20 Juni 2012

Yahudi Saat Ini Bukanlah Turunan Bani Israil


Yahudi Saat Ini Bukanlah Turunan Bani Israil


Saat ini, apakah anda mengetahui siapakah mereka yang di sebut dengan yahudi? Apa latar belakang mereka, bagaimana niat mereka untuk kuasai dunia? , berikut tulisan Ahmad Thomson, berkebangsaan Inggris, dan beliau seorang mualaf , memberikan gambaran secara jelas siapa itu yahudi.
Yahudi, yang diduga merupakan keturunan bani Israel yang menolak Isa dan Muhammad, (semoga rahmat dan kesejahteraan dilimpahkan kepada mereka), dimana penolakan mereka tersebut berlanjut hingga kini, terbagi dalam dua kelompok yaitu kaum Sephardim dan kaum Ashkenazim. Jumlah kaum Ashkenazim jauh lebih banyak dari kaum Sephardim. Asal usul mereka sangat berbeda satu sama lainnya.
 
Kaum Sephardim, pada umumnya adalah Yahudi yang sejak zaman dahulu telah tinggal di Afrika Utara, Timur Tengah dan Eropa Tenggara. Dan pada suatu masa mereka juga pernah tinggal di Spanyol pada zaman muslim berkuasa disana (711 A.D- 1609 A.D), namun mereka dimusnahkan ataupun terpaksa melarikan diri pada saat pendudukan Kristiani Trinitas pada tahun 1492 A.D. Setelah ini sesungguhnya tidak ada lagi kaum Sephardim yang tinggal di Spanyol, dan banyak dari mereka yang tinggal di Afrika Utara, Timur Tengah dan Eropa Tenggara dikenal sebagai Yahudi yang berasal dari Spanyol ataupun keturunannya bukan sebagai keturunan Yahudi yang tinggal di wilayah tersebut diatas sejak zaman Musa dan Isa ataupun pada masa sebelumnya dari suku bani Israel.
 
Sangatlah jelas bahwa asli dari ‘Yahudi Spanyol’ adalah orang-orang yang bermigrasi dari Eropa tenggara, Timur tengah dan Afrika Utara selama pemerintahan muslim di Spanyol-namun seperti yang akan kita lihat nanti, Insya Allah-kemungkinan beberapa Yahudi dari Spanyol bukanlah imigran Sephardic dari timur, melainkan Yahudi Ashknazi dari Utara. Sejak saat itu Yahudi Ashknazi dikenal sebagai Yahudi bukan keturunan bani Israel, namun keturunan dari ‘Yahudi Spanyol’ bukan Yahudi Sephardic-walaupun pada masa ini mereka dikenal dengan nama tersebut.
 
Ashkenazi pada umumnya adalah Yahudi dari abad ke delapan dan seterusnya tinggal di Eropa dan terakhir di Amerika. Tidak dapat disangkal bahwa Yahudi Ashkenazi bukanlah keturunan bani Israel asli. Arthur Koestler menyebut mereka, ‘bani yang ke tiga belas’ dalam bukunya 
 
Singkatnya, kisah Ashkenazi adalah sebagai berikut:
Pada abad ketujuh A.D. terdapat suku Turky yang dikenal kaya dan mempunyai kekuasaan yang besar di sekitar laut mati dan laut Kaspia. Mereka dikelilingi oleh Kristiani Eropa dari utara, dan oleh Muslim dari selatan. Untuk menjaga keamanan kerajaan mereka, dan untuk alasan kebijaksaan politik semata dan bukanlah alasan-keagamaan-pemimpin mereka memutuskan bahwa seluruh suku Khazar harus menganut agama Yahudi, dengan alasan Kristiani Eropa tidak akan mengganggu mereka jika mereka menyembah Tuhan, begitu juga kaum muslimin akan memperlakukan mereka sebagai ‘ahli kitab’, dan juga tidak akan mengganggu mereka.
 
Alasan lainnya, jika mereka memilih Kristiani atau Muslim, tentunya mereka akan terlibat di dalam pertikaian yang sudah ada diantara Kristiani Eropa dan Muslim-sehingga memilh agama Yahudi adalah jalan yang paling aman bagi mereka.
 
