11 Agustus 2016

Traveling to Brussels (7)

Melelahkan !
Ya.. hari ini sungguh melelahkan. Mungkin karena semalam harus diskusi sampai tengah malam, ya beneran tengah malam, sampai jam 00:00, trus harus bangun lagi pagi-pagi buta. Ditambah lagi materi training hari ini banyak banget. Overload!. Rasanya mau meladak. Duaarrr....!!!
Menu makanan hari inipun nggak banget. Babi semua!!. Sampai-sampai waiter geleng-geleng kepala. "No for you for today Sir" gitu katanya. Dia tahu kalau saya gak makan babi. Pork. Karena sejak awal saya udah bilang, saya tidak makan itu. Dia respek banget dan saya yakin dia menduga-duga saja kalau saya adalah Muslim, cuma nggak berani nanya. Maklum dia juga sibuk. Walau dia juga jenggotan, tapi sepertinya dia bukan muslim. Ya... itu cuma dugaan. Tapi kayaknya tepat deh. Jenggot tidak identik dengan Muslim, dan disini banyak banget yang jenggotnya lebat tapi bukan muslim. Tapi Muslim disunnahkan memanjangkan jenggot. Bukan berarti yang gak punya jenggot itu dosa. Bukan. Bukan seperti itu cara menafsirkannya. Awass loohh hati-hati, ada kelompok yang makin terang-terangan, kalau tidak ikut sunah berarti bid'ah. Oppsss... saya gak mau ngebahas masalah itu disini.

Wallaa.... akhirnya dapet juga makanan. Si waiter itu ternyata perhatian juga. Saya diberinya Vegetable burger. No meat, katanya. Trus dia nyempetin nanya where are you from?  Saya bilang saya dari Indonesia. Trus dia agak muji-muji gitu, dia bilang pilihan makan saya bagus banget sambil kasih jempol dan berlalu.
Hilang penat sesaat di waktu makan siang. Setelah itu... lanjut lagi menghadapi kepenatan berikutnya. 

Entah firasat atau apa, istriku mengirim foto-foto lucu, di sela-sela kepenatanku. Foto-foto selfinya setelah sholat. Sebelumnya dia gak pernah kayak gini, tapi ya itu tadi, mungkin firasat kali kalau suaminya ini butuh hiburan. Wkwkwkwk dalam hati, agak senyum-senyum ngeliatnya. Gak mungkinlah terbahak-bahak, bisa-bisa yang lain terganggu. Hilang penatku. Makasih ya istriku.

Kemarin, siang hujan sebentar. Trus terang lagi. Tapi tetep aja dingin. Ehh... sekarang dari siang sampai sore hujan. Gak deras sih. Woow dinginnya minta ampun. Cloudy 15 derajat celcius. 

Aktifitas rutin pas masuk kamar hotel, wudhu, sholat, abis itu berendem air hangat.


---


10 Agustus 2016

Traveling to Brussels (6)

Bosen dengan makanan yang itu-itu aja di hotel, sementara lingkungan sekitar cuma ada hotel lain, maka semalam kami dinner di hotel sebelah. Hotel Penta namanya. Ada beberapa hotel disini, dan sepertinya hotel ini memang dipertuntukkan untuk pengunjung yang lokasinya tidak jauh dari bandara sekitar kurang lebih 5 km. Tapi sayangnya tidak ada apa-apa di sekitaran hotel. Boro-boro pedagang asongan, yang pada mangkal pinggir jalan juga gak ada. Pokoknya susah deh kalau mau cari cemilan. Harus pergi ke pusat kota kalau jalan-jalan kuliner atau belanja, minimal cari-cari souvenir.

Wuiiiss..... bener aja dugaan saya. Anginnya diingiiinnn buanggett..... padahal perjalanan ke hotel sebelah cuma gak sampai 100 meter. Tapi dinginnya gak nahan. Langkah kaki dipercepat, gak butuh tengok kiri-kanan. Lagian juga gak ada apa-apa. Sepi. Kayak kota mati. Semua orang berlindung dibalik dinding. Alias didalam hotel. Mungkin karena mereka tamu jadi buat apa keluyuran, sementara gak ada penduduk pribumi di sekitaran, yang terlihat cuma mobil satu-dua-tiga yang lalu lalang. Gak lebih.

