Artikel yang dimuat dihalaman ini bisa berupa apa saja, dari motivasi diri sampai perbaikan akhlaq. Saya hanya berupaya untuk bisa sharing ke semua orang tanpa terkecuali, dan saya mengharapkan feed back yang positif, karena sesungguhnya motivasi diri dan perbaikan akhlaq yang dimaksud adalah lebih dikhususkan utk diri saya sendiri dan keluarga dan mudah2an bisa bermanfaat utk siapa saja tanpa bermaksud menasehati apalagi mengurui. Opps... ada juga yang copas. Afwan*
09 Juli 2019
Tuhan 9 cm berkepala api
Puisi karya Taufik Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-‘ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini...
🌻Taufik Ismail 🌻
Edisi Copas From Group WA
16 April 2019
Kiyeu wae, ngenah...
“Maneh mah ulah hayang jadi Kyai, sok di pihukum ku batur. Kiyeu wae, ngenah”
Begitulah kata yang keluar dari lisan seorang Kyai pimpinan dan pengasuh pondok pesantren yang didirikannya di wilayah Bogor. Ketika itu saya baru beranjak dewasa, sudah makin kritis.
Beliau adalah KH. Abdul Salam. Masih ada hubungan saudara. Saya memanggilnya dengan sebutan Kang Haji. Akang yang berarti kakak dalam bahasa Sunda. Ya, beliau adalah kakak saya, anak dari uwak saya.
“Kamu gak usah kepengen jadi Kyai, suka dijadikan hukum sama orang lain” begitu kira-kira artinya.
Dari penjelasannya yang panjang lebar, mengertilah saya apa yang dimaksudkan oleh Kang Haji. Seseorang yang ‘diberi’ gelar Kyai oleh masyarakat setempat, punya beban tanggungjawab yang sangat berat. Setiap gerak langkahnya akan ditiru oleh orang lain dan dijadikan dalil bagi orang lain untuk mengikutinya. Setiap ucapannya adalah bahasa hukum yang harus dipatuhi oleh orang lain. Dengan kata lain, menjadi seorang (yang diberi gelar) Kyai, haruslah menjadi sosok yang (paling tidak) sempurna. Wow berat juga ya Bro! Padahal sejatinya, manusia itu tidak luput dari kesalahan, tidak terkecuali seorang Kyai/Ulama. Satu saja khilaf yang dilakukan oleh seorang Kyai, dan diikuti oleh jamaahnya, maka sulit untuk kembali meluruskannya. Biasanya beliau melakukan klarifikasi pada jamaah yang rutin datang ke pengajiannya.
Lain halnya bila ada seseorang atau sekelompok orang yang memang tidak suka terhadap sosok Kyai atau Ulama. Kesalahan Kyai atau Ulama adalah senjata ampuh untuk menjatuhkannya. Bahkan mereka tidak peduli berita itu datangnya dari mana. Mereka mendengarkan bukan untuk menambah ilmu, namun untuk mencari celah kapan sang Kyai salah bicara.
Bila ada orang yang menasehatinya untuk tidak menghujat, menghina ataupun menyudutkan Kyai atau Ulama, hanya karena (anggaplah) kesalahan yang tidak disengaja, maka mereka akan semakin membabi buta, dan dianggapnya kita (yang menasehati) sebagai fanatik buta.
Di ujung kalimat berbunyi, “.. Kiyeu wae, ngenah” Begini saja, enak. Artinya jadilah orang biasa saja. Bisa bebas melakukan apa saja, dan tentu saja dengan tetap tidak melanggar aturan, terutama aturan agama.
Begini saja, enak. Artinya juga, kita bisa masuk ke kalangan mana saja, berda’wah dengan cara apa saja, dengan bahasa apa saja, tidak perlu formil. Menjadi seorang Kyai punya keterbatasan dalam menyampaikan da’wah. Salah satu contoh kecil saja, jika ia berpapasan dengan seorang Muslimah tanpa hijab dijalan, dan Muslimah itu bertanya satu-dua persoalan, atau sekedar menyapa, dan seketika sang Kyai menjawab atau memberikan pencerahan, maka hal itu bisa menimbulkan salah pengertian bagi orang lain yang pada saat itu tidak berada dekat dengan mereka, yang pada akhirnya bisa menimbulkan fitnah.
“.. Kiyeu wae, ngenah” Begini saja enak, tidak terbebani oleh keadaan apabila kita memberikan masukan pada orang lain. Kita bisa menggunakan bahasa mereka, gaya mereka, dan mereka yang mendengarnyapun dapat dengan nyaman berdiskusi, bahkan mengkritisi tanpa sungkan.
Begitulah kata yang keluar dari lisan seorang Kyai pimpinan dan pengasuh pondok pesantren yang didirikannya di wilayah Bogor. Ketika itu saya baru beranjak dewasa, sudah makin kritis.
Beliau adalah KH. Abdul Salam. Masih ada hubungan saudara. Saya memanggilnya dengan sebutan Kang Haji. Akang yang berarti kakak dalam bahasa Sunda. Ya, beliau adalah kakak saya, anak dari uwak saya.
“Kamu gak usah kepengen jadi Kyai, suka dijadikan hukum sama orang lain” begitu kira-kira artinya.
Dari penjelasannya yang panjang lebar, mengertilah saya apa yang dimaksudkan oleh Kang Haji. Seseorang yang ‘diberi’ gelar Kyai oleh masyarakat setempat, punya beban tanggungjawab yang sangat berat. Setiap gerak langkahnya akan ditiru oleh orang lain dan dijadikan dalil bagi orang lain untuk mengikutinya. Setiap ucapannya adalah bahasa hukum yang harus dipatuhi oleh orang lain. Dengan kata lain, menjadi seorang (yang diberi gelar) Kyai, haruslah menjadi sosok yang (paling tidak) sempurna. Wow berat juga ya Bro! Padahal sejatinya, manusia itu tidak luput dari kesalahan, tidak terkecuali seorang Kyai/Ulama. Satu saja khilaf yang dilakukan oleh seorang Kyai, dan diikuti oleh jamaahnya, maka sulit untuk kembali meluruskannya. Biasanya beliau melakukan klarifikasi pada jamaah yang rutin datang ke pengajiannya.
Lain halnya bila ada seseorang atau sekelompok orang yang memang tidak suka terhadap sosok Kyai atau Ulama. Kesalahan Kyai atau Ulama adalah senjata ampuh untuk menjatuhkannya. Bahkan mereka tidak peduli berita itu datangnya dari mana. Mereka mendengarkan bukan untuk menambah ilmu, namun untuk mencari celah kapan sang Kyai salah bicara.
Bila ada orang yang menasehatinya untuk tidak menghujat, menghina ataupun menyudutkan Kyai atau Ulama, hanya karena (anggaplah) kesalahan yang tidak disengaja, maka mereka akan semakin membabi buta, dan dianggapnya kita (yang menasehati) sebagai fanatik buta.
Di ujung kalimat berbunyi, “.. Kiyeu wae, ngenah” Begini saja, enak. Artinya jadilah orang biasa saja. Bisa bebas melakukan apa saja, dan tentu saja dengan tetap tidak melanggar aturan, terutama aturan agama.
Begini saja, enak. Artinya juga, kita bisa masuk ke kalangan mana saja, berda’wah dengan cara apa saja, dengan bahasa apa saja, tidak perlu formil. Menjadi seorang Kyai punya keterbatasan dalam menyampaikan da’wah. Salah satu contoh kecil saja, jika ia berpapasan dengan seorang Muslimah tanpa hijab dijalan, dan Muslimah itu bertanya satu-dua persoalan, atau sekedar menyapa, dan seketika sang Kyai menjawab atau memberikan pencerahan, maka hal itu bisa menimbulkan salah pengertian bagi orang lain yang pada saat itu tidak berada dekat dengan mereka, yang pada akhirnya bisa menimbulkan fitnah.
