yang seharusnya management ikutan hadir. Soalnya ada nyinggung masalah cost. 
17 Agustus juga harus masuk. Malah lebih ribet lagi. Para peng-gede hadir.
Mudah-mudahan ada lemburan. Lumayan. Tapi.... who knows? liat aja nanti.

Sebenernya sih dari pertama kali tulisan ini dibuat -dari edisi pertama hingga saat ini- banyak yang belom diceritain. Padahal seru juga tuh. Nanti deh kalau sempet dan ada waktu luang, biar bisa agak konsen supaya tulisannya agak mendingan buat dibaca dan nggak ngebosenin kayak gini. Apalagi isinya cuma narsis doang. Heehhh *tariknafas

Alhamdulillah, hari ini ketemu masjid buat jum'atan. Agak mepet sih datengnya. Tapi gak telat. Moskee Youssef Diegem namanya. Gak keliatan kayak mesjid. Juga gak ada tanda-tanda kalau itu masjid. Dari kantor langsung naik taksi. Lewat GPS diketahui bahwa lokasi tersebut adalah masjid. Turun. Tanya-tanya. Dan.... ketemu.
Jamaahnya gak banyak. Karena memang ruangannya gak besar. Mungkin sekitar 5 X 10 meter. Tapi jamaahnya padat. Khotbahnya pake bahasa arab. Oww... berasa di Mekah. Padahal belom pernah ke sana. InsyaAllah saya akan segera ke sana beserta keluarga. Aamiin. Alhamdulillah lagi, selesai jumatan ada jamaah yang menawarkan diri mengantar ke hotel. Lumayan jaraknya bisa sampai 5km. Namanya Muhammad, ia orang Marocco, sudah berkeluarga dan tinggal di Belgia selama 10 tahun. Sebelumnya saya memang tanya arah ke hotel. Tapi ternyata ia malah menawarkan untuk mengantarnya. Sungguh baik dan mulia akhlaqnya. InsyaAllah mudah-mudahan pertolongannya akan jadi penyebab ia masuk Surga, dan doa saya untuk diapun insyaAllah akan jadi penyebab saya akan selamat dunia akherat. Aamiin.

---

Sore hari, jalan-jalan lagi. Kali ini ke pusat kota Brussels. Liat patung Manneken Piss. Patung anak kecil telanjang yang lagi pipis. Tempatnya biasa aja sih, cuma karena patung itu jadi salah satu icon, makanya jadi rame. Entah siapa yang memulai mempopulerkannya. Disekelilingnya jadi hidup. Rame. Banyak yang jualan. 
Sebagian besar cuma lihat tuh patung dan foto-foto. Trus jajan deh. Woww... coklat disini banyak banget macamnya. Tapi.... mahal-mahal. Harganya fantastis untuk ukuran saya. Masa sih coklat kecil yang sekali telen aja bisa sampai 5 Euro. Mungkin ini udah jadi daerah wisata kali ya, makanya jadi mahal. Tapi memang coklatnya mantap. Saya cobain tester-nya. Beli satu pak aja cukup. Biar isteri dan anak-anak ikutan nyobain coklat mahal. Sebenarnya sih udah beli kemaren tapi yang harganya medium, walaupun tetep mahal sih. 
Oiya, kalau beli coklat di sini, atau mungkin disekitaran Eropa, jangan lupa tanya, apakah coklatnya mengandung alkohol atau tidak. Soalnya banyak juga coklat yang mengandung alkohol. Trus lagi, kalau yang warna-warni atau yang putih, itu sebenarnya bukan coklat, tapi dari bahan lain. Itu sih yang di bilang sama orang sini. Kalaupun mengandung cacao -bahan coklat- itu paling cuma sedikit sekali. Jadi yang namanya coklat itu ya warnanya coklat atau yang kehitam-hitaman.

--

Hari ini adalah malam terakhir di Belgia. Besok harus udah check-out. Go to Airport.
Malam yang sibuk. Sibuk packing. Tas koper membengkak. Bengkak dengan pakaian kotor yang tidak tertata rapi. 