"Assalamu'alaykum..." bisikku dalam hati ketika masuk hotel sebelah. Celingak-celinguk sebentaran. Ternyata di hotel ini banyak bule. Oppss... ini kan dinegeri orang, pastinya bule sliweran. Kalau banyak orang Indo nah itu baru aneh. Hmmm... gak juga sih, bisa jadi rombongan pariwisata. 

Pesen meja buat tiga orang. Daftar menu keluar. Eng...ing...eng..... ternyata menunya gak beda jauh. Steak, kentang, salad dan cuma itu-itu aja. Minumannya juga sama  lebih banyak minuman berakohol.  Glek !

Gak banyak yang dibahas saat makan malam. 
Pemilik hotel sepertinya lagi ngirit buat bayar listrik, buktinya sepanjang mata memandang cuma tak ada lampu yang menerangi seluruh ruangan. Remang-remang. Pertama masuk terasa agak gelap, lama kelamaan terbiasa.

Yang ada dipikiran waktu makan adalah, gimana nanti balik ke hotel tempat kami menginap yang jaraknya tidak jauh cuma harus melewati jalan luar yang dinginnya minta ampun. Belum seberapa sih kalau kata si Mani. Di Saudi pernah sampai 3 derajat celcius. Agak terperanjat dan tidak percaya juga sih apa yang dia katakan, masa sih Saudi, negeri yang panas gitu bisa dingin. Tapi saya harus percaya, karena saya mendengar langsung dari mulutnya yang memang bekerja disana. 3 derajat tapi tanpa salju. Dan kalau suhu dibawah 10 derajat itu sering juga terjadi di sana. Jadi penasaran ingin ke Saudi. Tapi bukan buat kerja. Buat ibadah. Mau ke Mekah, trus ke Madinah buat ibadah haji dan umroh. Semoga Allah mengabulkan permohonanku. Doa terus kupanjatkan disetiap waktu. Ku yakin banget bakalan dikabulkan suatu saat, bahkan dalam waktu yang dekat. Allah Maha Berkuasa.

Selepas makan malam, kami bergegas menuju hotel. Dengan perut yang sudah terisi, saya kira saya akan kuat menahan dinginnya hembusan angin malam. Opps... belum malam ternyata, padahal waktu menunjukkan pukul 21:15. Masih terang. Ternyata dengan perut yang sudah terisi pun justru saya makin menggigil. Topi kupluk yang saya bawa membantu menghangatkan kepala dan telinga saya. Sensasi ini sih belum luar biasa, karena saya pernah mengalaminya saat di Lembang Bandung. Saat itu ba'da subuh jalan-jalan keliling sekitan villa, mulai terang tapi hembusan anginnya menusuk tulang, dan saat bicara hembusan nafas kami berkabut bagai seorang perokok yang menghembuskan isapan rokoknya.
Iya, belum seberapa, dan saya tidak berharap mendapatkan yang lebih lagi. Lebih dingin lagi. Saya bukan pemimpi. Saya tidak kuat dingin.

Masuk hotel, lagi-lagi berendam ait hangat, setelah itu wudhu dan sholat maghrib.




Traveling to Brussels (5)

Apaan sih. Gak jelas banget. Jelek. Gak bermutu. Itu loh tulisan-tulisan sebelumnya, traveling ke Brussels 1-4. Maksain banget. Bahasanya gak rapi. Ulasannya simpang siur.
Tapi ya begitulah. Terlalu pede jadinya norak

Yup. Saya memang bukan penulis. Cuma iseng-iseng yang nggak berhadiah. Saya tuh nggak biasa dan nggak kayak kebanyakan orang yang doyan cerita pengalaman diri sendiri ke orang lain secara lisan (kecuali ada yang maksa nanya) dan dengan mimik yang bersemangat dan menggebu-gebu. Agak jarang banget buat bisa cerita sama orang lain. Sama keluarga aja juga kadang-kadang saya mah nggak suka cerita. Kalaupun ada paling yang sifatnya candaan. Yang lebih sering sih ceramahin mereka, ngingetin, atau kalau kata orang jawa sih biar pada eling.