“.. Kiyeu wae, ngenah” Begini saja enak, tidak terbebani oleh keadaan apabila kita memberikan masukan pada orang lain. Kita bisa menggunakan bahasa mereka, gaya mereka, dan mereka yang mendengarnyapun dapat dengan nyaman berdiskusi, bahkan mengkritisi tanpa sungkan.
04 Maret 2019
Najwa Adinda
Dear
Najwa,
Kebersamaan
kita tak lama. Di usia 15 tahun, Allah Subhanahu Wa ta’ala telah memanggilmu,
untuk memberikan tempat yang terbaik di sisi Nya. Tidak ada yang dapat merubah
taqdirNya. Tidak ada yang dapat merubah ketetapanNya. Sungguh Allah Subhanahu
Wa ta’ala lebih mengetahui yang terbaik bagi hambaNya. Juga bagi kamu.
Kebersamaan
kamipun sesungguhnya fana. Hanya sesaat. Kami disini yang masih hidup di
duniapun sebentar lagi akan kembali kepada Nya. Kami akan menyusulmu. Berkumpul
bersamamu. Bersama umat Rosullulloh Shalallahu ‘alayhi Wasallam. Bersama dengan
orang-orang yang di cintai Allah dan Rosul-Nya.
Najwa,
kamu diwafatkan dalam husnul khotimah. InsyaAllah. Dan kami meyakini itu. Tidak
ada sebutir dosa yang melekat padamu. Namun justru Rahmat dan kasih sayang
Allah-lah yang menyertai hari-harimu. Surga adalah tempatmu. Doa-doa kami untuk
mu akan mengangkat kamu ke derajat yang lebih tinggi lagi di Surga-Nya.
Najwaku,
Kami
selalu bermohon kepada Allah Yang Maha Rahman, agar mengampuni dosa-dosa kami.
Dosa dan kesalahan kami ketika bersamamu. Dosa dan kesalahan kami dalam merawat
dan membesarkanmu.
Najwaku
sayang,
Tangisan
kami bukan untuk mu. Karena kepergianmu bukan untuk ditangisi. Kamu ahli Jannah.
Tangisan
kami adalah untuk kami. Untuk dosa-dosa kami.
Karena
kami tidak tahu, dimana kami akan diwafatkan, sedang apa ketika kami wafat, dan
dalam keadaan apa kami wafat, amal apa yang akan ikut bersama kami ketika kami
wafat, siapa yang akan selalu mendoakan kami disaat kami telah wafat.
Itulah
sesungguhnya tangisan kami.
Tangisan
kami adalah permohonan taubat kami kepada Allah Sang Maha Pengampun.
Semoga
Allah mengampuni kami.
Najwaku,
Kami
akan selalu bermunajat kepada Allah, agar Allah ridho pada kami, agar Allah
mengijinkan Rosul-Nya memberikan syafa’at kepada kami kelak, dan kami menyakini
bahwa kamu juga akan menjadi salah satu penyebab kami semua akan berkumpul di Surga-Nya
Faghfirlana
Ya Allah.
Fainnahu
laa yaghfirudz dzunuubana illa Anta.
22 Januari 2019
Mereka itu tamu Allah
Sudahlah jangan berpolemik. Jangan berprasangka buruk. Jangan iri hati. Jangan dengki.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh atas biaya orang lain alias gratis, entah karena memang dapat jatah dari kantor, dari komunitas, dari orang dermawan atau bahkan dari undian berhadiah.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena menjual asset, entah itu tanah, sawah, rumah kontrakan, kendaraan dan aset berharga lainnya.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena meminta diberangkatkan atau karena ‘menyelinap’ (numpang sana, numpang sini, sebrang sana, sebrang sini, hingga akhirnya sampai di tanah suci).
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena berhutang, atau memberi jaminan pada seseorang atau siapapun.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena menabung bertahun-tahun dan langsung membayar lunas saat jumlah uang telah mencukupi.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh lebih didahulukan daripada membeli rumah atau tempat tinggal yang layak.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena alasan apapun, toh mereka sampai tujuan dengan selamat, dan kembali dengan selamat pula, dan mudah-mudahan membawa pahala mabrur.
Apa yang kamu pusingkan dari alasan mereka sampai ke sana?
Apa yang kamu risaukan dari cara mereka?
Semua itu sudah ada dalam ketetapan-Nya
Dan mereka yang berangkat ke sana, yang kamu nyinyir karenanya, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, sakit hati atau malah bergembira, mereka itu adalah tamu Allah.
Lalu kamu sendiri bagaimana?
Apakah kamu sudah siap berangkat (lagi) kesana?
Dan kembali dengan membawa hati yang bersih tanpa nyinyir?
So, doakan saja agar mereka mabrur, dan bisa jadi teladan.
_
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh atas biaya orang lain alias gratis, entah karena memang dapat jatah dari kantor, dari komunitas, dari orang dermawan atau bahkan dari undian berhadiah.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena menjual asset, entah itu tanah, sawah, rumah kontrakan, kendaraan dan aset berharga lainnya.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena meminta diberangkatkan atau karena ‘menyelinap’ (numpang sana, numpang sini, sebrang sana, sebrang sini, hingga akhirnya sampai di tanah suci).
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena berhutang, atau memberi jaminan pada seseorang atau siapapun.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena menabung bertahun-tahun dan langsung membayar lunas saat jumlah uang telah mencukupi.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh lebih didahulukan daripada membeli rumah atau tempat tinggal yang layak.
Biar saja mereka berangkat haji atau umroh karena alasan apapun, toh mereka sampai tujuan dengan selamat, dan kembali dengan selamat pula, dan mudah-mudahan membawa pahala mabrur.
Apa yang kamu pusingkan dari alasan mereka sampai ke sana?
Apa yang kamu risaukan dari cara mereka?
Semua itu sudah ada dalam ketetapan-Nya
Dan mereka yang berangkat ke sana, yang kamu nyinyir karenanya, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, sakit hati atau malah bergembira, mereka itu adalah tamu Allah.
Lalu kamu sendiri bagaimana?
Apakah kamu sudah siap berangkat (lagi) kesana?
Dan kembali dengan membawa hati yang bersih tanpa nyinyir?
So, doakan saja agar mereka mabrur, dan bisa jadi teladan.
_
08 Desember 2017
Wisata ekstrim - The Journey
Pernah jalan-jalan kan?
Kata
lainnya biar keren adalah wisata, tour, melancong atau kalau kata anak kekinian
bilangnya jelong-jelong.
Biasanya
yang dijadikan tujuan untuk jalan-jalan atau berwisata adalah tempat-tempat
hiburan, rekreasi, entah itu ketempat permainan, atau ke pantai atau ke gunung
atau ke puncak, ke kebun teh, atau tempat-tempat bersejarah atau mungkin
sekalian berziarah. Tujuannya juga macem-macem, ada yang sekedar cari
hiburan, menghilangkan penat atau refreshing, mempererat hubungan atau
reunian, silaturahim, atau sekedar kongkow atau touring pake motor gede
atau komunitas mobil jadul, atau ada juga yang sambil berdakwah, bersedekah
atau berdonasi ke suatu tempat atau daerah yang jauh atau tujuan-tujuan
lainnya. Mereka masing-masing punya alasan tersendiri kenapa mereka berwisata.
Disini
saya nggak mau ngomongin wisata yang kayak gitu. Rata-rata semua orang udah
tau. Udah ngerasain. Saya mau ngomongin wisata yang lain daripada yang lain.
Yang lebih ekstrim daripada yang paling ekstrim. Seru.
Wisata
itu yang bikin seru itu bukan tujuannya, tapi perjalanannya. Liku-likunya.
Macetnya. Blom lagi ban kendaraan bocor. Dorong pula. Hujan pula. Jauh pula
ketempat tambal ban. Ditambah lagi pake salah jalan segala alias kesasar. GPS
mati. Henpon low batt. Macem-macem deh. Begitu sampai tujuan, datanglah
keseruan yang baru.
Pernah
gak wisata ke kuburan ?!.
Bukan
ziarah kubur loh. Tapi bener-bener menuju ke alam kubur.
"Ahh
gile lu ndro...?". Mungkin itu yang bakal terlontar dibenakmu.