Saya selalu berdoa, mudah-mudahan selamat sampai rumah.
Laa hawla wa laa quwwata illa billahil'aliyyil 'azhiim.

--

16 Agustus 2016

Traveling to Brussels (11)

Dua hari berturut-turut. Itu baru namanya jalan-jalan. Ya cuma jalan-jalan. Sampai tujuan, makan trus foto-foto sebentar. Done!.
Tapi beneran, kelakukan udah kayak artis aja, cuma numpang makan siang. Bedanya, kalau artis mah diliput atau cari sensasi, cari rating acaranya dlsbg, kalau kami sih aji mumpung. Mumpung ada di negeri orang yang jauh dan baru pertama kali pula, ditambah lagi negara tetangga terasa begitu dekat dan tak perlu visa lagi, karena visa kami adalah visa schengen. Pokoknya dengan visa seperti itu kita bisa keluar masuk negara tetangga di Eropa tanpa harus apply visa lagi. Nah kesempatan itulah yang kami manfaatkan.

Ternyata ongkos ke Paris atau ke Belanda atau ke Jerman itu nggak murah, makanya kami putuskan akhirnya sewa mobil. Lumayan buat 2 hari aja nggak sampai 200 Euro. Tambahan biaya cuma di Bensin aja. Dua kali isi bensin ke 3 tempat tersebut. Sebelum dikembalikan, mobil harus kembali diisi full tank seperti semula, jika tidak maka akan kena pinalty. Pinalty nya sih cuma seharga bensin full, gak lebih.

Hari sabtu abis sarapan, langsung cabut ke Paris. Nggak banyak yang dikunjungi di sana. Tujuannya cuma satu. Menara Eifel. Dua teman saya sebelumnya tidak tau apa itu Eifel. Mereka cuma nyebut dengan Tower. Itu saja. Padahal -menurut saya- tempat itu terkenal, aneh juga kalau mereka tidak tau namanya. Makanya akhirnya begitu sampai disana, saya coba rekam aja di video, dan upload ke Instagram.
Saya sih nggak surprise begitu mendarat disana. Biasa aja. Nggak norak-norak amat. Karena saya sebenarnya nggak suka plesiran. Jadi nggak perlu jejingkrakan. Gak penting dan nggak senorak itu. Bener-bener biasa aja. Kayak orang yang udah sering aja ke sana.

Disini, di sekitaran Menara Eifel, banyak pedagang asongan keliling. Jual souvenir. Miniatur menara Eifel. Sama seperti di Indonesia pada umumnya, kadang-kadang mereka memberikan harga yang fantastis. Jadi perlu ada keahlian menawar. Saya tidak perlu mendekati mereka, dan jika merekapun mendekat, saya berlagak tidak butuh, padahal sih butuh, buat oleh-oleh. Tapi ya itu tadi. Nggak ada waktu banyak.

Datang. Parkir. Makan siang, dan langsung meluncur ke Menara. Deket sih parkiran sama menara. Ya memang di sekitaran situlah. 
Cuaca panas, matahari bener-bener mendelik tapi anehnya bagi saya tetep sejuk, karena anginnya agak kenceng. Anginnya itu loh yang dingin. Antrian yang panjang gak bikin saya keringetan. Biasa aja. Dan kalau saya perhatiin, yang lainpun sama, semuanya malah, gak keringetan tuh. Gak ada yang keliatan kipas-kipas. Dan antriannya rapi, teratur dan tidak berisik. Agak beda banget sih kalau masalah ini sama di Indonesia. Kita bisa niru nih budaya kayak gini.

