05 Desember 2017

Dahsyatnya Rasa Sakit Sakaratul Maut, Menurut Imam Al-Ghazali

Copas : http://www.marimembaca.com/2016/11/sakit-sakaratul-maut-menurut-imam-ghazali.html

Kematian adalah sesuatu kepastian yang sangat menyakitkan, proses sebelum berpisahnya ruh dari jasad itu dinamakan dengan sakaratul maut. Tidak ada yang mengetahui bagaimana rasa sakit yang akan dialaminya saat sakaratul maut itu datang menghampirinya.

Namun dalam menjalani kehidupan didunia ini apapun yang kita lakukan begitulah gambaran sakaratul maut itu datang, orang yang Beriman dan orang yang Zalim akan mengalami sakaratul maut yang berbeda. Imam Al-Ghazali memberikan gambaran bagaimana proses sakaratul maut itu datang kepada manusia.


Imam Ghozali berpendapat : "Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki". 

Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. "Wahai manusia !", kata pria tersebut. "Apa yang kalian kehendaki dariku? Lima puluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku."

Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekuler, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.

Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahua'lam bis shawab.

Sakaratul Mautnya Orang-orang Zhalim


Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam,rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.

Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita,menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.

Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Dihari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.(QS.Al-An'am,6: 93) , (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri(sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatanpun". (Malaikat menjawab): "Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apayang telah kamu kerjakan". Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam,kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS. An-Nahl, 16 : 28-29)
Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, "Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang memaksa kami hadir melihat ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! " Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat.

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka".

 Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, "Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka". Naudzu bila min dzalik!

Sakaratul Mautnya Orang-orang Yang Bertaqwa

Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Assalamualaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS. An-Nahl,16 : 30-31-32)

Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, "Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu".

Wallahu a'lam bish-shawab!
Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayahNya,berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkanNya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya. Aamiin !
"Dan siapakah yang lebih zhalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhan-Nya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa." (QS. As Sajdah: 32).

Demikianlah artikel tentang " Dahsyatnya Rasa Sakit Sakaratul Maut, Menurut Imam Al-Ghazali ", semoga memberikan pelajaran bagi kita semua, dan berharap menemui ajal ( sakaratul maut ) itu dengan kegembiraan yang akan mengantarkan kebahagian setelah kematian.