Wisata
menuju alam kubur disini bukan dalam bentuk fisik. Kalau itu mah tunggu mati
dulu, baru deh masuk alam kubur. Lagian kalau udah mati, mana bisa sih cerita
keadaan didalam kubur sama yang masih hidup. Orang itu taunya kalau kamu wisata
itu adalah dari hasil sharing ceritanya, pengalamannya, upload foto-fotonya.
Dari situ ada yang bisa diambil pelajaran, mana yang bisa ditiru mana yang
harus dihindari. Tapi kalau udah mati beneran ya gak bisa cerita dong.
Sekali
lagi wisata ini bukan dalam bentuk fisik, tapi kamu cukup luangkan waktu kamu
sebentar aja, hanya beberapa menit saja. Trus nanti ceritain deh ke temen yang
lain pengalamanmu. Perjalanannya itu loh yang seru.
Gini
caranya.
Pertama,
niatin dalam hati bahwa kamu mau wisata. Siapin bekal. Bekalnya bukan nasi
beserta lauk pauknya, bukan juga bawa pakaian yang banyak apalagi bawa tenda.
Bekalnya adalah siapin waktu aja dan tenangin pikiran. Rileks.
Setelah
itu, coba banyangin deh hal apa aja yang menyebabkan kamu harus 'wisata' ke
alam kubur.
Yuk
kita mulai....
Sebelum
wisata ke alam kubur, kita harus mati dulu. Eng...ing..enggg... Bayangin dulu
deh proses kematian kamu. Terserah deh mau bayangin yang kayak gimana, misalnya
mati bunuh diri. Naudzubillah. Atau mati ketabrak kereta, atau mati karena
sakit parah, atau mati lagi sujud atau mati lagi baca Al Qur'an...
Yang perlu kamu tahu adalah adanya
proses sakaratul mawt. Proses yang akan dilewati oleh setiap manusia. Dan itu
sangat pedih. Saking pedihnya sampai-sampai kamu tidak bisa berkata-kata. Pedih
yang tak terkira. Pedih yang tidak bisa dibayangkan. Dan hanya bisa dirasakan. Nanti,
disaat sakaratul mawt. Sesungguhnya inilah kiamat kecil. Dan kamu akan
merasakan dan menyaksikan setiap detil keluarnya ruh dari dalam tubuhmu. Ruh
yang sejak proses tumbuhnya daging mulai ditiupkan. Ia menyatu dalam raga. Bisa
dibayangkan sesuatu yang telah menyatu sejak awal penciptaanmu, betapa rekatnya
mereka (ruh dan ragamu). Ibarat lem, ia sangatlah lengket, bahkan jauh lebih
dari itu, ia menyatu. Dan harus dipisahkan. Pedih.
Begitu
kamu mati, dan ruh-mu telah keluar dari tubuhmu, kamu bisa liat apa reaksi
sekelilingmu, apa yang terjadi disekelilingmu. Tangis. Jelas.
Sebengal-bengalnya kamu, orang terdekat kamu akan nangis. Kamu tak perlu tahu
apa motivasinya. Yang jelas mereka yakin kalau kamu gak bakal hidup lagi. Nggak
bakal rese lagi. Nggak bakal ngeribetin lagi. Nggak bakal ngatur-ngatur lagi.
Nggak bakal macem-macem lagi. Suami/istrimu beserta anak-anakmu nangis
sejadi-jadinya. Orang tuamu, pamanmu, bibimu pun demikian. Teman, tetangga,
kerabat dekat dan jauh, datang silih berganti, ada beberapa dari mereka yang
juga nangis, namun nggak sedikit yang gak bisa nangis, malah cerita-cerita
macem-macem. Bahkan ada juga loh yang bisa cekakak cekikik padahal tuan rumah
sedang berduka. Ada yang cerita tentang kebaikan atau cerita kenangan yang
lucu-lucu ketika bersama kamu sampai-sampai mereka lupa mendoakan keselamatan
buat kamu. Banyak dari mereka yang doanya cuma basa-basi aja (sorry kalau
nadanya agak su-uzhon). "Turut berduka ya", "Yang sabar
ya". Gitu sapaannya sama keluarga kamu. Trus berada di samping kamu sambil
agak nunduk. Entah ia cuma nunduk atau diiringi doa. Gak ada yang tahu. Ada
juga yang gak mau ngeliat jenazah kamu karena mungkin ia takut melihat orang
mati. Persis sama seperti yang kamu lakukan ketika kamu melayat ke tempat orang
yang meninggal. Pokoknya bayangin deh gimana situasinya saat itu.
Tanpa
di komando, saudara-saudara kamu termasuk anak-anak kamu juga tetangga terdekat
membagi-bagi tugas. Ada yang nyiapin bendera kuning. Ada yang nyiapin tulisan
pengumuman yang nantinya dibacakan di toa musholla atau masjid. Ada yang
menghubungi orang yang 'berprofesi' memandikan jenazah. Ada yang menghubungi
ustadz yang kelak akan membimbing keluargamu dalam pengurusan jenazah hingga
dikuburkan. Ada yang menghubungi pak RT untuk mengurus surat kematian. Ada yang
menyiapkan wadah untuk dijadikan sebagai tempat uang bagi orang-orang yang
datang berkunjung sekedar sebagai tanda duka cita. Ada yang pergi belanja
pakaian dinas terakhirmu yaitu kain kafan beserta kelengkapannya. Ada yang
mengurus kendaraanmu yaitu keranda. Semua berbagi tugas. Kompak.
Mulailah
pakaianmu semua ditanggalkan. Bagi mereka yang terbiasa mengurus jenazah,
mereka akan terlihat lihai saat menanggalkan pakaianmu. Ada yang langsung
sekali tarik, robek dan lepaslah pakaianmu. Ada yang memakai gunting atau pisau
untuk merobeknya. Bahkan ada yang dengan cara perlahan-lahan melepas pakaianmu
sama seperti ketika kamu melepaskan pakaian ketika kamu masih hidup. Cara-cara
melepas ini juga bisa disesuaikan dengan cara matimu.
Dipersiapkanlah
tempat pemandianmu.
Dibaringkan
tubuhmu diatasnya, dikelilingi oleh orang-orang yang hendak memandikanmu.
Sebagian keluarga ikut hadir dalam proses pemandianmu, sebagian lain menghindar
karena merasa tak mampu, merasa tak punya ilmunya atau merasa tidak tega alias
takut.
Dibasuhnya
tubuhmu dengan air yang dingin, mulai dari ujung kepala sampai ujung kakimu.
Digosok-gosokkannya dengan sabun bagian-bagian tubuhmu. Dibersihkannya anusmu
dari najis, juga kuku-kukumu. Dan kamupun diam tak berdaya. Apapun yang
dilakukan mereka yang memandikanmu, kamu pasrah. Entah apa yang kamu rasa saat
itu.
Disaat
yang sama, disisi lain, sekelompok kecil orang sedang mempersiapkan pakaian
kebesaranmu, kain kafanmu. Merobek tiap ujung kain kafan untuk dijadikan
sebagai tali pengikatmu. Dihamparkannya kain itu ditempat yang agak luas,
berlapis-lapis. Ditaburi dengan wewangian dan sejenisnya. Mereka menunggu dengan
sabar kehadiranmu untuk dibaringkan diatas hamparan kain kafan yang telah
disiapkan.
Di
sudut lain samar-samar terdengar beberapa orang tetap melantunkan ayat-ayat
suci Al Qur'an yang mereka niatkan untuk 'dihadiahkan' pahalanya untuk mu.
Juga masih terdengar tangisan
suami/istri dan anak-anakmu. Orangtuamu hanya bisa tertunduk diam, seakan
menyesali kepergianmu dan merekapun mempertanyakan kenapa bukan mereka yang ‘pergi’
lebih dulu.
Dan kamu menyaksikan itu semua.