Bayar tiket. Trus naik deh. Naik elevator ke level pertama.
Baru level pertama aja, pemandangan sekitaran kota Paris terlihat nyata, jelas. Keliling sebentar. Foto-foto. Trus antri lagi untuk naik ke level berikutnya. Gak tau sih ada berapa level. Gak nanya juga. Tapi akhirnya dibatalin. Antriannya panjang juga ternyata. Masalah waktu. Itu aja. Makanya ke Menara Eifel cuma mau tau aja kayak apa. Dan kebetulan yang lainpun tidak ambisius harus sampai puncak. Akhirnya kami putuskan untuk balik.

Fasilitas GPS yang ada di mobil sewaan sangat membantu perjalanan kami, jadi nggak kesasar. 

Yang agak keren sih hari kedua, yaitu hari minggu. Bayangin aja dalam satu hari kami makan di tiga negara berbeda. Pagi sarapan di Belgia, tempat kami menginap. Siang kami makan di Nederlands, Belanda. Dan makan malam di Koln, Jerman. Keren kan.
Biasanya omongan model gini sering saya dengar dari teman-teman dikantor, pagi mereka di Singapur, siang di Belanda, sore mampir ke India dan malam di Thailand dan ke Australia. Tapi itu semua kedutaan besar. Ya.. klien kami di Jakarta banyak kedutaan besar. Jika kita tidak tau pekerjaan mereka, maka mereka yang mendengar percakapannya akan berfikir bahwa mereka adalah orang yang kaya raya atau mungkin setingkat pejabat padahal negara-negara yang disebut tersebut adalah kedutaan besar yang ada di Jakarta yang letaknya berdekatan, bahkan bersebelahan. Tapi untuk saya kali ini adalah berita nyata. **agak norak deh. Bisa makan di tiga negara dalam satu hari.

Di Nederlands, sepanjang mata memandang, mereka bersepeda. Saya tidak pernah melihat ini sebelumnya dimanapun walau lewat televisi. di Yogyakarta atau daerah jawa tengah yang katanya banyak orang bersepeda masih kalah jauh. Jauuuh sekali. Mereka banyak sekali. Hampir sepanjang jalan kami melihat parkiran sepeda. Berjubel. Belum lagi mereka yang lalu lalang. Saya tidak melihat motor melintas. Mungkin hanya satu atau dua saja. Tapi sepeda.... wow buanyak banget. Trem juga ada, sama seperti di Belgia. Tapi anehnya saya merasa datang dari masa depan. Ya. Seperti Jakarta tempo doeloe. Itu juga kalau saya lihat di film dokumenter. Hampir persis sama. Gedung-gedungnya kayak di kota tua. Ada Trem. Banyak sepeda. Pengendaranya pun beraneka macam dan ragam, dari yang berpakaian biasa, pakaian olahraga, Jas formal, gaun seperti gaun pengantin dll. Tadinya saya pikir saat itu sedang ada acara or event or apalah yang berkaitan dengan sepeda, tapi ternyata tidak. Itu memang keseharian mereka. Tapi ya itu tadi, bener-bener takjub. Gak salah teman saya saranin saya kesana. Dua teman saya memang tinggal di Belanda. Saya gak tau alamat lengkapnya. Sebelumnya kepikiran untuk mampir, tapi gak lah. Masalah waktu. Ditambah lagi saya kan sama dua orang teman, si Jacky dari Hong Kong dan Mani Kandan dari Saudi Arabia kebangsaan India. Bisa-bisa ngerepotin. Dua orang itu punya karakter yang sama, Keras. Mau menang sendiri. Kalau mereka debat, mereka keukeuh sama pendapatnya. Tapi dengan kelemahlembutan saya, mereka semua ngalah. Keras tak perlu dilawan dengan keras.

Makan siang dan jalan-jalan sebentar. Lihat sekitaran. Air kali disini juga nggak jernih-jernih amat, tapi tidak terlihat ada sampah. Dan dijadikan juga sebagai objek wisata. Banyak perahu lalu lalang. Seru juga sih. Tapi saya tetep cool kok. Nggak norak.