Michael Rice menggaris bawahi asal usul dan sejarah Khazars di dalam bukunya Keturunan Palsu, dalam kalimat berikut:
 
Khazar adalah salah satu suku Turki yang pindah kearah barat sebagai konsekuensi dari adanya tekanan besar di Asia, dimulai dengan menetap di sebelah Utara kerajaan Byzantine, dalam pertengahan abad pertama millennium AD. Kedatangan mereka disebabkan oleh adanya invasi Mongol. Khazar pertama kali muncul di Rusia Selatan, di wilayah antara Kaukasus, Don dan Volga; kemudian mereka mulai memperlihatkan sifat nomadennya dan mulai berusaha untuk mendapatkan kedudukan di dalam pemerintahan.
 
Khazar, suku ini hidup dengan makmur. Akibatnya Byzantin dan kerajaan Muslim mulai tertarik dengan mereka dan pada kenyataannya tidaklah mudah bagi satu sama lainnya untuk melakukan komunikasi.Kedua kekuatan ini baik kristiani Eropa maupun Muslim sama-sama menekan kaum penyembah berhala ini (Khazar) untuk menerima ajaran agama mereka yang masing-masing meyakini bahwa agama merekalah yang paling benar. Kaum Khazar dikenal sebagai orang-orang yang pandai, yang sangat cemas akan kondisi yang ada sehingga mereka tidak memilih salah satu agama baik dari Kristiani Eropa maupun dari Muslim.Karena jika mereka memilih salah satu dari kekuatan besar ini, artinya mereka akan mengasingkan kekuatan yang lain. Sehingga Khazar mulai mencari solusi untuk memecahkan masalah ini. Solusi tersebut adalah dengan menganut agama Yahudi dengan harapan bisa menghindarkan tekanan dari kedua kekuatan besar mereka.
 
Khazar melakukan penelitian secara mendalam agama apakah yang dapat diterima oleh kedua kekuatan besar Kristiani dan Muslim sebagai agama yang terhormat dimana masalah ini tertulis di dalam Korespondensi Khazar. Didalam korespondensi Khazar ini dilaporkan bahwa utusan Muslim yang datang kepada mereka untuk merubah agama mereka menjadi Islam, mereka mengajukan pertanyaan, ‘ Agama mana yang anda lebih hargai, Yahudi atau Kristiani? Tanpa ragu-ragu Muslim menjawab agama Yahudi. Sebaliknya mereka juga bertanya kepada kaum Byzantin, yang mempromosikan agama Kristen orthodox, ‘Agama mana yang anda lebih hargai, Yahudi atau Islam? Kaum Kristiani dengan serentak menjawab, ‘ Yahudi’. Oleh karena keputusan segera dibuat dan Khazars resmi menjadi Yahudi.
 
Karena itulah dalam waktu relatif singkat, seluruh khazar menjadi Yahudi, walaupun tidak ada satupun nenek moyang mereka yang pernah tinggal di tanah suci, dan tidak ada satupun dari mereka yang berasal dari keturunan bani Israel yang mendapatkan ajaran Musa secara langsung.
 
Sangat jelas bahwa kelompok Yahudi Eropa ini tidak pernah dapat mengakui bahwa mereka mempunyai garis keturunan dengan Yahudi yang pernah tinggal di tanah suci ataupun disekitarnya. Mereka sesungguhnya mempunyai posisi yang sama dengan kaum Kristen Eropa, yang menjadi Kristen karena agama dan ketaatan terhadap agama, namun bukan keturunan Kristen dari bani Israel yang pernah tinggal di tanah suci ataupun disekitarnya.
 
Selanjutnya, seperti lazimnya agama Kristen di Eropa yang sangat jauh dari ajaran Isa yang asli, begitu juga ajaran agama Yahudi yang dipeluk oleh Khazar bukanlah ajaran asli Musa 

Ahmad THomson  Source : Eramuslim

Falsafah Ratu Syeitan




Intisari ajaran Islam ialah kalimat Tauhid لا إله إلا الله . Kalimat ini berlandaskan kepada dua rukun: kalimat an-nafyu (penafian) dan kalimat al-itsbat (peneguhan). Ibnul Qayyim berkata: “Penafian total bukan merupakan tauhid, demikian pula peneguhan semata tanpa penafian. Maka bukanlah tauhid kecuali jika ia mengandung penafian dan peneguhan sekaligus; itulah hakikat tauhid.”
Penafian yang dimaksud di sini ialah menafikan atau mengingkari segala jenis ilah atau sembahan, sedangkan peneguhan yang dimaksud ialah meneguhkan atau mengokohkan bahwa hanya Allah sajalah satu-satunya ilah yang benar. Semua ilah selain Allah dinafikan sebab selain Allah hanyalah merupakan ilah-ilah gadungan.  Allah سبحانه و تعالى berfirman:
 
أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar". (QS An_naml 64)
 
Barangsiapa memenuhi sisi peneguhan (itsbat) saja tanpa memenuhi sisi penafian (nafyu), maka dia bukanlah seorang mukmin. Demikian pula sebaliknya, siapa yang menetapi sisi penafian saja dan mengabaikan sisi peneguhan, maka dia bukan seorang mukmin. Tidaklah seseorang disebut mukmin sejati kecuali dia memenuhi kedua rukun tersebut secara bersamaan; yakni memenuhi rukun itsbat dan nafyu (secara bersamaan) baik dalam segi i’tiqad (keyakinan), perkataan dan perbuatan, yang zhahir maupun yang batin.
 