Khoir

Copas : http://muimedan.com/2017/02/28/penyaksian-khair-untuk-jenazah/

Irwansyah, M.H.I
Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Medan
Sudah lazim terjadi bahwa setelah selesai menshalatkan mayat lalu bilal meminta kesaksian dari para jemaah untuk menyaksikan apakah mayat tersebut adalah orang baik-baik atau tidak. Bilal selalu mengatakan “Apakah mayat yang ada di hadapan kita sekarang adalah orang yang baik-baik?” semua menjawab, “baik” walau pada sekelompok yang hadir di tempat itu tidak mengenal mayat yang baru saja dishalatkannya. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah bagi orang yang tidak mengenal sama sekali mayat tersebut atau orang yang sudah mengenalnya namun dia mengetahui bahwa mayat yang telah dishalatkannya adalah bukan orang baik-baik juga dibenarkan baginya untuk mengucapkan “khair” yang artinya adalah sebuah kesaksian baik terhadap mayat itu, atau dia harus berkata jujur dengan mengatakan bahwa mayat tersebut bukanlah orang baik-baik. Tulisan ini akan mencoba untuk mengulasnya secara sederhana.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Sahih-nya, bahwa dari Ummi Salamah dia berkata,  Rasulullah saw. pernah bersabda, “Apabila kamu menghadiri orang yang sedang sakit, atau mayat maka katakanlah “khair” (ia adalah orang baik). Maka saat itu, malaikat mengaminkan ucapan kamu itu.” (HR. Muslim), Hadis ini dapat dilihat dalam Sahih Muslim Syarh Nawawi, juz VI, halaman 222. Di hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari Anas bin Malik dia berkata, “Nabi dan sekumpulan sahabat dilalui oleh satu jenazah,  maka sahabat-sahabat berkata, “khair” lalu Nabi berkata, “Sudah pasti.” Setelah itu kemudian berlalu kembali jenazah yang lain, maka para sahabat mengatakan, “syar” (orang jahat), lalu Nabi berkata, “Sudah pasti.” Maka Umar bin Khattab bertanya kepada Nabi saw. “Apakah yang pasti?.” Nabi menjawab, “yang itu kamu katakan khair maka pastilah ia masuk ke dalam surga, dan yang ini kamu katakan jahat maka pastilah ia masuk neraka, kamu adalah saksi-saksi Tuhan di muka bumi”. (HR. Bukhari). Hadis yang senada dengan ini juga diriwayatkan dalam jalur sanad yang lain. Dalam literatur lain, Imam al-Bukhari mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Apabila kamu menshalati jenazah, maka ucapkanlah “khairan” (baik) maka Allah berkata “Aku terima kesaksian mereka pada apa yang mereka ketahui dan Aku ampuni mayit itu pada apa yang mereka tidak mengetahuinya.” (HR. al-Bukhari).
Dari rangkaian hadis di atas dapat dilihat bahwa menyaksikan baik terhadap jenazah Muslim adalah benar kendatipun tidak mengenal mayat tersebut apakah orang baik-baik atau tidak. Islam memang mensyariatkan seseorang untuk selalu berprasangka baik (husn az-zhan) terhadap saudaranya sesama Muslim. Seseorang yang perilakunya tidak baik di dunia, tidak serta merta untuk meng-klaimnya sebagai penghuni neraka ketika dia meninggal dunia. Karena dalam kahazanah kajian Islam sendiri ada yang disebut dengan kafir inda an-nas mukmin inda Allah artinya seseorang kafir/ ahli maksiat dalam pandangan zahir manusia, namun ternyata dia mukmin di sisi Allah. Hal ini bisa saja terjadi karena taubat seseorang akan diterima Allah sebelum ajal menjemputnya, sebesar apapun dosa seseorang ketika dia minta ampunan Allah dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, Allah akan mengampuni dosanya selain dosa syirik kepada-Nya. Sebaliknya juga demikian, ada yang mukmin inda an-nas kafir inda Allah, dia sangat kelihatan orang yang taat akan perintah Allah, namun ternyata dia kafir dalam pandangan Allah seperti orang munafik atau orang yang kelihatannya taat dalam beribadah, namun ternyata dia tidak ikhlas dalam melakukannya, melainkan karena ada tujuan lain di balik semua itu.
Ahli surga atau nerakanya seseorang bisa terjadi saat sakaratulmaut. Saat-saat itu setiap orang yang dekat mati mengalami godaan setan yang berupaya menyesatkan akidahnya.  Berikut ada kisah nyata yang terjadi terhadap Imam al-Qurthubi. Bahwa satu ketika Imam al-Qurthubi sedang sakaratulmaut (menjelang kematian), orang mengucapkan la ilaha illa Allah. Lalu al-Qurthubi mengatakan “tidak.” Orang-orang tentu merasa bingung, karena mereka mengajarkan hal yang baik, tapi dia menolaknya. Alhamdulillah Allah mentakdirkan al-Qurthubi sembuh. Dia menceritakan, ketika dia sedang sekarat dua orang setan datang kepadanya dan mengatakan, “Matilah kau dalam agama Yahudi karena itulah agama yang baik. Sementara yang satunya lagi mengatakan, ”matilah dalam Agama Kristen karena itulah agama yang baik. “Lalu aku mengatakan tidak untuk menolaknya”, papar al-Qurthubi.
