Kalimat
syahadatain adalah kalimat yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Kita
senantiasa menyebutnya setiap hari, misalnya ketika shalat dan azan.
Kalimat syahadatain sering diucapkan oleh umat Islam dalam pelbagai
keadaan. Kita menghafal kalimat syahadah dan dapat menyebutnya dengan
fasih. Namun, demikian sejauh manakah makna kalimat ini dipahami dan
diamalkan dalam kehidupan sehari-hari kaum Islam?
Pertanyaan
tersebut perlu dijawab dengan realitas yang ada. Tingkah laku umat Islam
yang terpengaruh dengan budaya jahiliyah atau cara hidup Barat, memberi
gambaran bahwa syahadah tidak cukup memberi pengaruh. Terbukti tidak
sedikit dari umat Islam yang masih melakukan perkara-perkara yang
dilarang Allah dan meninggalkan perintah-Nya, memberi kesetiaan bukan
kepada kaum muslimin, atau tidak mensyukuri sesuatu yang diberikan
kepada mereka. Itu adalah contoh dari wujud seseorang yang tidak
memahami syahadah yang dibacanya dan tidak mengerti makna yang
sebenarnya dari syahadah.
Kalimat syahadah merupakan asas utama
dan landasan penting bagi rukun Islam. Tanpa syahadah, rukun Islam
lainnya akan runtuh. Begitu juga dengan rukun iman. Tegaknya syahadah
dalam kehidupan individu akan menegakkan ibadah dan dien dalam hidup
kita. Dengan syahadatain terwujudlah sikap ruhani yang akan memberikan
motivasi kepada tingkah laku jasmaniah dan akal pikiran, serta
memotivasi kita untuk melaksanakan rukun Islam lainnya.
Tegaknya
Islam mesti didahului oleh tegaknya rukun Islam; dan tegaknya rukun
Islam mesti didahului oleh tegaknya syahadah. Rasulullah saw.
mengisyaratkan bahwa Islam itu bagaikan sebuah bangunan. Untuk
berdirinya bangunan Islam itu harus ditopang oleh 5 (lima) tiang pokok,
yaitu syahadatain, shalat, saum, zakat, dan haji ke Baitulllah.
Di
zaman Nabi saw., kalangan masyarakat Arab memahami betul makna
syahadatain ini. Terbukti dalam suatu peristiwa dimana Nabi saw.
mengumpulkan para pemimpin Quraisy dari kalangan Bani Hasyim, Nabi saw.
bersabda, “Wahai saudara-saudara, maukah kalian aku beri satu kalimat,
dimana dengan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah
Arab?” Kemudian Abu Jahal menjawab, “Jangankan satu kalimat, sepuluh
kalimat berikan kepadaku.” Kemudian Nabi saw. bersabda, “Ucapkanlah
laa ilaha illa Allah
dan Muhammad Rasulullah.” Abu Jahal pun menjawab, “Kalau itu yang
engkau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua
orang Arab dan bukan Arab.”
Penolakan Abu Jahal kepada kalimat ini
bukan karena dia tidak paham akan makna dari kalimat itu. Justru
sebaliknya. Dia tidak mau menerima sikap yang mesti tunduk, taat, dan
patuh kepada Allah swt. saja Dia sadar betul jika ia bersikap seperti
itu, maka semua orang akan tidak tunduk lagi kepadanya. Abu Jahal ingin
mendapatkan loyalitas dari kaum dan bangsanya. Penerimaan syahadah
bermakna menerima semua aturan dan segala akibatnya. Penerimaan inilah
yang sulit bagi kaum jahiliyah untuk mengaplikasikan syahadah.
Sebenarnya,
apabila mereka memahami bahwa loyalitas kepada Allah itu juga akan
menambah kekuatan bagi diri mereka. Mereka yang beriman semakin
dihormati dan semakin dihargai. Mereka yang memiliki kemampuan dan ilmu
akan mendapatkan kedudukan yang sama apabila ia sebagai muslim (Abu
Jahal adalah tokoh di kalangan Arab jahiliyah dan ia memiliki banyak
potensi, diantaranya ia sebagai Abu Amr (ahli hukum). Setiap individu
yang bersyahadah, maka ia menjadi
khalifatullah fil Ardhi.
Kalimat
syahadah mesti dipahami dengan benar karena di dalamnya terdapat makna
yang sangat tinggi. Dengan syahadah, kehidupan kita akan dijamin bahagia
di dunia ataupun di akhirat. Syahadah sebagai kunci kehidupan dan tiang
dien (agama Islam). Oleh karena itu, marilah kita bersama memahami
syahadatain ini.
