26 Agustus 2020

Sampaikan saja!

Jadi teringat ayat dibawah ini:


مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ

Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui 
apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. (QS 5:99)


Tugas Rosul yang Mulia saja hanya menyampaikan apa-apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau, dan beliau tidak bisa memaksakan atau memberi hidayah kepada siapapun. Apalagi kita, yang bukan Rosul bukan pula Nabi, bahkan bukan pula bisa disebut sebagai ulama, maka jangan bermimpi bisa merubah orang lain untuk bisa taat pada Allah dan Rosul-Nya. Kita cuma bisa dan hanya bisa memberitahukan apa-apa yang kita ketahui tentang islam, tentang adab, tentang aturan-aturan yang telah ditetapkan. Kita tidak bisa memaksakan mereka untuk mengikuti, bahkan kita tidak bisa memaksakan mereka untuk (hanya sekedar) mengerti. Allah yang akan memberikan petunjuk, jika Allah menghendaki. Jika tidak? Mereka akan tetap dalam kesesatan.

Jadi, tidak perlu heran dan bingung pada orang-orang disekitar kita. Terkadang kita sudah ‘berbusa-busa’ namun mereka tetap pada kelakukan mereka, tidak berubah. Entahlah sampai kapan. Kita cuma bisa menyampaikan, memberitahukan, dan setelah itu mendoakan. Mudah-mudahan mereka dan juga kita, diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bertobat sebelum ajal kita menjemput. Satu hal yang perlu diingat lagi, bahwa kita tidak akan pernah tau kapan ajal kita akan datang, so… perbanyak istighfar. Bertobatlah. Mudah-mudahan Allah mengampuni.


20 Agustus 2019

Surat Terbuka untuk “Haters” Ulama dan UAS

Jangan pernah memanfaatkan keadaan untuk terus mencari kesalahan oposisi terutama para ulama.

Jangan pernah suka memanfaatkan keadaan dimana kalian hidup di rezim ini yang tidak peduli umat Islam dan suka menyebut Islam adalah radikal.

Jangan pernah memanfaafkan kondisi negara saat ini yang dipimpin oleh kalangan Islamophobia, lalu anda melanjutkan persekusi ulama.

Pelaporan UAS ke polisi karena ceramah yang dianggap menghina Kristen adalah salah alamat, gegabah, dan dilakukan dengan kebodohan maksimal.

Pelaporan UAS ke polisi menunjukkan langkah yang tergesa gesa dan gegabah, karena sejatinya selama ini kebencian anda kepada Islam sudah disimpan lama, namun belum ketemu momentumnya.

Pelaporan UAS ke polisi menunjukkan anda merasa kuat karena merasa satu DNA dengan rezim yang bekuasa, meresa ada yang membela.

Pelaporan UAS ke polisi dengan bukti ceramah untuk internal umat Islam adalah langkah mencari cari kesalahan yang menunjukkan kebodohan luar biasa dari pihak anda sebagai pelapor.

Pelaporan UAS ke polisi hanya akan menyibak wajah busuk anda selama ini yang sangat membenci Islam, karena anda menghina Islam di dalam gereja gereja terasa belum cukup.

Pelaporan UAS ini adalah sikap arogansi kaum minoritas yang tidak tau diri dan tidak tau malu, ini mungkin karena kaum mayoritas terlalu baik kepada mereka selama ini.

Ormas-ormas Kristen yang melakukan pelaporan UAS ke polisi bisa disebut ormas Kristen radikal yang dibalut dengan kebodohan luar biasa.

Kalau anda gagal paham soal ceramah orang Islam, maka bagusnya anda belajar lagi kepada pendeta pendeta anda, anda sekolah lagi soal teologi, jadi bagusnya ke sekolah bukan ke polisi. Jangan sampai sudah kafir bodoh pula.

Umat Islam sudah lama bersabar atas arogansi minoritas di negeri ini, jadi jangan terus terusan memancing di air keruh, karena akibatnya nanti anda sendiri tidak akan mampu menanggungnya.

Umat Islam tidak punya ajaran kalau pipi kiri ditampar maka berikan pipi kanan, karena kalau anda memilih menampar pipi kiri kami duluan, maka kami akan tampar pipi kanan anda bahkan 100x tamparan yang lebih keras.

Umat Islam diajarkan damai, tapi bukan berarti anda bebas bermain api dan test case, umat Islam damai makanya anda hidup disini dengan aman dan nyaman, kalau kami bar bar dan arogan, gak tau nasib anda akan bagaimana, maka merenunglah. Jangan suka cari kesalahan yang gak perlu.