Kisah lain, terjadi pada K. Fathul Bari tahun 1970 di desa Telanger, Sokohanah, Simpang (Madura), pada petang hari Ahad tanggal 9 Agustus dia menghadapi sakaratulmaut. Kemudian orang-orang yang berhadir menganggapnya telah mati. Setelah 45 menit dianggap meninggal, tiba-tiba tubuhnya bergerak dan duduk bernafas kembali di tengah-tengah kerumunan keluarganya yang sedang menangisinya. Ketika dia pulih sadar, wartawan Harian Abadi datang ke rumahnya dan melakukan wawancara didampingi anaknya Fathullah. Dia menceritakan pengalamannya selama dalam keadaan diduga mati tersebut, katanya, “terasalah badan saya sangat panas, terasa lapar dan haus yang tiada taranya. Di saat itulah saya melihat seorang yang serupa dengan nenek saya yang telah lama meninggal. Nenek saya itu berkata sambil memperlihatkan makanan dan minuman kepada saya, yang saya sangat membutuhkannya, namun saya menolaknya. Saat itu saya melihat catatan amal keburukan sebelah kiri saya dan sangat mengerikan dan menakutkan sekali. Ketika itu saya merasa sedang tidak berada di dunia. Saya merasakan tarikan nafas saat ruh keluar dari tubuh saya, rasanya jasad saya hancur. Ratap tangis orang-orang sangat mengganggu jasad saya yang hancur. Apalagi kalau mereka banyak berbicara, tubuh saya terasa seperti ditusuk dengan pisau tajam yang mengandung racun. Ketika saya dibaringkan, saya melihat teman-teman dan keluarga datang bertakziah, mereka sama sekali tak menghiraukan betapa hancur luluhnya tubuh saya. Sakitnya saat pencabutan ruh sangat terasa, harapan saya ketika itu adalah mendapat siraman yang mendinginkan, tak terpenuhi. Malahan mereka semua menambah derita sakitnya jasad saya. Saya terasa melayang ke alam luas dibawa oleh seorang yang berperawakan tinggi besar yang menakutkan.  Saya dibawa keruangan besar berbau busuk dan di situ banyak laki-laki dan perempuan yang keadaannya sangat menyedihkan. Ketika saya dilihat seorang penjaga ruangan itu, dia mengatakan, “ini bukan tempatmu, di sanalah tempatmu” sambil menunjuk ke tempat lain. Saya dibawa ke tempat itu yang kelihatannya lebih baik dari tempat sebelumnya. Tapi di sini pun saya ditolak. Karena penolakan ini mungkin Allah belum menizinkan saya untuk meninggal saat itu.”
Saat K. Fathul Bari tersadar kembali setelah kembali sadar setelah 45 menit, dia termenung dan banyak berzikir sementara sakitnya tetap di deritanya. Ia sadar kembali selama 24 jam. Pada tanggal 10 Agustus 1970 setelah ia menyampaikan wasiatnya kepada keluarganya, ia meninggal pada usia 65 tahun. Kisah ini ditulis dalam buku Pedoman Mati karya H. M Arsyad Thalib Lubis yang dikutip dari Harian Mercusuar edisi 23 Agustus 1970.
Pelajaran yang bisa diambil dari kisah di atas adalah, “pertama; seseorang yang kelihatannya tidak baik pada sakaratulmaut seperti al-Qurthubi yang menolak untuk di-talqin-kan, tidak serta merta memvonisnya adalah ahli neraka, olehkarena bisa jadi yang dia tolak bukanlah talqin yang diaajrkan kepadanya, melainkan ajakan setan yang ingin menyesatkannya. Kedua; orang yang sedang sakaratulmaut melihat berbagai pemandangan yang tidak terlihat oleh mata normal. Ketiga; setan sangat berupaya menyesatkan akidah seseorang ketika sakaratulmaut, maka tidak tertutup kemungkinan orang yang rajin beribadah di dunia tapi imannya tidak cukup kuat untuk menahan godaan setan saat sakaratulmaut, maka saat itu dia kafir dan ahli neraka.
Penyaksian baik kepada jenazah adalah perilaku yang sesuai dengan syariat Rasulullah saw. Menyaksikan baik kepada jenazah setelah dishalatkan adalah perbuatan baik, kendatipun tidak mengenal sama sekali mayat yang disaksikannya. Paling tidak itu adalah doa (min bab ad-du’a) semoga ketika baik disaksikan manusia, dia juga baik dalam pandangan Allah. Lebih dari itu manusia tidak bisa mengetahui saat-saat menjelang kematian dia bertaubat memohon ampunan Allah, dan Allah mengampuni dosa-dosanya. Semoga bermanfaat !!!