Kalau lagi pengen ngomong banyak, ya di tulisan ini. Udah lama juga gak buka-buka blog ini. Palingan yang terakhir-akhir cuma copas. Cuma sekarang lagi ada kesempatan aja, ngisi waktu luang. Sambil nunggu waktu buat makan malem sama temans. Masih ngerasa agak aneh aja, makan malam tapi matahari masih nyorot kenceng. Waktu maghrib aja jam 9 lewat. Isya menjelang tengah malam. Tapi untungnya nih badan gampang dibawa adaptasi sama perbedaan waktu. Yang gak tahan cuma perut, yang sampai sekarang gak ketemu nasi. (Uppss... udah diceritain ya kemaren. ya gitu deh, nulis ngalor ngidul).

Hari ini cuaca cerah. Seharian dikantor gak ngerasa dingin atawa panas. Biasa aja. Begitu keluar kantor, wuiiissss..... dingin banget anginnya. Buru-buru naik taxi, tutup pintu, biasa lagi deh. Kelamaan dikit aja diluar, bisa-bisa menggigil, masalahnya hari ini gak bawa jaket. Gimana kalau lagi musim salju ya? Dasar norak bin kampungan, baru segitu aja udah kedinginan. Tapi emang bener sih, saya itu gak kuat sama cuaca dingin. Alergi. Suka pada bentol-bentol. Gatel sono sini. Tapi untungnya ada obat alergi yang disiapin sama istri tercinta. Dia emang tahu banget kalau suaminya ini gak kuat dingin. 

Berendem. Ya gitu deh sehari-hari disini. Pake air hangat. Bilasnya baru air yang agak dingin, biar pori-porinya ketutup rapat dan hawa hangat tetep ada ditubuh. Jadi abis mandi rasanya suegeerr.... gak kedinginan lagi.

--




08 Agustus 2016

Traveling to Brussels (4)

Akhirnya si koper kembali ke pemiliknya. Mani jejingkrakan. Lucu juga ya orang India satu ini. Kemaren blingsatan sekarang jejingkrakan. Tapi mungkin saya juga akan demikian kali ya. Maklumlah di negara orang untuk waktu yang nggak sebentar sementara pakaian dan segala kebutuhan yang di simpan di koper malah berpisah. Ya wajar aja kalau ketemu girangnya bukan main. Kisah Rangga dan Cinta yang di AADC 2 sih lewat. Mereka, si Mani dan sang Koper begitu mesranya. Suitt... suitt...

Kalau si Mani dan koper tidak bisa dipisahkan, lain halnya dengan saya. Saya masih belum menemukan yang saya idam-idamkan. Sudah masuk hari ketiga, masih belum ada tanda-tanda. Sepertinya saya harus berjalan lebih jauh lagi, tapi... waktunya sempit. Training disini memang sampai sore dan saya harus balik ke hotel buat sholat zhuhur, masih sempet. Dan nggak lama kemudian langsung sholat ashar. Trus ngerjain laporan dulu. Abis itu baru bisa jalan, itu juga kalau nggak cape dan temen-temen mau di ajak. Kalau sendiri mah agak males. Tau gak apa yang saya pengenin. Nasi. Udah masuk hari ketiga belom makan nasi. Ketemunya kentang, roti dan itu-itu aja. Palingan selingannya salad. Kenyang juga sih. Tapi yang namanya penduduk asli Indonesia, kalau belum ketemu nasi kayaknya belum makan. Nih perut udah krucak krucuk, bukan lapar tapi kayaknya ada yang gak beres. 

Hari ini komunikasi sama keluarga kurang lancar. Cuma masalah waktu aja sih. Selisih 5 jam. Di sini masih terang, ehh disana udah gelap, udah pada tidur, soalnya message gak di bales. Bisanya cuma pagi, itu juga gak lama. Tapi nggak apa-apalah, yang penting mereka sehat-sehat semua. Saya yakin banget kok mereka selalu mendoakan kebaikan dan keselamatan buat saya yang jauh dari mereka. **edisi kangen**

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatina qurrota a'yun waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa. 