Bisa jadi kamu ingin
berkomunikasi dengan mereka, bisa jadi kamu ingin memberitahu mereka, bisa jadi
kamu ingin bertanya pada mereka kenapa mereka menangis, namun mereka semua tak
lagi menghiraukan sapaanmu. Mereka tak bisa melihatmu, tak tahu apa yang kamu
katakan, dan mereka tidak ingin mendengar apa-apa lagi darimu. Walau mungkin
bisa jadi ketika kamu hidup, kamu memaksakan mereka mengikuti kemauanmu, mereka
wajib melaksanan segala titahmu. Bisa jadi ketika kamu masih hidup, kamu begitu
arogan, tak mau mendengarkan siapapun namun ucapanmu adalah sabdamu yang wajib
mereka kerjakan tanpa kompromi. Kini mereka mengabaikanmu.
Sesaat
kemudian mereka mengeringkan badanmu, setelah kamu di wudhu kan. Inilah saatnya
kamu di wudhu kan karena kamu memang sudah tidak mampu lagi padahal dulu kamu
mampu tapi kamu tidak mau untuk wudhu.
Kemudian
mereka membawamu menuju pakaian kebesaranmu. Dibaringkannya kamu di atas
hamparan kain kafanmu. Pasrah tak berdaya, dan kamu terus menatapnya. Helai
demi helai kain putih itu mulai dibalutkan ketubuhmu. Telinga, hidung dan
wajahmu dibalut dengan kapas sebelum semua terbungkus kain kafan. Mereka ikat
dengan kuat pakainmu dengan tali sisa robekan kain kafanmu, mulai dari bagian
bawah sampai bagian atas kepala. Sebelum mereka menutup wajahmu, mereka
mempersilahkan suami/istrimu juga anak-anakmu beserta kerabat dekatmu jikalau
mereka masih ingin menatap wajahmu untuk terakhir kali. Tangis meledak lagi
dari mereka yang merasa kehilanganmu. Tangis juga terdengar dari kedua
orangtuamu. Dan kamu tidak bisa menghentikan tangisan mereka. Dan kamu
mungkin masih bertanya-tanya kenapa mereka menangis. Dan kamu masih belum
merasa kalau kamu sudah mati.
Kini
kamu terbungkus rapi berbalut kain kafan putih yang nampak masih bersih.
Dibaringkan
tubuhmu di ruang yang agak lapang agar para pelayat bisa leluasa melihatmu. Dan
kamu tidak perlu protes ke arah mana kamu dibaringkan. Semua terserah mereka
yang hidup. Semua aturanmu sudah tidak lagi berlaku.
Silih
berganti para pelayat datang menghampiri. Berjajar disekitarmu. Suami/istrimu
bisa jadi terus terisak-isak, tak kuasa menahan tangis ditinggal oleh kamu yang
bisa jadi ketika kamu hidup justru mereka berharap kepergianmu karena
arogansimu. Di sisi kiri dan kanan anak-anakmu terus membaca Al Qur’an. Siapa
yang mengajarkan mereka ?, sudah benarkah bacaan mereka ?, pernahkah kamu
berada dihadapan mereka ketika mereka membacakan Al Qur’an lalu kamu
memperbaiki bacaan mereka ? Atau justru kamu sendiri tidak bisa membacanya
dengan baik dan benar? Atau hanya setahun sekali ketika datang bulan Ramadhan ?, Atau kamu
malah tidak pernah membacanya sama sekali ? Kini saatnya kamu terima apa saja
bacaan mereka, benar atau salahnya kamu tidak lagi bisa membantu mereka
memperbaiki bacaan mereka. Atau kamu ingin menyalahkan guru ngaji mereka?
Heeiiii….. pendidikan anak-anakmu adalah tanggung jawabmu! Memperbaiki bacaan
Al Qur’an anak-anakmu adalah kewajibanmu! Bukan guru ngaji mereka! Jikalau
bacaan mereka rusak atau tidak benar, masihkah kamu berharap pahala dari bacaan
mereka?
Lalu sampai kapan mereka akan
membaca Al Qur’an dan ‘menghadiahkan’ pahalanya untukmu? Atau saat ini saja
ketika kamu terbaring berbungkus kain kafan setelah itu mereka meletakkan Al
Qur’an di rak-rak buku mereka dan membiarkannya berdebu seperti yang kamu
lakukan ketika kamu masih hidup?
Bisa jadi kamu berharap mereka
terus membaca Al Qur’an. Dan itu cuma jadi harapanmu tanpa bisa kamu sampaikan
kepada mereka. Seharusnya kamulah yang menangis. Bukan mereka.
Kerabat mulai berkunjung.
Ada yang tulus berdoa. Ada yang
hanya tertunduk diam, bahkan ada yang hanya sampai depan rumahmu dan langsung
duduk-duduk dan bercengkrama serta enggan menemui jenazahmu, setelah itu pulang
dan menghilang. Bisa jadi saat itu kamu menarik-narik tubuh mereka agar
membacakan doa untukmu. Bisa jadi kamu mencoba menghalau mereka agar jangan
cepat-cepat pulang sampai kamu disholatkan atau dikuburkan. Bisa jadi kamu
berteriak ditelinga mereka untuk mengingatkan mereka kalau merekapun kelak akan
mati. Tapi semua sia-sia. Mereka tak menghiraukanmu.
Kendaraan
mewahmu yaitu keranda atau kurung batang dengan setia menunggumu. Ia sangat
ingin kamu menaikinya. Lagi-lagi kamu tidak bisa menaikinya sendiri. Kamu butuh
orang-orang untuk menaiki kendaraanmu. Kamu harus mulai sadar bahwa kamu tidak
bisa berbuat apa-apa. Kamu butuh orang lain. Butuh empat, lima bahkan mungkin
enam orang mengangkat tubuhmu untuk menaiki kendaraanmu. Tangisan terdengar
lagi. Orang-orang terdekatmu seakan tak rela kamu menaiki kendaraanmu sendirian,
namun merekapun enggan ikut bersamamu. Dipaksapun mereka tak mau. Ditutupinya
kendaraanmu dengan sehelai kain panjang berwarna hijau bertuliskan aksara arab.
Satu sisi bertuliskan lafadz "Laa ilaaha illallah", sisi lain
bertuliskan firman Allah "Kullu nafsin dzaaiqotul mawt". Entahlah,
apa kamu mengerti kalimat-kalimat tersebut, atau justru kalimat tersebut sangat
asing bagimu.
Kini kamu nampak nyaman berada
didalamnya. Kendaraan yang ‘diidam-idamkan’ oleh orang yang mati. Kendaraan
yang mungkin bakal dinaiki oleh setiap orang, kelak. Kendaraan yang setiap
orang hanya satu kali menikmatinya. Kini giliranmu. Yang lain pasti menyusul.
Tak
ada jendela.
Tak ada kaca.
Tak ada satu orangpun yang hidup
yang bisa melihatmu dari luar. Kendaraanmu tertutup rapat. Namun kamu bisa
menyaksikan semuanya. Semua prosesinya. Detail.
Rangkaian bunga turut melingkari
kain penutup kendaraanmu.
Jerit tangis terdengar lagi,
bersahut-sahutan ketika kamu dan kendaraanmu mulai bergerak. Kini yang menangis
bertambah. Saudara dan kerabatmupun mulai ikut menangis. Mereka menangis bukan
karena ingin menangis, mereka menangis karena terbawa suasana. Bisa jadi mereka
bukan menangisimu. Bisa jadi mereka hanya menangisi keluargamu yang sedang
menangis.
Kendaraanmu bergerak menuju masjid
atau musholla terdekat. Kendaraanmu tidaklah bergerak sendiri. Bukan kamu yang
mengendalikannya. Bukan kamu supirnya. Tapi orang-orang sekitarmulah yang
mengangatnya bergotong-royong. Kadang butuh lebih dari empat orang untuk
menggerakkan kendaraanmu. Bacaan tahlil bersahut-sahutan. Berirama. Syahdu.
Membuat yang menangis semakin menjadi.
Tetangga sekitarmu menyaksikan
dengan seksama kendaraan yang kamu tumpangi. Sebagian mereka ikut bergabung
menuju musholla atau masjid terdekat, sebagian lainnya nampak acuh tak acuh.