Umat Islam diajarkan damai, ratusan ayat al-Quran mengajarkan kami soal esensi damai ini, tapi kalau anda mengusik umat Islam, maka anda silahkan baca surat at Taubah dalam kitab suci kami, disana tidak ada lagi kata Bismillah sebagai tanda baca awal al Quran, karena surat ini identik dengan kemarahan kami.

Umat Islam tau kapan damai kapan tidak, tau kapan diam dan kapan membalas, tau kapan diam dan kapan mengambil sikap. Maka hiduplah dengan damai di negeri yang indah ini, jangan cari masalah dan cari cari konflik.

Cek dan ricek segala sesuatu sebelum berbuat, jangan arogan dan jangan suka berlebihan. Soal agama adalah soal sensitif, lebih sensitif daripada masalah politik. Maka hati-hatilah dalam melangkah.

Umat Islam terkenal damai di seluruh dunia, dibantai, dihabisi, dikudeta, diserang dst. Tapi kami tidak sembarangan membalas, karena umat Islam punya aturan yang ketat soal soal nyawa dan nama baik orang lain termasuk yang beda agama, maka pelajarilah kami sebelum anda mencari masalah dengan kami.


Kami damai bukan karena kami lemah, tapi kitab suci kami tidak mengizinkan perang sembarangan kalau tidak mencukupi syarat, nabi kami dulu sampai menunggu turun ayat izin perang bertahun tahun karena beliau tidak mau berperang kalau belum ada restu langit.

Berhati-hatilah dalam hal ini, umat Islam cinta damai, itu sudah terbukti di lapangan bukan sebatas khutbah palsu di mimbar mimbar tapi di lapangan anda terus mengutus misionaris untuk menyerang agama kami.

Karena kalau umat Islam sudah marah, dan semua syarat sudah terpenuhi, sejarah mencatat, tidak ada benteng pertahanan yang terlihat kuat di depan umat Islam. Raja dan Gubernur saja kami singkirkan, apalagi yang gembel-gembel.

Selamat merenung, lanjutkan hidup yang damai. Jangan suka bermusuhan karena akhir dari sebuah permusuhan tidak ada yang indah. (*)


*Penulis: Tengku Zulkifli Usman (Analis Politik Islam)

Sumber : 
https://www.eramuslim.com/berita/nasional/surat-terbuka-untuk-haters-ulama-dan-uas.htm#.XVtyD-gzbIU

31 Juli 2019

Watawa showbil haq, watawa showbish shobr


Mengingatkan orang lain dalam hal kebaikan adalah kewajiban setiap orang.
Gak perlu liat latar belakangnya.
Gak perlu tahu agamanya.
Gak mesti dari kalangan ningrat.
Gak harus dari seorang yang punya jabatan tinggi.
Jika itu baik, tidak melanggar norma dan adat, tidak bertentangan dalam urusan agama, apa salahnya sih terima kebaikan itu, walau berupa ucapan atau tulisan. Setidaknya diam sejenak, menyimak, atau sekedar mendengarkan.
Jika itu baik buat kamu, kenapa mesti ragu untuk menerimanya.
Dan kemudian mengamalkannya.

Kita semua tahu
Kita semua sadar
Bahwa tidak semua orang bisa menerima masukan
Bahwa tidak semua orang bisa menerima nasehat
Bahwa tidak semua orang bisa diajak diskusi dalam kebaikan

Pertanyaannya adalah, mau sampai kapan orang itu bersikap seperti itu?!

Kadang kita mendengar orang yang ketika di nasehati untuk tidak berbuat yang tidak semestinya, ia bahkan malah menganggap kita sebagai orang munafik.
Dengan lantang ia berkata, “udahlah jangan sok alim” atau “ah, lu juga dulu pernah begitu” atau “ah, yang lain gak masalah kok, lu aja yang baperan” atau kalau udah kepepet dia bilang, “iyaa.. gw emang kotor, gak kayak lu yang udah jadi manusia suci tanpa dosa” atau bisa juga dia bilang, “Tuhan itu menciptakan yang baik dan yang jelek, nah gw kebagian yang jeleknya. Udah takdir. Gw aja gak masalah, kok lu yang repot

Ada juga loh yang didepan dan dibelakang beda. Ketika kita sampaikan yang benar, dia manggut-manggut, kasih jempol, dan yang lainnya ada yang no comment, ehh pas dibelakang, dia malah nyinyir.

Banyaklah.

Ya itu tadi, manusia itu beda-beda.
Kalau sama mah kembar namanya.
Butuh ‘tangan’ Tuhan untuk merubahnya.
Atau memang sudah menjadi takdirNya?!