Kalimat  لا إله  (tidak ada ilah) mewakili sisi penafian seorang mukmin terhadap segala bentuk ilah-ilah gadungan yang hadir di dunia. Kemantapan seseorang dalam memaknai sisi ini menyebabkan dirinya memiliki kebebasan dari dominasi siapapun dan apapun dalam hidupnya di dunia yang fana ini. 
Sedangkan kalimat  إلا الله  (kecuali Allah) mewakili sisi peneguhan seorang mukmin bahwa satu-satunya ilah hakiki di dunia ini yang dia puja, puji, cintai, patuhi serta takuti hanyalah Allah سبحانه و تعالى . Seorang mukmin berjuang untuk membangun keterikatan dirinya kepada ilah Yang Satu itu, yakni Allah سبحانه و تعالى .
 
Jadi, ideologi seorang mukmin adalah ideologi yang sekaligus menghimpun kebebasan dengan keterikatan. Kebebasan dirinya dari segenap ilah gadungan yang menawarkan berbagai nilai-nilai yang bersumber dari selain Allah, terutama dari musuh Allah yakni setan. Dan keterikatan dirinya kepada Allah سبحانه و تعالى dan segenap nilai-nilai yang bersumber dari ilah Yang Satu tersebut. Keterikatan yang menyebabkan dirinya secara otomatis juga terikat kepada Rasulullah Muhammad صلى الله عليه و سلم dan Dienullah Al-Islam. Bukan selain itu...! Maka Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم bersabda:
 
مَنْ قَالَ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ
"Barangsiapa yang mengatakan; RADHIITU BILLAAHI RABBAN WA BIL-ISLAAMI DIINAN WA BIMUHAMMADIN RASUULAN (Aku ridha Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai dien-ku dan Muhammad sebagai rasul), maka wajib baginya untuk masuk Surga.” (HR Abu Dawud) Shahih 
 
Demikianlah ideologi seorang mukmin, atau lebih tepatnya iman serta aqidah seorang mukmin. Segala sesuatu ia pandang dan jalankan berlandaskan pemahaman serta keyakinannya terhadap kalimat Tauhid. Seorang mukmin dengan demikian menjadi manusia yang mengerti hakekat kebebasan yang bertanggung-jawab. Bukan kebebasan mutlak tanpa batas. Sebab pada hakikatnya tidak ada manusia yang benar-benar hidup dengan kebebasan mutlak tanpa batas. Pasti setiap manusia memiliki keterikatan kepada sesuatu, baik diakuinya maupun tidak. 
 
Adapun para pengikut setan (baca: hizbusy-syaithan) berjuang untuk menegakkan freedom (kebebasan) yang terlepas samasekali dari keterikatan apapun. Setidaknya, demikianlah yang mereka serukan. Sehingga jika kita coba analisa falsafah mereka berdasarkan perspektif kalimat Tauhid, maka berarti mereka hanya mau menerima bagian pertama saja dari kalimat Tauhid, yakni  لا إله  (tidak ada ilah). Dan inilah sesungguhnya sikap para pendukung setan. Mereka tidak mau mengakui adanya ilah apapun dan siapapun yang mendominasi atas dirinya, termasuk ilah yang hakiki, yakni Allah سبحانه و تعالى ...! Mereka adalah kaum kafir atau pengingkar terhadap Allah dan segenap nilai-nilai yang bersumber dari-Nya. Memang, para pengikut setan sesungguhnya  mengikuti jejak pemimpin besar mereka yaitu iblis. Allah سبحانه و تعالى berfirman mengenai iblis sebagai berikut:
 
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan yang kafir.” (QS Al-Baqarah 34)
 