28 November 2017

Tanggal lahirku

Selamat yaa...
Panjang umur yaa...
Sukses yaa....
Selalu sehat yaa...
Berkah yaa...

Sepotong kata-kata yang diucapkan oleh saudara-saudari dan kerabat ku untuk mengekspresikan kegembiraan pada hari kelahiranku.
Semua terlihat senang
Semua terlihat bahagia
Semua mendoakan
Mendoakan yang baik-baik

Sepotong kata yang dapat menjawab semua ungkapan kegembiraan dan doa. 
Aamiin.
Semoga Allah mengabulkan doa-doa kalian.
Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita.

Teman..
Sahabat..
Saudara-saudari ku

28 Nopember
Memang benar, tanggal ini tercatat sebagai tanggal kelahiranku.
Ia tercatat dalam akta kelahiran, kartu keluarga, KTP, SIM dan pasporku.
Memang benar, ada sebersit kebahagiaan dihatiku atas perhatian dan doa-doa kalian
Dan terus menerus aku meng-aamiin kan doa kalian
Semoga Allah menyegerakan mengabulkannya.

Namun demikian...
Ada terbersit ingatanku ke masa lampau ku
Pada tanggal yang sama
Ditengah malam
Di akhir bulan Romadhon
Ketika sebagian besar kaum muslimin dan muslimat baru saja terjaga
Terbangun dari tidurnya untuk bersantap sahur
Ketika sebagian lainnya melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an
Ketika Abah (begitu aku memanggil bapakku) sedang bertadarus
Disaat itulah ibuku berjuang dengan sekuat tenaga
Mempertaruhkan nyawanya, dalam lemah raganya
Demi menyelamatkan aku

Ibuku berkisah, begitu berat dan sulit saat melahirkanku
Begitu banyak darah yang menyembur keluar
Pendarahan yang tak henti-hentinya
Di dalam kamar rumah sederhana kami
Berlantaikan tanah
Berdindingkan bata merah
Ditengah gelapnya malam
Ditemani alunan ayat-ayat suci Al Qur'an
Yang samar terdengar dari surau, langgar, musholla dan masjid sekitar
Diiringi doa dari Abahku
Atas kuasa Allah, lahirlah aku.

Ya...
Saat itu, saat aku dilahirkan
Tidak di rumah sakit bersalin
Apalagi rumah sakit besar
Tidak juga ditangani oleh dokter
Tidak juga dengan bidan
Hanya sesosok perempuan yang kami sebut dengan 'dukun' beranak
Yang keahliannya kami anggap jauh melebihi profesional karena pengalamannya
Hanya didalam kamar rumah kami
Hanya ditemani lampu templok
Tanpa listrik
Tidak gelap
Tidak juga terang benderang

Suara indah adzan Abahku
Bergema di kedua telingaku
Menambah syahdu malam Ramadhan saat itu

Tangisan sang bayi menghentikan sejenak sahur para tetangga
Sebagian bergegas datang berkunjung sebelum waktu subuh tiba
Mereka berdoa, memberikan semangat, mentransfer energi positif mereka kepada ibuku yang terlihat sangat lemah.
Bisa jadi, jika kejadian itu terjadi saat ini, saat dunia kedokteran sudah semakin canggih, bisa dipastikan ibuku akan mendapatkan tranfusi darah beberapa liter.
Namun Allah-lah yang punya kehendak.


Rabb,
Aku bermohon hanya kepada-Mu
Aku sangat bermohon
Ampuni ibuku
Ampuni Abahku
Ampuni keduanya
Perjuangan mereka begitu berat
Perjuangan mereka begitu besar bagi kami
Hanya surga yang pantas buat mereka

Rabb,
Sungguh, aku bersimpuh kepada Mu
Ampuni mereka

Alfatihah..

"Robbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kamaa robbayaaniishoghiroo"





_





Munajat pagiku

Alhamdulillah
Kau masih beri kesempatan pada hamba-Mu yang penuh dengan dosa ini untuk masih bisa menghirup udara hari ini.
Kau masih beri kesempatan pada hamba-Mu ini untuk bermunajat
Kau masih beri kesempatan pada hamba-Mu untuk bertobat.

Rabb,
Terimalah tobat hamba-Mu ini.
Tak ada tempat bagi hamba untuk minta pertolongan selain hanya kepada-Mu
Tak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa hamba selain Engkau

Rabb, terimalah tobat hamba
Begitu banyak dosa dan kesalahan yang telah hamba buat
Hingga hamba tak lagi sanggup untuk menghitungnya
Ampuni Yaa Rabb
Berikan kekuatan pada hamba agar selalu istiqomah dalam tobat
Berikan kekuatan pada hamba agar selalu istiqomah dalam taat
Jauhkan hamba dari apapun yang bisa mengarahkan hamba pada kemaksiatan dan dosa

Rabb, Engkaulah yang berkuasa atas segala sesuatu
Takdirkan hamba sebagai salah satu dari hamba-hamba Mu yang selamat
Di dunia dan di akherat

Rabb,
Tanggal hari ini, tercatat sebagai tanggal kelahiran hamba
Setidaknya itulah yang tercatat pada akta lahir hamba
pada kartu keluarga hamba
pada kartu pengenal hamba
pada SIM hamba
pada paspor hamba
Anugerah yang sangat besar yang Engkau karuniakan kepada hamba sebuah kehidupan
Agar hamba bisa mengabdi pada Mu
Pada orang tua hamba
Pada guru-guru hamba
Pada siapapun

Rabb, jadikan hamba sebagai hamba yang bermanfaat bagi seluruh umat
Jangan jadikan hamba sebagai penghambat umat yang ingin mendekat kepada Mu

Rabb,
Ampuni apapun kesalahan hamba
Sebesar apapun dosa hamba
Hapuslah segala catatan buruk hamba
Hingga hamba menjadi manusia yang selamat di dunia dan di akherat

Rabb,
Ampuni apapun dosa dan kesalahan kedua orangtua hamba
Mulyakan keduanya
Jadikan kuburnya sebagai taman dari taman-taman surga Mu

Rabb,
Ampuni dosa dan kesalahan istri dan anak-anak hamba
Ampuni dosa dan kesalahan saudara-saudara hamba
Ampuni dosa dan kesalahan mertua hamba beserta anak-anaknya
Ampuni dosa dan kesalahan guru-guru hamba
Ampuni kami Yaa Robb,

Terimalah sekecil apapun amal-amal kami
Jadian sekecil apapun amal-amal kami sebagai penyebab ke ridho-an Mu
Hingga Kau masukkan kami kedalam surga Mu

Rabb,
Sesungguhnya Enggkau Maha mengabulkan segala doa dan pinta
Kabulkanlah Yaa Allah Yaa Robbal 'Aalamiin

Rabbanaa aatiina fiddun yaa hasanah
Wa fil akhiroti hasanah wa qinaa 'adzaabannar

_




22 November 2017

Pada akhirnya....

Baru saja lewat satu minggu saya menulis tentang mati sebelum mati. Kisah tentang orang tua yang 'terpaksa' meninggalkan dunia tanpa disaksikan oleh anak-anaknya. Minggu lalu, sang istri (seorang ibu tua yang memang sedang sakit), menyusul sang suami. Tak perlu saya cari tau bagaimana kepergiannya. Anak-anaknya bergegas menuju pembaringan terakhir sang ibu, namun sebagaimana ketika sang ayah meninggal, merekapun hanya menjumpai gundukan tanah yang masih basah bertabur bunga.