Perlu juga kita perhatikan, dalam menyampaikan kebaikan juga harus dengan cara yang baik dan benar. Jangan disampaikan dengan cara menyombongkan diri, atau terkesan menggurui, seakan-akan orang yang ada dihadapan kita adalah orang ‘kecil’ yang mengerti apa-apa.
Dan perlu kesabaran.

Watawa showbil haq, watawa showbish shobr.


29 Juli 2019

Nggak ribet kok


Brother and Sister all over the world.

Saya mau ngingetin buat Bro and Sis dimana saja.
Ini juga buat ngingetin saya juga tentunya. Isteri saya. Anak-anak saya.

Ngingetin tentang penggunaan hape.

Terutama untuk pemasangan wallpaper, atau juga picture profile baik di media sosial ataupun di aplikasi apapun yang ada di hape. Semua menyangkut masalah pemilihan atau pemasangan gambar islami, baik berupa gambar kaligrafi atau berupa doa, atau apapun yang didalamnya ada lafadz Allah, atau ayat-ayat Allah, atau hadist Nabi.

Menjadi bagus, apabila memang berada pada tempat dan lokasi yang baik. Bisa jadi ini akan menunjukkan pada dunia (sekitar) bahwa kita adalah seorang Muslim (yang religius).

Namun akan menjadi tidak bagus, bahkan terlarang, ketika kita membawa dan mengaktifkannya sehingga gambar atau tulisannya menjadi terbuka/terlihat jelas ketika berada di tempat terlarang, sebut saja toilet atau WC.

Hal lainnya adalah nada dering atau nada pengingat (alarm) termasuk didalamnya adalah notifikasi adzan, yang kesemua nadanya adalah ayat-ayat Al Quran.

Bisa jadi Bro and Sis tetap membawa hape ke dalam toilet namun tidak membukanya, bagaimana jika nada dering adalah bacaan Al Qur’an? Apakah ikut di silent mode juga?, jika tidak, dan berdering, maka sama saja hal itu adalah terlarang.

Khusus untuk nada dering, maka sebaiknya tidak menggunakan nada murottal atau pembacaan ayat Al Quran. Hal ini selain terlarang ketika berdering di dalam toilet, juga terlarang dimanapun ketika ayat yang dibacakan belum selesai secara sempurna namun sudah di matikan, maka akan menjadikan ayat yang dibacakan menjadi terputus dan mengakibatkan salah arti/pemahaman.

Kok jadi ribet ya?

Sebenarnya gak ribet-ribet amat sih, cuma kitanya aja kali yang mau kelihatan religius dimata orang lain, atau cuma mau gaya-gayaan.

Asesoris lainnya juga loh, seperti kalung, cincin dlsbg.

Biar aman, jangan pakai asesoris berlafadzkan Allah atau Muhammad. Khawatir ketika masuk toilet lupa di lepas.
Trus jangan membuka-buka hape di dalam toilet.
Bisa jadi Bro and Sis gak pakai gambar atau tulisan ayat-ayat Allah dan sejenisnya, bagaimana dengan teman-teman Bro and Sis? Apalagi kalau buka sosial media di dalam toilet, sangat riskan banget, karena banyak konten islami di sosmed yang juga terlarang di buka di dalam toilet.

Lebih aman lagi, gausah bawa hape ke toilet.

Nggak ribet kok.



26 Juli 2019

Ngerumpiin ghibah, boleh kok



Ngerumpi ya ngerumpi
Ghibah ya ghibah
Ngerumpiin ghibah ? emang ada? Ahh aya aya wae.

Menurut KBBI, ngerumpi adalah mengobrol sambil bergunjing dengan teman, biasanya dalam kelompok kecil.

Sementara Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri orang lain, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaqnya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).

Dalam Al Adzkar (hal. 597), Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Ghibah adalah sesuatu yang amat jelek, namun tersebar dikhalayak ramai. Yang bisa selamat dari tergelincirnya lisan seperti ini hanyalah sedikit. Ghibah memang membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, namun yang diceritakan adalah sesuatu yang ia tidak suka untuk diperdengarkan pada orang lain. Sesuatu yang diceritakan bisa jadi pada badan, agama, dunia, diri, akhlak, bentuk fisik, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, budak, pakaian, cara jalan, gerak-gerik, wajah berseri, kebodohan, wajah cemberutnya, kefasihan lidah, atau segala hal yang berkaitan dengannya. Cara ghibah bisa jadi melakui lisan, tulisan, isyarat, atau bermain isyarat dengan mata, tangan, kepala atau semisal itu.”

Jelas dong. Ngerumpi itu gak boleh. Ngerumpi bisa jadi sama dengan ghibah.
Ghibah sendiri juga jelas tidak boleh. Terlarang.

Nah kalo ngerumpiin ghibah?
Boleh.