Syahadat adalah Pintu Masuk ke dalam Islam
Sahnya
iman seseorang adalah dengan menyebutkan syahadatain. Kesempurnaan iman
seseorang bergantung kepada pemahaman dan pengamalan syahadatain.
Syahadatain membedakan manusia kepada muslim dan kafir. Pada dasarnya
setiap manusia telah bersyahadah Rububiyah di alam arwah, tetapi ini
saja belum cukup. Untuk menjadi muslim, mereka harus bersyahadah
Uluhiyah dan syahadah Risalah di dunia.
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ
حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ
فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا
لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ
صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ
بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً
تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ
أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ
دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
Rasulullah
bersabda kepada Muadz bin Jabal saat mengutusnya ke penduduk Yaman,
“Kamu akan datang kepada kaum ahli kitab. Jika kamu telah sampai kepada
mereka, ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan
Muhammad utusan Allah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, beritakan
kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat
setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu beritakan
kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) yang diambil
dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada
orang-orang miskin. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, hati-hatilah
kamu terhadap kemuliaan harta mereka dan waspadalah terhadap doanya
orang yang dizalimi, sebab antaranya dan Allah tidak ada dinding
pembatas.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Berikut ini pernyataan Rasulullah saw. tentang misi
Laa ilaha illallah dan kewajiban manusia untuk menerimanya.
Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda:
أُمِرْتُ
أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ
وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ
وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
“Aku
diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa
tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat,
dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu,
terperiharalah darah dan harta benda mereka kecuali dengan haknya,
sedangkan hisab mereka kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pentingnya
mengerti, memahami, dan melaksanakan syahadatain. Manusia berdosa
akibat melalaikan pemahaman dan pelaksanaan syahadatain.
“Maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain
Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang
mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu
berusaha dan tempat kamu tinggal.” [QS. Muhammad (47): 19].
Kalimat
“dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan” menunjukan bahwa ketidakkonsistenan sikap seseorang dengan pernyataan tauhidnya (
Laa ilaaha illallah)
adalah perbuatan dosa. Karena pernyataan tersebut pada hakikatnya
adalah pernyataan ikrar kecintaan, ketaatan, dan rasa takut hanya kepada
Allah semata. Maka, bila seseorang muslim tidak menunaikan shalat,
tidak menutup aurat, dan atau terlibat dalam pergaulan bebas antar lawan
jenis, hal itu merupakan sikap tidak konsisten dengan pernyataan
Laa ilaaha illallah.
Karena dengan sikap seperti itu, cinta, taat, dan rasa takutnya tidak
diarahkan kepada Allah, tetapi kepada hawa nafsunya sendiri.
Manusia menjadi kafir karena menyombongkan diri terhadap
Laa ilaha illallah dan tidak mau mengesakan Allah.
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “
Laa ilaaha illallah” (tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri.” [QS. As-Shaffat (37): 35].
Yang dimaksud menyombongkan diri ketika diperdengarkan kalimat ”
Laa ilaaha illallah”
tidak semata-mata karena tidak mau mengucapkan atau mendengarkannya,
tetapi yang yang dimaksud adalah substansinya, yaitu hanya taat, takut
dan cinta kepada Allah. Karena itu kesombongan diri dalam ayat ini
maksudnya adalah sikap tidak mau taat dan tunduk kepada perintah Allah,
seperti tidak mau mengerjakan shalat, tidak menutup aurat, tidak
menjauhi pergaulan bebas, berkhalwat dengan yang bukan mahramnya, dan
sebagainya.
Yang dapat bersyahadat dalam arti sebenarnya adalah
hanya Allah, para malaikat, dan orang-orang yang berilmu, yaitu para
nabi dan orang yang beriman kepada mereka.
“Allah menyatakan
bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang
menegakkan keadilan; para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu): tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak
disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. Ali Imran (3):
18].
Manusia bersyahadah di alam arwah sehingga fitrah manusia
mengakui keesaan Allah. Ini perlu disempurnakan dengan syahadatain
sesuai ajaran Islam.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”
mMereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami
lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan,
“Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap
ini (keesaan Tuhan).” [QS. Al-A’raf (7): 172].
Syahadat adalah Ringkasan Ajaran Islam
Pemahaman
muslim terhadap Islam bergantung kepada pemahamannya terhadap
syahadatain. Sebab, seluruh ajaran Islam terdapat dalam dua kalimat yang
sederhana ini.
Ada 3 hal prinsip syahadatain :
A. Pernyataan
Laa ilaha illallah merupakan penerimaan penghambaan atau ibadah kepada Allah saja. Melaksanakan
minhajillah (
way of life yang ditetapkan Allah) merupakan ibadah kepada-Nya.