Abis itu langsung cao ke jerman. Kali ini memang tidak direncanakan sebelumnya. Sebenarnya sih cuma ikutin guyonan saya sehari sebelumnya. Saat makan siang di Paris, saya bilang ke mereka, gimana kalau besok kita makan siang di Belanda dan makan malam di Jerman. Guyonan itu ternyata diikutin sama mereka. Cuma bedanya waktu ke Belanda sayalah yang menentukan tempatnya, karena mereka tidak tau harus kemana, sedangkan ketika ke Jerman, mereka hanya melihat peta, cari rute yang bagus buat pulang ke Belgia. Dan Wallaa... akhirnya kami putuskan ke Koln. Gak banyak waktu kami disana. Lihat-lihat sekitar, foto sana sini, makan dan pulang. itu aja. 
Nggak menarik ya..?
Bagi saya sih menarik. Perjalanannya itu loh. Fantastik. Amazing.
Kalau kata orang bijak sih, yang penting itu the journey bukan destination. Untuk urusan dunia, ya itu bagus. Untuk urusan akherat, tujuan akhir itu sangat penting. Makanya sepanjang perjalanan saya mengawalnya dengan zikir. Satu saat bengong, saya dapet deh satu cerita unik dan saya upload ke fesbuk. Banyak yang tertipu. Tapi ya itulah medsos. Kalau saya bikin status serius, gak ada tuh yang like apalagi komen, tapi kalau urusan iseng-iseng mereka antusias. Ya begitulah. Gak usah dipikirin. Yang penting pesannya sampai.

Abis itu pulang deh. Kembali ke hotel tanpa mampir-mampir lagi. Cape. dan langsung masuk kamar. Mandi. Sholat. dan tidur.

Hari ini sebenarnya adalah hari libur di Belgia dan sekitarnya. Sepi. Tapi harus ngantor. Banyak yang dikerjakan. Tapi nggak sampai sore seperti biasanya. Cuma setengah hari. Tadinya mau ajak teman-teman untuk jalan-jalan di seputaran Belgia, cari coklat. Banyak yang pesen coklat soalnya. Tapi nampaknya mereka lelah. Ya sudah. Masuk kamar dan buat laporan. Sama nulis curhatan ini deh.

Buat temen-temen yang ada kesempatan main ke Eropa, entah itu sekedar liburan atau tugas, untuk menghemat ongkos ya sewa mobil aja. Syaratnya ya harus punya SIM internasional dan bisa nyetir tentunya. Bisa kesana kemari sesuka hati. Tapi satu hal. Parkirnya mahal.

Saya masih tetep berharap dan terus berdoa supaya saya dan keluarga bisa ke Mekah dan Madinah, dua kota suci untuk menyempurnakan rukun Islam. InsyaAllah.



__




14 Agustus 2016


Traveling to Belgium (10)

Jadi juga kemaren jalan-jalan. Sebelumnya itung-itungan dulu buat ongkosnya. Ternyata kalau naik kereta cepat ke Prancis itu ongkosnya lumayan mahal. Bisa abis 300 Euro per orang. Blom lagi ongkos-ongkos lainnya untuk sampai di Menara Eifel. 
Ya.. tujuan kita emang ke menara Eifel. itu kan icon-nya Prancis.

Solusi terakhir adalah sewa mobil. Kami cabut ke Airport untuk sewa mobil. Beberapa tempat butuh booking beberapa hari sebelumnya dan tempat lain habis. Laris manis. Tau gak sebabnya.. ternyata hari senin besok tanggal 15 Agustus itu hari libur nasional di Belgium. Jadi ya maklum aja kalau penyewaan itu laris manis. Tapi untungnya dapat juga. Harganya terbilang tidak mahal. Tidak sampai 200 euro. Dan itupun buat 2 hari. Bayangkan !! Beda banget kalau harus naik kereta cepat. Yaa... emang sih, beda waktu perjalanannya jauh banget. Kalau naik kereta cepat kan sekitaran 1 jam udah sampe tujuan. Tapi kalau naik mobil bisa lebih dari 3 jam. Gak apa-apalah, yang penting budget ongkos tercapai. 