Golongan yang kafir pengikut setan ini merupakan golongan yang hanya ingin kebebasan tanpa kerikatan apapun, terlebih keterikatan kepada Allah سبحانه و تعالى ..! Mereka adalah kaum yang sombong lagi membangkang terhadap Allah Yang Maha Kuasa sebab mereka tidak mau bersusah payah untuk terikat, berkomitmen dan menunjukkan kesetiaan kepada ilah sejati, Allah سبحانه و تعالى . 
Tetapi dalam kenyataannya, sebenarnya mereka tetap terikat kepada sesuatu, walaupun mereka tidak mau mengakuinya. Mereka bersikeras mengatakan bahwa mereka hidup dalam kebebasan total, tanpa keterikatan apapun. Namun sejatinya mereka tetap terikat kepada sesuatu. Apakah sesuatu itu? Itulah yang disebut Allah dengan istilah hawa nafsu. Mereka mengikuti hawa nafsu. Mereka terikat dengan hawa nafsu. Bahkan mereka menjadikan hawa nafsu sebagai ilah mereka..! 
 
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ 
وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS Al-Jatsiyah 23)
 
Jadi, falsafah setan pada akhirnya akan menggiring manusia menuju penghambaan diri kepada selain Allah, yakni dalam hal ini kepada hawa nafsunya sendiri. Ia menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya. Ia menolak menjadikan Allah سبحانه و تعالى sebagai ilah, malah ia mengambil ilah lain selain Allah yang ia ikuti, taati dan cintai. Berarti, ia tidak saja kafir kepada Allah سبحانه و تعالى tetapi ia sekaligus menjadi seorang musyrik.....! Pantaslah bilamana kondisinya menyebabkan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah  mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya...! Wa na’udzubillahi min dzaalika.
 
Dan semua keterangan di atas menjelaskan kepada kita mengapa ketika icon Ratu Setan berrencana datang ke negeri ini ada sebagian masyarakat  (baca: kaum pengikut setan) yang begitu getol menyambutnya bahkan merasa geram, terusik serta kecewa berat menghadapi sebagian masyarakat (baca: kaum beriman insyaAllah) yang menolak kehadiran Ratu Setan tersebut. Kita dapat menduga bahwa para fans Ratu Setan ini sudah sedemikian mengunyah-ngunyah falsafah setan yang disebarluaskannya sehingga sulit bagi mereka untuk dapat menerima masukan apalagi petunjuk yang disampaikan kaum beriman. Allah secara tegas mengatakan: “Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” 
Bila “kebebasan tanpa keterikatan” telah menjadi falsafah bahkan ideologi sekumpulan orang, maka akhirnya mereka akan mempeturutkan hawa nafsu sebagai ilah-nya. Dengan dalih freedom of speech (kebebasan berpendapat) dan freedom of expression (kebebasan mengungkapkan perasaan hati alias memenuhi hawa nafsu) mereka tidak merasa bersalah sama sekali untuk mempersekutukan Allah dengan hawa nafsunya. Bahkan hawa nafsunya lebih dia agungkan daripada Allah سبحانه و تعالى ...! Coba simak ayat-ayat setan yang dilantunkan oleh Ratu Setan tersebut. Salah satu lagu paling populernya adalah yang berjudul Born This Way (Terlahir Seperti Ini). Coba perhatikan nuansa falsafah setan yang  dipromosikannya. Di sini kita kutip sebagian saja dari lirik lagu tersebut:
 
Rejoice and love yourself today
'Cause baby, you were born this way
No matter gay, straight or bi
Lesbian, transgendered life
I'm on the right track, baby
I was born to survive
 
Artinya:
 
Bersukacitalah dan cintailah  dirimu sendiri pada hari ini
Karena Anda terlahir seperti ini, sayang
Tidak  peduli gay, lurus atau bisex
Lesbian atau kehidupan transgender
Aku di jalur yang benar, sayang
Aku terlahir untuk bertahan hidup
 
Melalui lirik lagu di atas, jelas sekali bahwa artis agen Sistem Dajjal ini memang penyebar falsafah setan sejati. Dia menggiring fans-nya untuk menuduh Allah sebagai penyebab dirinya menjadi seperti itu. Apakah menjadi seorang gay, bisex, lesbi ataupun transgender. Itu bukan masalah, karena memang terlahir seperti itu. Bahkan ia yakin bahwa penyimpangan sexualnya itu merupakan “karunia” dari Tuhan. Na’udzubillahi min dzaalika...! Coba simak bagian lain dari lirik lagu yang sama itu:
 
I'm beautiful in my way
'Cause God makes no mistakes
I'm on the right track, baby
I was born this way
 
Artinya:
 
Aku cantik dengan caraku
Karena Tuhan tidak membuat kesalahan
Aku di jalur yang benar, sayang
Aku terlahir seperti ini
 