Ibu yang seharusnya ditemani, terlebih ia masih berduka ketika ditinggal suaminya. Orang yang hidup bersamanya puluhan tahun. Duka itu bertambah berat ketika harus ia tanggung sendirian tanpa anak disisinya yang diharapkan dapat menghibur hatinya. Pedih. Perih. Tak sanggup aku mendengar kisahnya. Tak sanggup aku untuk membayangkannya. 

Tangis sang anak yang katanya cinta pada orangtuanya hanya sebatas meneteskan air mata. Tak meresap didalam kalbunya. Tak perlulah beralasan macam-macam. Kini kedua orangtuanya telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
Tak terbayangkankah bagaimana jika kelak diperlakukan sama oleh anak-anak mereka ?!
Sanggupkah mereka mengarungi hidup dihari tua tanpa dipedulikan oleh anak-anaknya yang punya urusan (dunia) masing-masing sebagaimana alasanmu pada orangtuamu ?!

Harta. 
Perebutkanlah.
Bagikanlah.
Setelah itu, pulanglah kalian masing-masing pada kehidupanmu.
Berjaga-jagalah, karena kelak jika umurmu panjang, masa tuamu telah menunggu.
Bersiaplah untuk hidup mandiri sebagaimana orangtuamu mandiri tanpamu.
Kamu kelak akan tahu, bahwa bukan biaya hidup saja yang dibutuhkan dihari tuamu.
Kedekatan dengan anak cucumu lah yang membahagiakanmu.

Perlu juga kamu untuk kamu ketahui, walaupun kedua orangtuamu telah tiada, mereka masih membutuhkanmu. Membutuhkan doa-doamu. Membutuhkan sedekahmu. Membutuhkan kamu mengajarkan anak-anakmu agar tidak menelantarkanmu.

_

Hasad : Negatif thingking

Jika terus melatih hasad atau sifat dengki, maka semakin lihailah kita mendengki seseorang. Negative thinking alias berfikiran selalu negatif akan menjadi bagian dari kehidupannya. 

Berfikir negatif itu berkolaborasi dengan sifat dengki atau sebaliknya. Keduanya saling dukung mendukung. Jangan samakan antara berfikir negatif dengan kewaspadaan. Beda jauh masbro ! Waspada itu tidak selalu harus berfikir negatif. Begitu pula berfikir negatif itu bukanlah cara untuk waspada.

Berikut adalah kejadian-kejadian yang bisa dikatagorikan sebagai berfikir negatif dan juga hasad alias mendengki.

"Kenapa sih di telpon tidak diangkat ?, takut ya ?!, menghindar ya ?!, merasa bukan jam kerja ya ?, sengaja di silent ya ? "
Padahal bisa jadi kenapa orang itu tidak mengangkat telpon, misalnya, mungkin sedang berkendara, mungkin tidak terdengar, mungkin telpon tidak dibawa ketika ke toilet, mungkin sedang tidur, mungkin sedang ada tamu sehingga tidak mengangkat atau menerima telpon karena menghormati tamu, mungkin sedang sibuk, atau mungkin memang tidak ada telpon masuk karena si penelpon ternyata salah nomor. Mungkin aja kan ?! coba deh berfikiran positif, toh kamu juga pernah seperti itu. 

"Kenapa sih ada orang yang senengnya selfi trus ?, mau pamer ya kalau kamu bisa jalan-jalan terus ?, mau bikin orang lain iri ya?, mau nunjukkin kalau kamu sukses ya?, mau ngasih tau orang kalau kamu orang kaya ya?, udah ngerasa jadi artis beken ya?"

Trus... kalau memang alasannya seperti itu, trus kenapa ? ada masalah ? iri ? atau karena kamu masih miskin ? 

Kalau dijawab kayak gini, maka terjadilah perang. Bertengkarlah terus mereka. Saling sindirlah pada akhirnya. Klimaks nya putuslah pertemanan.