Akhirnya sampai juga Paris. Gak kesasar pula. Hebat kan!. *tuh sombongnya keluar.
Maksudnya, mobil sewaan kami itu ternyata sudah dilengkapi dengan GPS, jadi ya tinggal ikutin petunjuknya aja. Walau beberapa kali harus berputar arah. Gausah tanya kenapa, yang jelas tujuan akhir tercapai juga. 

Cari parkir sedekat mungkin ke Menara. Dan dapat. Maksi dulu di sekitaran lokasi dan setelah itu baru berkunjung ke menara. Rame banget. Mungkin karena itu hari libur.
Tiketnya terbilang mahal untuk ukuran saya. Cuma sampai level pertama. Untuk naik ke level berikutnya harus antri lagi. Gak tahan antriannya yang panjang, kami putuskan cuma sampai level pertama saja. lumayan tinggi juga. Jeprat-jepret sebentar. Trus langsung turun.
Gak apa-apalah gak lama juga. Yang penting udah ngerasain ke Paris dan selfi di Menara. Hmm... sebenarnya sih gak penting-penting amat, secara saya juga bukan tipe orang yang suka plesiran. Saya lebih suka duduk santai, menghirup udara segar. Saya jalan-jalan ketika ada teman atau sama keluarga. Itu. Selain itu, males. 

Cari-cari souvenir, gak banyak yang jualan di sana, lebih banyak tempat makan. Harganya juga lumayan lah. Maklum aja, itu kan tempat wisata.

Tadinya mau mampir lagi ketempat lain, namun karena tidak direncanakan, langsung cao dan balik ke Belgia. Gak langsung ke hotel, tapi langsung dinner ditempat yang lain. Kali ini dengan menu yang berbeda. Ya berbeda buat mereka, buat saya ? apalah atuh. Cuma bisa makan salad atau mash potato, selebihnya haram !. 
Minuman favorit di sini ya cuma jus atau soda. Cuma dua macam itu, Atau kalau gak ada ya paling pilih air mineral. Tapi daftar minuman beralkohol itu bisa satu buku menu penuh. Orang sini emang suka itu. Bahkan tidak sungkan minum itu didepan anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

_

12 Agustus 2016

Traveling to Brussels (9)

Ngapain ya hari ini ?
Pertanyaan itu muncul begitu masuk kamar hotel. Tapi kali ini temen-temen ngajak makan di luar hotel. Persiapan harus matang nih. Biasalah. Dingin. Saya ada masalah dengan suhu dingin. Walau hari ini matahari mendelik kenceng banget, tapi tetep aja dingin. Sore ini suhunya udah naik sih 24 derajat, tapi sebentar lagi bakalan drop lagi. Anginnya itu loh. Bikin bulu kuduk berdiri... alias lama-lama bisa menggigil.

Training hari ini mantap banget. Banyak informasi yang saya dapat dan masih muat di otak. Gak kayak kemaren, banyak tapi bikin mual. Too much theory !
Saya bisa simpulkan training di Singapur beberapa bulan lalu IS NOTHING ! gak ada apa-apanya untuk topik yang satu ini. Pantesan aja saya gak bisa implementasikan begitu balik Jakarta. Bos udah mulai uring-uringan, beberapa kontrak terhambat, dan lain-lain-lain-lain..... Tapi saya tetap jujur sama mereka, bahwa jika saya belum tahu betul jalannya system ini, maka saya 'angkat tangan' dan tidak mengijinkan kontrak baru diterima. Daripada nanti saya gak bisa handle, kan jadinya berabe. Tul gak? Iya ada deh... 

Long Jhon, jaket dan topi kupluk yang dibeliin istri saya sebelum berangkat udah saya disiapin, tinggal pake dan siap berangkat. Dinner.