B. Menyebut
Muhammad Rasulullah merupakan dasar penerimaan cara penghambaan itu
dari Muhammad saw. Dan Rasulullah adalah tauladan dalam mengikuti Manhaj
Allah.
C. Penghambaan kepada Allah meliputi
seluruh aspek kehidupan. Ia mengatur hubungan manusia dengan Allah,
dengan dirinya sendiri, dan dengan masyarakatnya.
Makna Laa ilaha
illa Allah adalah penghambaan kepada Allah [QS. Al-Anbiya' (21): 25],
dan Rasul diutus dengan membawa ajaran tauhid.
“Hai manusia,
sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah (2): 21].
Manusia diciptakan untuk menghambakan dirinya kepada Allah semata.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [QS. Az-Dzariyat (51): 56].
Dan
kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami
wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan
Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” [QS. Al-Anbiya’ (21):
25].
Muhammad saw. adalah tauladan dalam setiap aspek kehidupan
[QS. Ali Imran (3): 31], dan aktifitas hidup orang yang beriman kepada
Allah, hendaknya mengikuti ajaran Muhammad saw.
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzab (33): 21].
Meneladani
Rasulullah menjadi parameter keimanan dan kecintaan seseorang kepada
Allah. Bukti cinta kepada Allah adalah dengan mengikuti ajaran
Rasulullah saw.
Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Ali Imran
(3): 31].
Seluruh aktivitas hidup manusia secara individu, masyarakat dan negara mesti ditujukan kepada mengabdi Allah swt. saja.
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162).
Islam adalah satu-satunya syariat yang diridhai Allah dan tidak dapat dicampur dengan syariat lainnya.
“Sesungguhnya
agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih
orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang
pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara
mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka
sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” [QS. Ali Imran (3): 19].
“Barangsiapa
mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk
orang-orang yang rugi.” [QS. Ali Imran (3): 85].
“Kemudian kami
jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama
itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu
orang-orang yang tidak mengetahui.” [QS. Al-Jatsiyah (45): 18].
“Dan
bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalannya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” [QS. Al-An’am (6):
153].
Syahadat adalah Dasar Sebuah Perubahan
Syahadatain
mampu mengubah manusia dalam aspek keyakinan, pemikiran, maupun jalan
hidupnya. Perubahan itu juga meliputi berbagai aspek kehidupan manusia
secara individu atau masyarakat.
Ada perbedaan penerimaan
syahadatain pada generasi pertama umat Muhammad dengan generasi
sekarang. Perbedaan tersebut disebabkan perbedaan derajat kepahaman
terhadap makna syahadatain secara bahasa dan pengertian, dan sikap
konsisten terhadap syahadah tersebut dalam pelaksanaan ketika menerima
maupun menolak.
Umat terdahulu langsung berubah ketika menerima
syahadatain. Sehingga mereka yang tadinya bodoh menjadi pandai, yang
kufur menjadi beriman, yang bergelimang dalam maksiat menjadi takwa dan
abid, yang sesat mendapat hidayah. Masyarakat yang tadinya bermusuhan
menjadi bersaudara di jalan Allah.
Syahadatain dapat merubah masyarakat dahulu, maka syahadatain pun dapat mengubah umat sekarang menjadi baik.
Penggambaran
Allah tentang perubahan yang terjadi pada para sahabat Nabi, yang
dahulunya berada dalam kegelapan jahiliyah kemudian berada dalam cahaya
Islam yang gemilang.
“Dan apakah orang yang sudah mati (maksudnya
ialah orang yang telah mati hatinya yakni orang-orang kafir) kemudian
dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang
dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat
manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita
yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah kami
jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka
kerjakan.” [QS. Al-An’am (6): 122].
Perubahan individu contohnya
terjadi pada Mush’ab bin Umair yang sebelum mengikuti dakwah Rasul
merupakan pemuda yang paling terkenal dengan kehidupan yang glamour di
kota Mekkah. Tetapi setelah menerima Islam, ia menjadi pemuda sederhana
yang dai, duta Rasul untuk kota Madinah, kemudian menjadi syuhada Uhud.
Saat syahidnya, Rasulullah membacakan ayat ini.
“Di antara
orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan
di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak
mengubah (janjinya).” [QS. Al-Ahzab (33): 23].
Reaksi masyarakat
Quraisy terhadap kalimat tauhid [QS. Al-Buruuj (85): 6-10], reaksi musuh
terhadap keimanan kaum mukminin kepada Allah [QS. Al-Kahfi (18): 2],
musuh memerangi mereka yang konsisten dengan pernyataan Tauhid [QS.