Seandainyapun ada orang yang selfi alias foto-foto terus diupload, kalau kamu mau tahu alasannya, ya tanyalah baik-baik apa motifasinya, bisa jadi kan karena ekspresi kesenangannya saja, atau mau menyimpan semua kenangannya di medsos, atau mau menginformasikan bahwa dirinya sedang berlibur, jadi harap dimaklum kalau tidak menerima telpon seperti kejadian diatas, atau alasan lainnya yang sebenarnya tidak ada urusan dengan orang lain. Suka-sukanya lah, sebagaimana suka-suka kamu bagaimana cara mengekspresikan diri. Latih dong berfikir positif.

Kalau terus menerus melatih sifat dengki, maka berfikir negatif lah pada setiap keadaan. 
Apapun yang tidak berkenan dihati, maka jadilah ia bahan bully-an, jadilah ia cerita tiada akhir, jadilah ia semakin tersiksa batinnya.

Sudahlah... 
Sudahilah.





21 November 2017

Agnostik - Atheis

"Kemudian saya bertanya, kalau hidupmu sudah sebaik ini tanpa agama, lalu kenapa kamu ingin mencari Tuhan dan ingin memiliki agama?" (Rina Nose)

Jika memang benar kutipan tulisan diatas adalah hasil pemikirannya berdasarkan 'hasil pantauannya' selama dua hari di Jepang, maka hasil pemikirannya mengarahkannya pada pemahaman Agnostik bahkan cenderung menjadi atheis.

Agnostik adalah orang yang memiliki pandangan bahwa ada atau tidak adanya Tuhan tidak dapat diketahui, sedangkan Atheis lebih kepada sikap dan tindakan terhadap keberadaan Tuhan.

Pola pikir Agnostik atau atheis, sudah mulai merambah pada generasi muda. Saya tidak bisa menghitung berapa jumlahnya, karena saya memang belum pernah melakukan survey. Namun setidaknya saya pernah mendengar langsung dari seorang teman bahwa dirinya menyebut menganut paham agnostik. 
"Saya percaya ada Tuhan, tapi saya tidak terikat pada satu agamapun", begitu kira-kira penyataannya pada saat itu. Teman saya itu sebenarnya seorang yang beragama islam, namun seiring perjalanan, selain jauh dari orang tua, dan seringnya meninggalkan kewajiban agama serta bergaul dengan orang-orang yang juga menyepelekan aturan agama, maka lambat laun pola pikirnya berubah dengan sendirinya. Mengedepankan dan menginginkan kebebasan. Pola pikirnya menjadi liar dan membenarkan apa dianggapnya benar menurut nalarnya. Menjadi baik adalah lebih baik walau tanpa agama, begitu kira-kira salah satu pikirannya. Nyaris persis sama seperti yang diutarakan oleh Rina Nose. Namun keyakinannya pada adanya Tuhan masih ada. Ditambah lagi teman saya itu punya pasangan yang berasal dari pemahaman agama yang berbeda. Jadilah ia semakin membenarkan pilihannya, menuhankan pikirannya. Sementara agama melarangnya untuk terus berhubungan bahkan melanjutkan ke jenjang pernikahan.

Jika pemikiran seperti ini, disampaikan dan dipublikasikan oleh seorang publik figur pada ranah publik pula, maka akan berdampak dahsyat sekali. Akan cepat menjalar pada manusia-manusia yang memang pada asalnya memang malas dan enggan menjalankan perintah agama. 
Tak dapat dipungkiri para pengekor pemikiran ini akan mentransfer dosa-dosanya pada sang idola tanpa mengurangi sedikitpun dosa yang ditanggungnya.

Beberapa berpendapat bahwa, mereka yang secara lisan (ataupun tulisan) menyatakan pemikiran seperti ini atau secara terang-terangan menyatakan sebagai penganut agnostik, maka ia sesungguhnya telah murtad, keluar dari agama Islam.
#Nauzubillahimindzalik.

_

Mohon Maaf

Assalamu'alaykum, Di hari yang mulia ini Di hari yang telah lalu dan yang akan datang Mohon maaf atas segala salah dan khilaf Mohon maaf...