Traveling to Brussels (3)

Dari pas landing di Brussels, saya terpaksa nahan pipis. Soalnya tiap kali masuk toilet si urinoir, itu loh tempat pipis laki-laki posisi berdiri, gak ada air buat cebok, kalo gak antri sih mungkin saya akan mundur dikit trus pas airnya keluar baru deh saya maju lagi, tapi kalau lagi antri kayaknya gak mungkin. Kok antri sih. Ya iyalah, ternyata pas abis keluar pesawat banyak juga yang pengen pipis di toilet dibandara, mungkin mereka juga gak nyaman kali kalo pipis di pesawat atau gak enak sama penumpang lain harus permisi dulu dan ganggu mereka, khusunya buat yang duduknya dekat sisi jendela. Nah saya, tiap kali naik pesawat selalu pilih duduk di sisi dekat jendela. Nikmati sensasinya.
Lanjut lagi masalah pipis tadi, akhirnya saya cari ruangan tertutup yang ada closetnya, tapi sayang, selalu gak dapet. Tertutup rapat, dalam antrian juga, jadi saya batalin deh. 
Akhirnya saya buru-buru cari taxi menuju hotel. Perjalanan dengan taxi cukup singkat. Tuh taxi ngebut. Wuuussss.... gak sampe lima menit udah ditujuan. Jalan disini emang sepi banget. Mobil yang lalu lalang antara airport sampai hotel bisa dihitung dengan jari. Itulah makanya tuh taxi ngebut. Padahal jaraknya lebih dari 5 km. Tapi gak sampe 5 menit. Coba kalo di Jakarta bisa setengah jam. Mungkin juga lebih.

Akhirnya sampe juga di hotel. Tuh kan sama aja. di toilet gak ada flush. Semprotan air yang di kloset. Makanya kalau mau 'jongkok' udah nyiapin air dulu buat cebok. Dari situ saya makin nggak meragukan kalau banyak non-muslim yang nggak cebok kalo abis pipis. Bahkan mungkin kalau abis be a be cuma di lap sama tissue. hmmm menjijikan! 

Buat non-muslim yang baca ini, jangan buru-buru tersinggung dibilang menjijikan, tapi emang begitu kan kenyataanya ?! Seperti yang saya bilang sebelumnya, gak semuanya sih, tapi kebanyakannya seperti itu.

Habis bebersih, wudhu, trus sholat zhuhur. Waktu zhuhur di sini hampir menuju jam 2 siang dan waktu ashar hampir jam 6 sore. Masih keburu sholat zhuhur walau waktu sudah menunjukkan hampir jam 3.

Abis itu. Rebahan.

Traveling to Brussels (2)

Alhamdulillah diberi kekuatan dan kesempatan buat curcol lagi.

Sebelumnya sih curcolnya lebih ke masalah edisi tafakkur. Mikir. Merenung. Sedikit membandingkan antara antrian di dunia dengan di akherat kelak. Jujur, saya sering banget kepikiran yang kayak gitu. Mungkin faktor umur kali ya, yang makin lama lebih kepikiran masalah akherat. Kalau nggak sekarang ya kapan lagi. Jatah hidup sampai kapan juga gak tau. Tapi dalam doa terus-terusan minta supaya husnul khotimah. 

Nah sekarang.... sedikit aja saya ceritain teman saya yang harus 'kehilangan' tas kopernya.
Dibilang hilang sih kayaknya nggak juga, cuman belum ketemu aja. Ada sekitar 18 penumpang yang mengalami hal yang sama. Jadi kemungkinannya sih cuma salah tujuan aja. Kali aja tuh tas koper mau ngelancong sendiri. Hal ini sih biasa terjadi walau mungkin nggak sering-sering amat. Dan alhamdulillah nggak terjadi sama saya.

Namanya Mani Kandan. Ia orang India dan bekerja di Saudi Arabia. Penerbangan dari Dubai ke Brussels. Nah pas tiba di Brussels dan antri untuk ambil bagasi, tuh tas gak nongol-nongol sampai berkali-kali putaran tas di longokin gak juga ada. Ehh ternyata dia liatin beberapa penumpang lain pun mengalami hal yang sama. Akhirnya mereka rame-rame komplen ke petugas yang akhirnya di dapet informasi walaupun belum tepat tas-tas tersebut masuk kabin pesawat yang salah. Kok bisa ya ?!. Ya bisa ajalah. Human error. Manusia kan tempatnya salah. Tapi bisa bikin parno juga sama penumpang yang ngalamin hal yang sama. Saya jadi ingat, seorang teman juga pernah cerita, ketika pulang dari Makasar ke Jakarta, ehh ternyata tasnya malah ke Surabaya. Tuh tas nyelonong aja. Mungkin pengen nyobain pesawat yang lain kali. Lol !