Mereka hanya ingin melihat. Itu saja. Tidak lebih. Dan bahkan tanpa doa
sekalipun. Atau mungkin ada yang mencibir dan berbahagia atas kematianmu?
Apakah kamu mengenal mereka ?,
Mereka adalah tetanggamu? Tetangga yang mungkin tak pernah kau kunjungi.
Tetangga yang mungkin tak pernah kau sapa. Tetangga yang mungkin kamu acuhkan
ketika mereka butuh bantuanmu. Tetangga yang mungkin saja tidak mengenalmu.
Atau bisa jadi kamupun tak
mengenal mereka dan orang-orang yang kini sedang bergotongroyong mengendarai
kendaraanmu ?
Apakah kamu pernah menyakiti
mereka? Lalu bagaimana cara kamu meminta maaf pada mereka?
Derap langkah tanpa gontai para
pengusungmu nampak gagah begegas berirama. Alunan lafadz tahlil "Laa
ilaahaillah" terus terdengar. Lagi-lagi kamu hanya bisa menyaksikan tanpa
bisa dimintai pendapatmu.
Kini kamu sudah tiba di musholla
atau masjid terdekat. Tempat kamu akan disholatkan.
Dan kamu benar-benar akan
disholatkan, karena kamu sudah tidak mampu lagi untuk sholat.
Masih
ingatkah ketika kamu mampu sholat sendiri namun kamu melalaikannya?
Masih
ingatkah ketika kamu sakit, kamu sengaja meninggalkan sholat dan berhujjah
dengan alasan-alasan kamu yang tak masuk akal. Padahal kamu bisa melakukannya
walau kamu berada ditempat tidur. Kamu bisa bertayamum tanpa perlu berwudhu.
Kamu tak perlu rukuk atau sujud jika memang tak mampu. Bahkan dengan gerakan isyaratpun
kamu diijinkan. Intinya sholat adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.
Masih ingat kan?!
Kini
tak ada lagi waktu buat kamu untuk mengqodho sholatmu.
Diletakkannya
kamu berada pada shof paling depan. Lebih depan daripada sang imam. Padahal
dulu ketika kamu masih hidup, jangankan berada pada shof terdepan, ikut
berjamaah ke masjid atau musholla pun jarang. Bahkan suara adzan pun sangat
sering kamu abaikan. Namun demikian mereka sangat menghormatimu. Mereka
menempatkanmu pada shof paling depan. Apa kamu merasa bangga ?
Sebagian jamaah mulai berwudhu.
Bersiap untuk men-sholatkanmu. Diantara mereka bahkan ada yang tidak tahu
tatacara sholat jenazah, tapi mereka ikut men-sholatkanmu. Mereka hanya
mengikuti gerakan imam. Mereka tak tahu apa yang harus dibaca kecuali hanya
surat Al Fatihah.
Apakah kamu pernah melakukan
sholat jenazah sewaktu hidupmu? Atau kamu justru selalu menghindar untuk
melakukannya karena ketidaktahuanmu akan tatacara sholat jenazah? Padahal kamu
pernah mendapatkan pelajaran tentang tatacara sholat jenazah. Sungguh terlalu
jika kamu tidak pernah sekalipun mempraktekkan sholat jenazah. Jika demikian,
kamu tak perlu risau. Kamu tak perlu kaget, dan kamupun takperlu berkomentar
apapun karena memang kamu tak lagi bisa berkomentar atas apa yang dilakukan
oleh mereka yang masih hidup. Diantara mereka ada yang hanya berpura-pura
sholat. Diantara mereka bahkan hanya menunggu diluar dan masih bisa
bersendagurau sementara keluargamu masih meneteskan airmata.
Bagaimana dengan anak-anakmu?
Apakah kamu mengajarkan mereka tentang tatacara sholat jenazah? Apakah mereka
men-sholatkanmu? Atau mereka sama seperti kamu yang enggan untuk sholat jenazah
karena ketidaktahuan mereka? Jika demikian, sungguh malang nasibmu.
Lalu bagaimana cara kamu
memberitahukan mereka, anak-anakmu, tentang pentingnya sholat jenazah karena
didalamnya ada permohonan doa untuk diampunkannya segala dosa dan kesalahanmu?
Apakah kamu masih tetap beralasan bahwa sholat jenazah hukumnya fardhu kifayah,
sehingga kamupun ridho jika anak-anakmu tidak men-sholatkanmu dan kamu
bergantung pada keikhlasan jamaah. Yaa… sudahlah.
Sepatah dua patah kata
disampaikan oleh sang imam. Sebelumnya sang imam mempersilahkan ahliwaris,
anak-anakmu, untuk berbicara, namun tak satupun dari mereka yang berkenan. Sang
imamlah yang akhirnya mengambil tugas anak-anakmu untuk menyampaikan amanat
keluargamu. Salah satu perkataannya adalah, apabila ada diantara tetangga atau
kerabat yang pernah menjadi piutang (orang yang memberi hutang atau pinjaman,
baik berupa uang atau barang) agar segera menghubungi ahli waris. Yang jadi
pertanyaan adalah apakah kamu memberitahukan hutang-hutangmu pada keluargamu
sehingga mereka mengetahuinya?, Apakah ketika kamu masih hidup, kamu tidak
sanggup membayar hutang, atau justru kamu memang menghindar untuk membayarnya
hanya karena sang pemberi hutang tidak menagihnya padahal kamu mengingatnya? Ataukah
kamu memang termasuk orang yang menyepelekan untuk membayar hutang? Tahukah
kamu bahwa kalau hutang dibawa mati dan belum dibayarkan oleh ahli warismu
karena mereka tidak tahu atau karena alasan lainnya, maka akan berakibat berat
buat kamu di akhirat? Tahukah kamu kalau Nabi Muhammad Shollahu ‘alayhi
wasallam saja tidak mau men-sholati jenazah yang mempunyai hutang sampai ada
yang mau menanggung hutangnya? Ohhh sungguh benar-benar malang nasibmu jika
memang hutangmu tidak ada yang menanggungnya karena kamu tidak
memberitahukannya. Sadarkah kamu bahwa hanya segelintir orang saja yang
mendengarkan sang Imam saat itu, sementara diluar sana banyak orang yang
mengenalmu, yang memberikan hutang kepadamu justru tidak mendengar perkataan
sang imam, sehingga mereka tidak menghubungi ahli warismu ?
Hal lain yang disampaikan oleh
sang imam adalah agar jamaah bisa memaafkan segala kesalahan dan kekhilafan
yang pernah dilakukan oleh jenazah semasa hidupnya. Bisa jadi para jamaah
memaafkanmu. Tak perlulah kau tanya keikhlasan mereka. Yang perlu kamu
pertanyakan adalah bagaimana dengan orang-orang diluar sana yang jumlahnya jauh
lebih banyak yang tidak mendengarkan perkataan sang imam, apakah mereka bisa
memaafkanmu. Berapa banyak orang diluar sana yang kau sakiti hatinya, yang kau
tipu hartanya, yang kau rampas haknya, kau nodai hasil jerih payahnya, yang kau
lecehkan kepribadiannya, yang kau cemooh, yang kau hinakan dan lain-lain.
Berapa banyak orang diluar sana yang tidak suka tingkah lakumu termasuk
ucapanmu. Tak ada yang tahu perlakuan burukmu diluar sana kecuali hanya dirimu
sendiri. Sanggupkah kamu meminta maaf pada mereka ? Sudah terlambat!. Apakah
suami/istri dan anak-anakmu atau kerabat sudi memintakan maafmu pada mereka.
Sanggupkah mereka memintakan maaf buatmu pada mereka?. Kamu hanya bisa berharap
mereka semua, siapapun itu, dimanapun berada, mereka dengan ikhlas memaafkanmu.
Yaa… itu cuma harapan.
Tak juga luput dari ingatanmu
betapa kamu pernah menyakiti hati kedua orang tuamu. Orang yang telah
membesarkanmu. Seberapa sering kamu mendoakan mereka ketika kamu masih hidup.