Jam 6 baru aja lewat... tapi istri saya udah tidur. hmmm... wajarlah, di Jakarta sekarang jam 11 lewat. Wajar aja kalau udah tidur, padahal sebelumnya dia yang kirim pesan. Mungkin karena saya responnya kelamaan. Kasian juga sih. Mungkin kecapean, seharian nganter anak kedua yang mau masuk kuliah.
Ya.. mudah-mudahan Allah mudahkan urusan dunia akherat kami, sehingga bisa mengantarkan anak-anak kami ke jenjang pendidikan yang lebih baik, dan kelak bisa bermanfaat buat sekitar.

Doaku yang tak pernah putus.


Opps.... udah di bell.. siap-siap go..go..go...

_
Traveling to Brussels (8)

Pagi ini sarapan lebih awal. Jam 7. Beberapa menit aja selesai dan balik kamar. 

Semalam saya melihat beberapa rombongan chek-in. Bukan rombongan ibu-ibu yang mau ziarah, tapi kayaknya sih mau plesiran. Soalnya banyak emak-emak. Sotoyy banget yaa... Kenapa saya bilang banyak emak-emak, karena satu rombongan sepertinya dari negeri Tiongkok, bisa jadi bukan dari sono sih. Tapi yang jelas mereka orang-orang dari etnis Tiongkok. Satu rombongan lagi bule-bule yang juga lebih banyak orang tua.

Pagi ini, saat sarapan saya ngeliat mereka bergerombol menikmati sarapan. Rame banget. Nggak seperti biasanya. Seorang ibu separuh baya duduk satu meja. Tanpa kata. Tanpa basa-basi. Tanpa ekspresi. langsung duduk aja itu ibu. Dan.... dia ambil makanan cuma sedikit. Sedikit lagi tumpah maksudnya alias buaannyaakk banget. Pengen jail sih tadinya, di poto dan sebarin ke group. Tapi itu bukan tabiat saja. Alhamdulillah niat 'jahat' itu gak terlaksana dan langsung lenyap gitu aja. Cara makannya juga jorok banget, blepotan. Saat temannya datang menghampiri, dengan mulut penuhnya ia menjawab pertanyaan temannya -sambil muncrat-muncrat- dengan bahasa yang saya kenal namun tak di mengerti. Saya berasa lagi di Glodok. Kayaknya dia lapar banget. Mungkin semalam dia tidak makan. Atau itu memang cara makannya atau takut kehabisan?? atau karena gratis?? entahlah. Tapi mereka berhak kok. Dan saya gak perlu usil. Cuma sedikit terusik melihat cara makannya. 

Opps... saya kira cuma ibu itu aja yang mengambil makanan sebanyak itu, ternyata ketika mata ku alihkan ketempat lain. Sama saja!!. Hampir semua mengambil makanan dalam porsi yang banyak. Bukan saja rombongan dari etnis Tiongkok tapi juga saya melihat bule pun demikian. Dia ambil roti sampai 2 piring penuh. Yaa... beneran penuh. Satu piring berisi roti croisant sekitar 6 atau 7 potong, piring yang lain roti gandum kotak setumpuk, sekitaran 10 sampai 15 tumpukan. ini beneran lo!! asli. Sekali lagi terbersit buat mengambil gambar, tapi hanya terbersit, dan tidak saya lakukan. Lagi-lagi hati saya bilang, itu hak mereka. Yang penting mereka menghabiskannya dan tidak membuangnya.

Tak mau saya melihat kejutan-kejutan lainnya dan merusak hati dan pikiran saya, segera saya habiskan sarapan saya dan balik kamar. Siap-siap untuk perjuangan hari ini.

Jum'at mubarrok. 
Semoga saya selalu dalam keberkahan. 
Begitu juga dengan keluargaku dan saudara-saudaraku serta teman-temanku. 
Doaku selalu.

Aamiin.



_

Mohon Maaf

Assalamu'alaykum, Di hari yang mulia ini Di hari yang telah lalu dan yang akan datang Mohon maaf atas segala salah dan khilaf Mohon maaf...