Al-Anfal (8): 20].
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka:
Laa ilaaha illallah
(Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka
menyombongkan diri. Dan mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan
sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” Sebenarnya dia
(Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul
(sebelumnya). [QS. As-Shaffat (37): 35-37].
“Ketika mereka duduk
di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat
terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang
mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah
Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan
bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya
orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin
laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi
mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” [QS.
Al-Buruj (85): 6-10].
“Sebagai bimbingan yang lurus, untuk
memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi
berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal
shalih, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik.” [QS. Al-Kahfi
(18): 2].
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy)
memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau
membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah
menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”
[QS. Al-Anfal (8): 30].
Syahadat adalah Hakikat Dakwah Para Rasul
Setiap
rasul, semenjak Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad saw., membawa misi
dakwah yang satu, yaitu syahadah. Apa yang diwahyukan kepada Rasulullah
sama dengan apa yang diwahyukan kepada nabi-nabi sebelumnya. Allah
berfirman,
“Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu
sebagaimana kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang
kemudiannya, dan kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim,
Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan
Sulaiman. Dan kami berikan Zabur kepada Daud.” [QS. An-Nisa’(4): 163].
Mereka
semua mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah semata dan hanya
menyembah kepada-Nya. Seperti yang diserukan Nuh a.s. kepada kaumnya.
Sesungguhnya
kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, “Wahai kaumku,
sembahlah Allah. Sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.
Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut kamu akan
ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” [QS. Al-A’raf (7): 59].
Nabi
Ibrahim berdakwah kepada masyarakat untuk membawa mereka menuju kepada
pengabdian Allah saja serta membebasakan diri dari kesyirikan.
Sesungguhnya
telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang
yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka,
“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah
selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami
dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu
beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya,
“Sesungguhnya Aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan Aku tiada dapat
menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata), “Ya
Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada
Engkaulah kami bertaubat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” [QS.
Al-Mumtahanah (60): 4].
(Catatan: Nabi Ibrahim pernah memintakan
ampunan bagi bapaknya yang musyrik kepada Allah: Ini tidak boleh ditiru,
karena Allah tidak membenarkan orang mukmin memintakan ampunan untuk
orang-orang kafir. Lihat surat An-Nisa ayat 48).
Para nabi membawa dakwah bahwa ilah yang satu yaitu Allah saja.
Katakanlah,
“Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.”
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang
pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” [QS. Al-Kahfi (18): 110].
Syahadat adalah Kalimat dengan Ganjaran Yang Besar
Banyak
ganjaran yang diberikan oleh Allah dan dijanjikan oleh Nabi Muhammad
saw. Di antaranya seseorang akan dimasukkan ke dalam surga dan
dikeluarkan dari neraka seperti sabda Rasulullah saw.
عَنْ
عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى
عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ
وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ
الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ
Ubadah bin Shamit
meriwayatkan dari Nabi saw., beliau bersabda, “Barangsiapa mengatakan
tiada ilah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad
adalah utusan-Nya dan Rasul-Nya, bahwa Isa adalah hamba dan utusan-Nya,
kalimat-Nya yang dicampakkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa
surga adalah hak serta neraka itu hak. Allah akan memasukkannya ke
surga, apapun amal perbuatannya.” (Bukhari).
عَنْ
أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَخْرُجُ
مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ
شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ وَيَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ وَيَخْرُجُ مِنْ
النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ
ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ
Dari Anas, Nabi saw. bersabda, “Keluar dari neraka orang yang mengucapkan
la ilaha illallah
dan di hatinya ada seberat rambut kebaikan. Keluar dari neraka orang
yang mengucapkan la ilaha illallah sedang di hatinya ada seberat gandum
kebaikan. Dan keluar dari neraka orang yang mengatakan
la ilaha illallah sedang di hatinya ada seberat zarrah kebaikan.” (Bukhari).
Orang yang mengikrarkan syahadat akan mendapatkan syafaat Rasulullah di hari Kiamat. Seperti sabda beliau,
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ
النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا
يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ
مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ
الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ
أَوْ نَفْسِهِ
Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. ditanya,
“Siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu di hari Kiamat?”
Rasulullah saw. bersabda, “Aku telah mengira, ya Abu Hurairah, bahwa
tidak ada seorang pun yang tanya tentang hadits ini yang lebih dahulu
daripada kamu, karena aku melihatmu sangat antusias terhadap hadits.
Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari Kiamat adalah yang
mengatakan
la ilaha illallah secara ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (Bukhari).