Ngerumpiin ghibah yang saya maksud di sini adalah membicarakan tentang permasalahan ghibah itu sendiri, atau ngobrolin tentang hukum ghibah, membahas tentang apa-apa saja yang termasuk katagori ghibah.

Tujuannya apa?
Ya biar makin paham lah.
Biar bisa -setidaknya- mengurangi atau menghindar dari perkara yang bisa mengakibatkan kena perkara ghibah.

Gitu aja sih.

So..
Ngerumpiin ghibah, boleh kok.



18 Juli 2019

It has been banned

Guys,
You won't see me again on Facebook
It has been banned. Since end of June 2019

I only had one account. 
And it was real account.
I joint to Facebook on April 2009.
Woww, it is more than 10 years. Amazing !!.

If someone claimed to be me or pretends to be me or using my profile, my picture etc.,
I guarantee it is NOT ME
It is easy to create a new one
But I have not decided yet to do that.

If I am not mistaken, I have only 300 friends more or less in FB. Not much.
but most of them (more than 90 percent) are really my friends. I know them well.
And the rests are followers.
Some of them are also followers on IG. :)

I had two Fanpages
First : Abbhie.
it only has 110 followes more or less.
All posts in FP Abbhie was my original writing.

The second one is, I used the name of Owner of Pondok Pesantren in the Middle of Java.
The Famous one. Sorry, I do not mention the name.
But honestly, I created it for him and he knew it.
I made him as an admin, but he refused caused he was not familiar with Fanpage, and he was also not have much time to manage the Fanpage.
In a few months, this Fanpage has more than 50K followers.
And always has new followers everyday.
All posts in this Fanpage is copied from his account.

Both Fanpages are about da'wah.

Facebook allowed me to download memories.
But not for both Fanpages.

I am not sad at all losing my account on FB.
I am just curious why they did it to me.
Political issues made them not fair to take action.

_




16 Juli 2019

Maklumin aja. Namanya juga anak kecil (2)


Adzan berkumandang. Jelas terdengar. Tapi masih aja santai diluar masjid/musholla. Sambil ngobrol pula. Seakan gak mau kalah sama suara adzan. Ada juga yang sambil ngudut. “lagi nanggung” katanya. Perlu ditegur. Diingatkan. Dengan cara baik dan santun tentunya. Serta penuh kehati-hatian. Biasanya orang kayak gini sensinya tinggi banget. Ibarat kata, ‘senggol dikit gw bacok’. Kalau ketemu yang kayak gini jangan ambil hati. Biar hati plong. Maklumin aja. Namanya juga anak kecil.

Didalam masjid/musholla, orang-orang pada sholat sunnah, nunggu iqomat, ehh masih aja ngobrol. Kalo pake “sssttt…” gak mempan, liat ke mukanya, trus senyumin aja. Biar hati plong. Maklumin aja. Namanya juga anak kecil.

Didalam masjid/musholla, orang-orang pada dzikir nunggu iqomat, ehh dia masih sibuk main hape. Bukan sekedar ketak-ketik, chatting, tapi sampe telponan. Biar hati plong. Maklumin aja. Namanya juga anak kecil.

Masih didalam masjid/musholla, iqomat sudah selesai dikumandangkan, imam udah nyuruh merapatkan shof, barisan. Ehh masih aja duduk bersila. Diam ditempat. Apakah mereka tidak tahu keutamaan berada di shof terdepan? Entahlah. Biar hati plong. Maklumin aja. Namanya juga anak kecil.

Maklumin anak kecil, yang benar-benar kecil, karena umurnya masih belum baligh, adalah suatu keharusan. Karena mereka dalam proses pembelajaran. Bisa jadi hari ini diberi tahu, besok sudah lupa dan perlu diberi tahu lagi. Itu mah sudah lumrah.

Maklumin anak kecil, yang sudah tidak kecil lagi, karena memang usianya sudah dewasa adalah suatu keharusan yang dipaksakan. Mereka bukan lagi dalam proses pembelajaran. Mereka dalam masa kebiasaan. Kebiasaan yang tidak patut di contoh oleh anak kecil beneran. Menasehati mereka itu ibarat orang yang takut ketinggian, lalu naik ke atap rumah tanpa tali pengaman, deg-degan, kaki gemetaran, keringat dingin bercucuran. Perlu strategi yang jitu dan pas. Salah-salah malah bisa jadi perseteruan hebat.

Kalau mau aman ya itu tadi, maklumin aja. Namanya juga anak kecil.



Maklumin aja. Namanya juga anak kecil (1)

Mohon Maaf

Assalamu'alaykum, Di hari yang mulia ini Di hari yang telah lalu dan yang akan datang Mohon maaf atas segala salah dan khilaf Mohon maaf...