Sempatkah kamu meminta maaf pada mereka?
Sang imampun mulai
menginformasikan pada para jamaah tatacara sholat jenazah secara singkat. Ia
hanya mengingatkan kembali kepada para jamaah bahwa sholat jenazah itu terdiri
dari empat kali takbir. Tanpa ruku. Tanpa sujud. Cukup dengan berdiri saja.
Bacaan setelah takbir pertama adalah surat Al Fatihah, setelah takbir kedua
membaca sholawat, setelah takbir ketiga dan keempat adalah doa.
Sang imam tidak merinci setiap
bacaannya, karena sang imam berhusnuzhon bahwa para jamaah telah bisa
melakukannya, lagipula bukanlah saat yang tepat untuk belajar pada saat itu.
Saat itu adalah saatnya mempraktekkan sholat jenazah. Kamu hanya bisa berharap
agar para jamaah yang akan melakukan sholat jenazah telah paham semua, agar
doa-doa mereka semua terkabul. Walaupun kamu bisa jadi melihat diantara mereka
yang hanya berpura-pura saja.
Sang imam mulai mengatur
shof/barisan jamaah. Ia berharap ada sedikitnya tiga shof, walau shofnya tidak
panjang. Kamu jangan bertanya kenapa jamaahnya tidak banyak. Kamupun sudah
tidak lagi bisa menarik-narik mereka yang masih berada diluar untuk ikut
men-sholatkanmu. Sekuat apapun tenaga dan upayamu menarik mereka yang masih
berada diluar, mereka tak menghiraukanmu. Sekeras apapun teriakanmu ditelinga
mereka, mereka tetap tidak mendengarkanmu. Bisa jadi mereka memang enggan
men-sholatkanmu, bisa jadi mereka tidak mengerti bagaimana tatacaranya, bisa
jadi mereka tidak mempedulikanmu, bisa jadi mereka tidak mau repot. Sungguh banyak
sekali alasan mereka. Mereka menunggu diluar hanya untuk menyambut jenazahmu
dan mengiringmu sampai ke kuburan. Seakan mereka sangat senang agar kamu segera
menghilang dari pandangan mereka. Bisa jadi juga perlakuan mereka terhadapmu
adalah memang sikap dan tingkah lakumu ketika kamu masih hidup.
“Khoiiiirrr……!” sahut jamaah saat
sang imam bertanya pada para jamaah tentang kamu. Sebagian mereka hanya
ikut-ikutan tanpa tahu maknanya, sebagian lagi juga hanya ikut-ikutan karena
dianggap bagian dari tradisi.
Apakah kamu ‘khoir’ atau orang
yang baik seperti yang mereka katakan ?
Hanya kamu yang tahu persis
jawabannya.
Kini kendaraanmu kembali diusung
oleh para jamaah untuk dimasukkan kedalam mobil ambulan. Sedikit
keberuntunganmu karena kamu dimasukkan kedalam mobil ambulan. Bukan mobil
sampah, bukan pula gerobak sampah. Setidaknya tidak nampak hina dimata
masyarakat sekitar.
Mungkin kamu pernah mendengar ada
jenazah yang dihinakan sebelum dikuburkan. Mulai dari prosesi kematiannya, pada
saat dimandikan, pada saat di kafani, pada saat di usung beramai-ramai, bahkah
pada saat dikuburkan. Semuanya penuh kehinaan. Bisa jadi pada saat hidupnya
sudah tak terhitung lagi kemaksiatan yang dilakukan atau mungkin kedurhakaannya
pada orangtua, pada ulama, pada tokoh masyarakat, atau mungkin pada kaum duafa.
Adalah haq Allah untuk memulyakanmu
atau menghinakanmu. Sungguh Allah Maha Adil dan Maha Berkuasa atas segala
sesuatu.
Sepanjang perjalanan menuju
tempat pemakamanmu, nampak kebersamaan mereka mengiringi jenazahmu. Sebagian
dari mereka turut serta mengatur lalu lintas agar perjalananmu tidak terhambat.
Semacet apapun kondisinya, mobil tumpanganmu bisa melewatinya dengan mudah.
Dalam hal ini kamu diperlakukan bagai sang raja. Mereka memprioritaskan
perjalananmu. Seakan mereka secara serentak berkata “Cepatlah dikuburkan jenazah
ini karena kami sudah tidak mau melihatnya lagi..!!” Jika memang demikian
adanya, sungguh betapa kamu memang tidak dibutuhkan keberadaannya.
Satu lubang kecil telah
dipersiapkan untuk ‘menanam’ tubuhmu. Lubang yang dulu kamu enggan untuk
melihatnya. Lubang yang sama luasnya yang kamu takut masuk kedalamnya hanya
untuk menyambut jenazah orangtuamu, atau sudaramu, atau anakmu. Kini lubang itu
akan menjadi tempat pembaringanmu.
Kendaraanmu yang sejak tadi
tertutup rapat kini dibuka, tepat disisi lubang itu. Beberapa pasang mata kini
dapat melihat jelas keadaanmu yang terbungkus kain kafan. Perlahan tubuhmu
dimasukkan kedalam lubang itu. Mereka mulai membuka penutup wajahmu. Dihadapkan
tubuhmu kearah kiblat. Arah yang dulu kamu sering berpaling darinya. Kini tak
ada lagi penghalang antara wajahmu dengan tanah. Wajah yang mungkin dulu sangat
berat untuk ditempelkan dengan tanah. Sujud.
Salah seorang dari mereka
melantunkan adzan. Adzan adalah panggilan sholat. Namun juga dipakai sebagai
panggilan pertamamu ketika kamu lahir dan menjadi panggilan terakhir disaat
kamu dikuburkan.
Tangis yang tadi sudah terhenti
kini terdengar lagi.
Bilah-bilah bambu atau papan
mulai ditutup rapat tepat disisi tubuhmu. Perlahan tanah galian yang berserakan
diluar dikembalikan ketempatnya. Dimasukkan kedalam lubang. Kini tak seorangpun
dapat melihatmu. Hanya gundukan tanah yang tersisa yang dapat mereka lihat.
Gelap.
Sungguh sangat gelap. Walau
matamu terbuka lebar, tetaplah gelap.
Bahkan telapak tangan yang kamu letakkan
tepat didepan wajahmupun tetap tidak terlihat.
Gelap seperti buta.
Seremonial pemakamanmu telah
usai. Satu persatu kerabat mulai meninggalkanmu. Juga saudara-saudaramu. Juga orangtuamu.
Juga suami/istrimu. Termasuk anak-anakmu. Mereka enggan berlama-lama bersamamu.
Bersama gundukan tanah.
Kini kamu hanya sendiri.
Mereka yang katanya mencintaimu,
tak sudi tinggal bersamamu.
Mereka yang katanya menyayangimu,
enggan menemanimu.
Mereka yang katanya sahabatmu,
berlalu begitu saja.
Sendiri.
Dalam gelap.
Sebentar lagi tubuhmupun akan
hancur.
Lambung yang dulu kamu masukkan
segala makanan, tanpa mempedulikan halal dan haram apalagi yang subhat, yang
tidak jelas kehalalannya, sebentar lagi akan membusung, membesar dan pecah.
Cacing-cacing dalam tubuhmu terus menggeliat, menggerogoti apa saja agar bisa
keluar dari tubuh busukmu. Mereka turut berperan dalam penghancuran tubuhmu.
Belum lagi cacing tanah yang sudah lama menunggumu. Tubuhmu akan jadi santapan
lezatnya.
Sendiri.
Kamu harus hadapi sendiri.
Tak ada lagi yang bisa
menolongmu.
Siapapun yang merasa paling mencintaimu,
siapapun yang merasa paling menyayangimu, siapapun yang berikrar tidak akan
meninggalkanmu, siapapun orang-orang terdekatmu, semua menjauh. Semua
meniggalkanmu.
Hartamu?
Kemana hartamu?
Harta yang kamu kumpulkan. Harta
yang kamu takut kehilangan. Harta yang kamu anggap dari hasil jerih payahmu. Harta
yang kamu tak peduli dapat dari mana. Semua hanya akan jadi rebutan ahli
warismu.