Si Mani teman saya itu sampai kemarin pun terus mantau keberadaan tasnya lewat website. Pihak airport janji akan kirim ke hotel. Dan sampai berita ini diturunkanpun belom ada kepastian kapan tuh tas akan balik kepemiliknya.
Makanya kemaren seharian jalan-jalan ke pusat kota Brussels, cari-cari pakaian buat kerja besok. Soalnya sampai hari kedua disini si Mani belom ganti pakaian. Wow kebayang kan betapa lengketnya tuh kolor kalau mau dibuka. Joroookk !! Tapi mau di kata apa, itu kan emergency. Mudah-mudahan sih dia tau apa itu cebok alias bilas kalau habis pipis. Tapi kayaknya dia gak tau deh yang gituan, soalnya dia non-muslim. Ada juga sih beberapa non-muslim yang cebok kalo habis pipis tapi sejauh yang saya amati kalau lagi di toilet, banyakan yang gak dicuci. Jadi kebayang kan ?! 
Oppps.... kebayang loh bukan dibayangin.
Itu buat non-muslim yang laki-laki loh. Saya sih gak tau kalau yang perempuan. Ngapain juga cari tau. Gak penting. Tapi setidaknya saya sih bersyukur banget jadi Muslim, soalnya hal kecil kayak gitu aja ada aturannya, dan harus diikuti. Selain buat kebersihan juga buat kesehatan. Tapi intinya sih itu perintah dan hikmahnya pastilah ada.

Nah hari ini, adalah hari pertama kami mulai ngantor. Jadi penasaran sama si Mani dengan pakaian yang baru dibelinya.

Udah dulu...
----


07 Agustus 2016

Traveling to Brussels (1)

Kalau dibilang traveling sih nggak juga, karena ini cuma tugas kantor, tepatnya training. Mumpung tiba lebih awal dan bertepatan diakhir pekan, makanya ada sedikit waktu buat nulis lagi. Udah lama juga gak update halaman ini, apalagi yang terakhir-akhir cuma copas artikel aja dari berbagai sumber, itu saking malesnya, bukannya gak ada ide, tapi memang nggak nyempetin aja buat duduk tenang trus nulis. Tepatnya sih curcol.

Oke, back to topic.
Kemaren sempet bikin status di path langsung di share di fesbuk. Agak alay sih. Walau tiap kali update apapun jarang sekali yang komen atau cuma sekedar like. Ya wajar aja sih, soalnya saya sendiri juga jarang banget like apalagi komen sama status-status orang laen. Kecuali kalau itu bener-bener manfaat buat orang banyak baru deh saya like, komen atau share. Setidaknya ikut andil menyebarluaskan. Walau mungkin diantara yang sekian banyak yang di like bisa jadi ada yang cuma hoax alias berita yang tidak benar. Maafin yak.

Opps.. balik laki ke topik. Kan judulnya traveling, jadi ngomongin tentang perjalanan saya aja lah atau apa yang ada dipikiran sebelumnya. Yang ditulis di medsos diatas itu adalah tentang pebekalan. Cuma buat jalan ke Brussels aja persiapannya panjang, harus ngurus visa dulu. Waktu ngurus visa juga banyak dokumen yang harus di persiapkan termasuk dana. Salah satu dokumen yang perlu ada adalah alasan kenapa mau berkunjung ke Brussels atau jika untuk keperluan pekerjaan ya harus ada undangan dari seseorang atau perusahaan yang ada di Brussels. Kalau tidak ada, alamat visa gak bakal dikeluarkan alias gak bisa berkunjung. Semua proses itu harus menunggu lebih kurang 15 hari. Itu baru visa, belum lagi buat urusan pekerjaan dan atau untuk kebutuhan pribadi, seperti pakaian. Ini kan eropa, dingin walaupun panas. Jadi perlulah beli jaket atau pakaian yang bisa menghangatkan tubuh. 

Koper. Nah  barang satu ini sangat diperlukan. Udah punya sih, tapi kecil. Butuh yang lebih besar, bukan karena mau ngepak banyak pakaian, tapi karena memang harus bawa banyak soalnya agak lama gak seperti biasanya yang paling lama cuma seminggu. 

Yupps.. bravo. akhirnya dapat juga. Beli sih. 