Kini kamu mungkin mulai sadar,
untuk apa mengumpulkan harta yang banyak jika tidak dibawa mati. Untuk apa
punya rumah mewah kalau tempat tinggal terakhirmu aja sepetak tanah kecil.
Untuk apa kau beli mobil mewah, motor mahal, kalau kendaraanmu hanya sebuah
keranda kecil milik bersama yang di parkir di musholla atau masjid.
Untuk apa kamu mengoleksi pakaian
yang banyak dan bagus, jika pakaian terakhirmu hanyalah kain kafan putih tanpa
motif, tanpa jahitan.
Amalmu.
Ia adalah temanmu.
Teman yang benar-benar akan
menemanimu.
Teman yang bisa menerangi
kuburmu.
Adakah amalmu ?!
Seberapa besarkah amal-amalmu ?!
Seberapa banyakkah amal-amalmu ?!
Apakah amalmu bisa menemanimu ?
Apakah amalmu bisa menerangi
kuburmu ?
Apakah amalmu bisa menyelamatkan
tubuhmu ?
Seberapa ikhlas kamu beramal ?
Doa.
Ya. Kamu butuh doa dari
anak-anakmu.
Adakah kamu mengajarkan doa pada
mereka ?!
Pelajaran apa yang kamu wariskan
pada anak-anakmu ?
Berapa lama mereka akan
mendoakanmu ?
Seberapa seringkah mereka akan
memohonkan ampunan untukmu ?
Bagaimana dengan kerabatmu ?
Adakah mereka mendoakanmu?
Ataukah mereka begitu saja
melupakanmu ?
Sungguh. Kini kamu sendiri.
Sendiri untuk
mempertanggungjawabkan segalanya.
Segala yang pernah kamu perbuat.
Tanpa satupun yang terlewati.
Tunggu…
Tunggulah, sebentar lagi malaikat
akan mendatangimu.
Akan menanyaimu.
Untuk mempertanyakanmu segala hal
selama kamu hidup
Untuk meminta
pertanggungjawabanmu
Yang kamu tidak lagi dapat
berdusta
Yang kamu tidak lagi bisa
mengelak
----
Sudah..
Bangunlah.
Sadarlah.
Jangan
terlalu lama ‘berwisata’
Seru kan ?!
Itu baru perjalanan menuju ke
kuburan. Menuju ke alam kubur.
Next, kita wisata di dalam kubur.
Mudah-mudahan kamu bisa mengambil
pelajaran darinya.
Atau kamu tetap seperti sekarang
?!
_
05 Desember 2017
Dahsyatnya Rasa Sakit Sakaratul Maut, Menurut Imam Al-Ghazali
Copas : http://www.marimembaca.com/2016/11/sakit-sakaratul-maut-menurut-imam-ghazali.html
Kematian adalah sesuatu kepastian yang sangat menyakitkan, proses sebelum berpisahnya ruh dari jasad itu dinamakan dengan sakaratul maut. Tidak ada yang mengetahui bagaimana rasa sakit yang akan dialaminya saat sakaratul maut itu datang menghampirinya.
Namun dalam menjalani kehidupan didunia ini apapun yang kita lakukan begitulah gambaran sakaratul maut itu datang, orang yang Beriman dan orang yang Zalim akan mengalami sakaratul maut yang berbeda. Imam Al-Ghazali memberikan gambaran bagaimana proses sakaratul maut itu datang kepada manusia.
Imam Ghozali berpendapat : "Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki".
Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. "Wahai manusia !", kata pria tersebut. "Apa yang kalian kehendaki dariku? Lima puluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku."
Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekuler, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.
Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahua'lam bis shawab.
Sakaratul Mautnya Orang-orang Zhalim
Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam,rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.
Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita,menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.
Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Dihari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.(QS.Al-An'am,6: 93) , (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri(sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatanpun". (Malaikat menjawab): "Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apayang telah kamu kerjakan". Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam,kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS. An-Nahl, 16 : 28-29)
Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekuler, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.
Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahua'lam bis shawab.
Sakaratul Mautnya Orang-orang Zhalim
Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam,rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.
Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita,menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.
Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Dihari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.(QS.Al-An'am,6: 93) , (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri(sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatanpun". (Malaikat menjawab): "Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apayang telah kamu kerjakan". Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam,kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS. An-Nahl, 16 : 28-29)
Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, "Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang memaksa kami hadir melihat ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! " Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat.
Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka".
Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, "Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka". Naudzu bila min dzalik!
Sakaratul Mautnya Orang-orang Yang Bertaqwa
Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.
Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Assalamualaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS. An-Nahl,16 : 30-31-32)
Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, "Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu".
Wallahu a'lam bish-shawab!
Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka".
Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, "Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka". Naudzu bila min dzalik!
Sakaratul Mautnya Orang-orang Yang Bertaqwa
Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.
Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Assalamualaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS. An-Nahl,16 : 30-31-32)
Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, "Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu".
Wallahu a'lam bish-shawab!
Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayahNya,berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkanNya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya. Aamiin !
"Dan siapakah yang lebih zhalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhan-Nya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa." (QS. As Sajdah: 32).
Demikianlah artikel tentang " Dahsyatnya Rasa Sakit Sakaratul Maut, Menurut Imam Al-Ghazali ", semoga memberikan pelajaran bagi kita semua, dan berharap menemui ajal ( sakaratul maut ) itu dengan kegembiraan yang akan mengantarkan kebahagian setelah kematian.
Khoir
Copas : http://muimedan.com/2017/02/28/penyaksian-khair-untuk-jenazah/
Irwansyah, M.H.I
Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Medan
Sudah lazim terjadi bahwa setelah selesai menshalatkan mayat lalu bilal meminta kesaksian dari para jemaah untuk menyaksikan apakah mayat tersebut adalah orang baik-baik atau tidak. Bilal selalu mengatakan “Apakah mayat yang ada di hadapan kita sekarang adalah orang yang baik-baik?” semua menjawab, “baik” walau pada sekelompok yang hadir di tempat itu tidak mengenal mayat yang baru saja dishalatkannya. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah bagi orang yang tidak mengenal sama sekali mayat tersebut atau orang yang sudah mengenalnya namun dia mengetahui bahwa mayat yang telah dishalatkannya adalah bukan orang baik-baik juga dibenarkan baginya untuk mengucapkan “khair” yang artinya adalah sebuah kesaksian baik terhadap mayat itu, atau dia harus berkata jujur dengan mengatakan bahwa mayat tersebut bukanlah orang baik-baik. Tulisan ini akan mencoba untuk mengulasnya secara sederhana.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Sahih-nya, bahwa dari Ummi Salamah dia berkata, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Apabila kamu menghadiri orang yang sedang sakit, atau mayat maka katakanlah “khair” (ia adalah orang baik). Maka saat itu, malaikat mengaminkan ucapan kamu itu.” (HR. Muslim), Hadis ini dapat dilihat dalam Sahih Muslim Syarh Nawawi, juz VI, halaman 222. Di hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari Anas bin Malik dia berkata, “Nabi dan sekumpulan sahabat dilalui oleh satu jenazah, maka sahabat-sahabat berkata, “khair” lalu Nabi berkata, “Sudah pasti.” Setelah itu kemudian berlalu kembali jenazah yang lain, maka para sahabat mengatakan, “syar” (orang jahat), lalu Nabi berkata, “Sudah pasti.” Maka Umar bin Khattab bertanya kepada Nabi saw. “Apakah yang pasti?.” Nabi menjawab, “yang itu kamu katakan khair maka pastilah ia masuk ke dalam surga, dan yang ini kamu katakan jahat maka pastilah ia masuk neraka, kamu adalah saksi-saksi Tuhan di muka bumi”. (HR. Bukhari). Hadis yang senada dengan ini juga diriwayatkan dalam jalur sanad yang lain. Dalam literatur lain, Imam al-Bukhari mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Apabila kamu menshalati jenazah, maka ucapkanlah “khairan” (baik) maka Allah berkata “Aku terima kesaksian mereka pada apa yang mereka ketahui dan Aku ampuni mayit itu pada apa yang mereka tidak mengetahuinya.” (HR. al-Bukhari).
Dari rangkaian hadis di atas dapat dilihat bahwa menyaksikan baik terhadap jenazah Muslim adalah benar kendatipun tidak mengenal mayat tersebut apakah orang baik-baik atau tidak. Islam memang mensyariatkan seseorang untuk selalu berprasangka baik (husn az-zhan) terhadap saudaranya sesama Muslim. Seseorang yang perilakunya tidak baik di dunia, tidak serta merta untuk meng-klaimnya sebagai penghuni neraka ketika dia meninggal dunia. Karena dalam kahazanah kajian Islam sendiri ada yang disebut dengan kafir inda an-nas mukmin inda Allah artinya seseorang kafir/ ahli maksiat dalam pandangan zahir manusia, namun ternyata dia mukmin di sisi Allah. Hal ini bisa saja terjadi karena taubat seseorang akan diterima Allah sebelum ajal menjemputnya, sebesar apapun dosa seseorang ketika dia minta ampunan Allah dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, Allah akan mengampuni dosanya selain dosa syirik kepada-Nya. Sebaliknya juga demikian, ada yang mukmin inda an-nas kafir inda Allah, dia sangat kelihatan orang yang taat akan perintah Allah, namun ternyata dia kafir dalam pandangan Allah seperti orang munafik atau orang yang kelihatannya taat dalam beribadah, namun ternyata dia tidak ikhlas dalam melakukannya, melainkan karena ada tujuan lain di balik semua itu.
Ahli surga atau nerakanya seseorang bisa terjadi saat sakaratulmaut. Saat-saat itu setiap orang yang dekat mati mengalami godaan setan yang berupaya menyesatkan akidahnya. Berikut ada kisah nyata yang terjadi terhadap Imam al-Qurthubi. Bahwa satu ketika Imam al-Qurthubi sedang sakaratulmaut (menjelang kematian), orang mengucapkan la ilaha illa Allah. Lalu al-Qurthubi mengatakan “tidak.” Orang-orang tentu merasa bingung, karena mereka mengajarkan hal yang baik, tapi dia menolaknya. Alhamdulillah Allah mentakdirkan al-Qurthubi sembuh. Dia menceritakan, ketika dia sedang sekarat dua orang setan datang kepadanya dan mengatakan, “Matilah kau dalam agama Yahudi karena itulah agama yang baik. Sementara yang satunya lagi mengatakan, ”matilah dalam Agama Kristen karena itulah agama yang baik. “Lalu aku mengatakan tidak untuk menolaknya”, papar al-Qurthubi.
Kisah lain, terjadi pada K. Fathul Bari tahun 1970 di desa Telanger, Sokohanah, Simpang (Madura), pada petang hari Ahad tanggal 9 Agustus dia menghadapi sakaratulmaut. Kemudian orang-orang yang berhadir menganggapnya telah mati. Setelah 45 menit dianggap meninggal, tiba-tiba tubuhnya bergerak dan duduk bernafas kembali di tengah-tengah kerumunan keluarganya yang sedang menangisinya. Ketika dia pulih sadar, wartawan Harian Abadi datang ke rumahnya dan melakukan wawancara didampingi anaknya Fathullah. Dia menceritakan pengalamannya selama dalam keadaan diduga mati tersebut, katanya, “terasalah badan saya sangat panas, terasa lapar dan haus yang tiada taranya. Di saat itulah saya melihat seorang yang serupa dengan nenek saya yang telah lama meninggal. Nenek saya itu berkata sambil memperlihatkan makanan dan minuman kepada saya, yang saya sangat membutuhkannya, namun saya menolaknya. Saat itu saya melihat catatan amal keburukan sebelah kiri saya dan sangat mengerikan dan menakutkan sekali. Ketika itu saya merasa sedang tidak berada di dunia. Saya merasakan tarikan nafas saat ruh keluar dari tubuh saya, rasanya jasad saya hancur. Ratap tangis orang-orang sangat mengganggu jasad saya yang hancur. Apalagi kalau mereka banyak berbicara, tubuh saya terasa seperti ditusuk dengan pisau tajam yang mengandung racun. Ketika saya dibaringkan, saya melihat teman-teman dan keluarga datang bertakziah, mereka sama sekali tak menghiraukan betapa hancur luluhnya tubuh saya. Sakitnya saat pencabutan ruh sangat terasa, harapan saya ketika itu adalah mendapat siraman yang mendinginkan, tak terpenuhi. Malahan mereka semua menambah derita sakitnya jasad saya. Saya terasa melayang ke alam luas dibawa oleh seorang yang berperawakan tinggi besar yang menakutkan. Saya dibawa keruangan besar berbau busuk dan di situ banyak laki-laki dan perempuan yang keadaannya sangat menyedihkan. Ketika saya dilihat seorang penjaga ruangan itu, dia mengatakan, “ini bukan tempatmu, di sanalah tempatmu” sambil menunjuk ke tempat lain. Saya dibawa ke tempat itu yang kelihatannya lebih baik dari tempat sebelumnya. Tapi di sini pun saya ditolak. Karena penolakan ini mungkin Allah belum menizinkan saya untuk meninggal saat itu.”
Saat K. Fathul Bari tersadar kembali setelah kembali sadar setelah 45 menit, dia termenung dan banyak berzikir sementara sakitnya tetap di deritanya. Ia sadar kembali selama 24 jam. Pada tanggal 10 Agustus 1970 setelah ia menyampaikan wasiatnya kepada keluarganya, ia meninggal pada usia 65 tahun. Kisah ini ditulis dalam buku Pedoman Mati karya H. M Arsyad Thalib Lubis yang dikutip dari Harian Mercusuar edisi 23 Agustus 1970.
Pelajaran yang bisa diambil dari kisah di atas adalah, “pertama; seseorang yang kelihatannya tidak baik pada sakaratulmaut seperti al-Qurthubi yang menolak untuk di-talqin-kan, tidak serta merta memvonisnya adalah ahli neraka, olehkarena bisa jadi yang dia tolak bukanlah talqin yang diaajrkan kepadanya, melainkan ajakan setan yang ingin menyesatkannya. Kedua; orang yang sedang sakaratulmaut melihat berbagai pemandangan yang tidak terlihat oleh mata normal. Ketiga; setan sangat berupaya menyesatkan akidah seseorang ketika sakaratulmaut, maka tidak tertutup kemungkinan orang yang rajin beribadah di dunia tapi imannya tidak cukup kuat untuk menahan godaan setan saat sakaratulmaut, maka saat itu dia kafir dan ahli neraka.
Penyaksian baik kepada jenazah adalah perilaku yang sesuai dengan syariat Rasulullah saw. Menyaksikan baik kepada jenazah setelah dishalatkan adalah perbuatan baik, kendatipun tidak mengenal sama sekali mayat yang disaksikannya. Paling tidak itu adalah doa (min bab ad-du’a) semoga ketika baik disaksikan manusia, dia juga baik dalam pandangan Allah. Lebih dari itu manusia tidak bisa mengetahui saat-saat menjelang kematian dia bertaubat memohon ampunan Allah, dan Allah mengampuni dosa-dosanya. Semoga bermanfaat !!!
Langganan:
Postingan (Atom)
Mohon Maaf
Assalamu'alaykum, Di hari yang mulia ini Di hari yang telah lalu dan yang akan datang Mohon maaf atas segala salah dan khilaf Mohon maaf...
-
Syarat-syarat penyembelihan hewan kurban 1. Hewan kurban yang akan disembelih adalah milik sepenuhnya orang yang akan ber...
-
Awal waktu menyembelih hewan kurban Awal waktu menyembelih hewan kurban adalah setelah dilaksanakan shalat Idul Adha bagi orang-orang yang...
-
Ngomongin sabar tuh gampang banget. Apalagi kalau nasehatin orang supaya bersabar atas musibah yang sedang dialaminya. Kebanjiran, kebakar...