Nyeritain ginian tuh sebenarnya cuma lagi ngebanding-bandingin sama bekal yang kita perluin buat pulang ke kampung akherat. Mereka yang pulang kampung halaman yang biasanya tiap hari raya aja butuh bekal yang banyak, apalagi pulang ke kampung akherat. Nah itu dia poin nya.
Nah yang di sharing di medsos itu ya itu tadi, ngomongin bekal yang dibutuhin buat ke akherat. Lagi mikirin gimana caranya supaya dapet undangan dari Surga supaya bisa masuk, seperti undangan dari negara yang akan kita kunjungi kalau kita mau masuk sana.
Gimana kalau Allah gak ngundang ? Alamat celakalah yang bakal kita dapet. Naudzubillah.
Apa sholat kita cukup buat dapet undangan ?
Apa zakat kita cukup buat bisa masuk surga ?
Apa haji kita (bagi yang udah berhaji) cukup buat Allah mengundang kita ke surga?
dan masih banyak lagi pertanyaan laiinya.
Apa jangan-jangan kita yang udah ngerasa amal kita banyak justru malah di coret semua gara-gara masih ada sifat iri dengki atau ghibah sana-sini atau ngerendahin amalan orang lain, nuduh ini nuduh itu dll. Sekali lagi Naudzubillah min dzalik, kami berlindung kepada Allah dari yang demikian itu.

Penantian yang berasa lama di bandara atau pada saat transit di Dubai, itu belum seberapa. Lagi-lagi jika dibandingkan dengan penantian kita di akherat kelak. Woww gak kebayang deh lamanya.

Waktu ngelongok dari jendela pesawat, semua kecil. Asli kecil banget sebelum akhirnya gak keliatan karena ketutup sama awan. Kali ini berada di antara awan atau diatasnya. Kamu yang super obesitas pun gak keliatan. Kita tuh kecil banget. Pernah juga liat video kalau kita keluar dari bumi. Ternyata bumi juga cuma setitik bahkan kalau jalan lebih jauh lagi, bumi yang segitu gedenya kalau dari sisi kita yang ada didalamnya itu gak keliatan sama sekali. Jadi apa yang bisa disombongin. hmm... kadang-kadang sifat ini terbersit juga didalam hati. Nganggap remeh orang lain itu juga kesombongan. Kita itu remeh banget. Gausah di 'mata' Allah, dibandinigin  sama bumi aja kita udah gak ada apa-apanya.

"Allahu Akbar"... zikir itu yang selalu ada dihati saat mata menjulur keluar jendela pesawat. Andai Allah kirim angin kencang di atas sana, habislah kita semua. Gak bisa deh curcol kayak gini.

Allah-lah yang Maha Besar. 
Kita..?! gak ada apa-apanya.

Terbayang ketika menghadiri kajian, ketika kita takbiratul ihram dan berucap Allahu Akbar, maka kecil dan remehlah kita. Itu yang seharusnya ada dibenak kita, biar khusyu'. Abaikan semua urusan dunia. Dan tetaplah fokus kalau Allah itu Maha Besar. Kita butuh pada-Nya. Allahusshomad.

Yaa Robbi, 
Sungguh kami memang kecil
Kami memang remeh
Kami bukanlah apa-apa
Jika bukan karena Rahmat-Mu, maka sengsaralah kami
di dunia 
lebih-lebih di akherat kelak.

Robb..
Kami tahu, Kau tidak pernah lengah sedikitpun kepada kami
Jangan Kau biarkan kami menyimpang
Jangan biarkan kami keluar dari jalan yang Kau telah tunjukkan melalui Rosul-Mu
Nabi Muhammad sholallahu 'alayhi wasallam.

Robb,
Selamat kan kami
Ridhoi kami
Undang kami ke jannah-Mu

Wa shollahu 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammad.

Aamin..


---

Ntar kalau sempet lagi, gak ada gangguan lagi, saya lanjutin lagi kisah perjalanan saya ke negeri orang ini, mumpung lagi ada disini, salah satunya adalah ketika teman saya dari negara lain yang tidak mendapatkan tas kopernya yang sampai saat ini dia walau sudah di hotel juga belum dapat kabar kapan tuh koper bakalan kembali ke pemiliknya.


Aug 8, 2016
Sam

Mohon Maaf

Assalamu'alaykum, Di hari yang mulia ini Di hari yang telah lalu dan yang akan datang Mohon maaf atas segala salah dan khilaf Mohon maaf...