Padahal seorang mukmin yakin bahwa Allah سبحانه و تعالى menciptakan setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah (suci, murni, tanpa dosa). Tidak mungkin Allah melahirkan manusia dengan bawaan sejak lahir untuk menjadi pendosa seperti seorang gay atau lesbian. Ini namanya bersangka-buruk kepada Allah سبحانه و تعالى ...! Ini merupakan sebuah tuduhan keji terhadap Allah سبحانه و تعالى ...!Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ 
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah.” (HR Bukhari) Shahih 
 
Falsafah setan mengajarkan kebebasan mutlak. Bohong besar bila mereka mengatakan hidupnya tanpa keterikatan kepada apapun, Justeru para pengikut setan membangun keterikatan kepada hawa nafsunya. Hawa nafsunya yang  telah ia relakan untuk dikuasai dan disetir oleh kemauan setan terkutuk.
وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا
“Barang siapa yang mengambil setan itu menjadi temannya, maka setan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.” (QS An-Nisa 38)

Source : http://eramuslim.com/berita-falsafah-ratu-syeitan.html 

Ad-Dajjal Mengaku Sebagai Rabb (2)





Inilah fitnah besar yang akan terjadi saat Ad-Dajjal keluar. Ad-Dajjal akan meng-claim dirinya sebagai Rabb, pencipta, pemilik, pemelihara dan penguasa alam semesta...! Persis sebagaimana dahulu kala Fir’aun meng-claim dirinya sebagai Rabb di hadapan rakyat Mesir yang dipimpinnya.

فَحَشَرَ فَنَادَى فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الأعْلَى

“Maka dia (Fir’aun) mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: "Akulah Rabb-mu yang paling tinggi". (QS An-Naazi’at 23-24)

Keluarnya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal menjadi seperti pengulangan sejarah Fir’aun. Ad-Dajjal dan Fir’aun memang memiliki kesamaan yaitu kedua-duanya sama-sama merupakan penguasa zalim alias thaghut. Bahkan semua thaghut sepanjang zaman memiliki kesombongan yang mirip satu sama lainnya. Hanya saja ada yang mengaku secara terbuka bahwa dirinya adalah Rabb tandingan Allah, dan ada yang tidak menyatakannya secara lisan, tetapi sikap dan perilakunya kurang lebih sama, yaitu bertingkah seolah dirinya merupakan tandingan bagi Allah. Thaghut menuntut masyarakat untuk mentaati dirinya sebagaimana manusia semestinya mentaati Allah. Thaghut menuntut dirinya dicintai sebagaimana manusia semestinya mencintai Allah. Tetapi claim diri sebagai Rabb yang bakal dilakukan oleh puncak thaghut –yakni Ad-Dajjal- akan sangat berbeda dari yang pernah dilakukan oleh thaghut manapun sepanjang zaman. Mengapa? Karena Ad-Dajjal tidak saja bermodalkan kesombongan dan kekuasaan, tetapi ia bakal diizinkan Allah menampilkan sihir tingkat tinggi untuk meyakinkan manusia bahwa dirinya memang benar-benar Rabb tandingan Allah سبحانه و تعالى ..!! Dajjal bakal tampil dengan aneka keluar-biasaan alias hal-hal supra-natural yang menyebabkan banyak manusia menjadi sulit mengingkari bahwa Dajjal merupakan Rabb tandingan Allah. Perhatikanlah hadits Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم di bawah ini:

يَا عِبَادَ اللَّهِ فَاثْبُتُوا فَإِنِّي سَأَصِفُهُ لَكُمْ صِفَةً لَمْ يَصِفْهَا إِيَّاهُ
 نَبِيٌّ قَبْلِي يَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ وَلَا تَرَوْنَ رَبَّكُمْ حَتَّى تَمُوتُوا
“Wahai hamba Allah, wahai para manusia, teguhkanlah diri kalian, karena aku akan menerangkan sifat-sifatnya (Ad-Dajjal) yang belum pernah diterangkan oleh seorang Nabi pun sebelumku. Ia  akan berkata: 'Aku adalah Rabb kalian.' Sedangkan kalian tidak akan bisa melihat Allah kecuali setelah kalian meninggal. (IBNUMAJAH - 4067)Shahih

Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menerangkan kepada ummat Islam sifat-sifat Ad-Dajjal yang belum pernah diterangkan oleh seorang Nabipun sebelum beliau. Dan ketika Ad-Dajjal meng-claim dirinya adalah Rabb, Nabi memberikan satu kunci penting kepada kita agar tidak kena tipuan Dajjal. Nabi mengingatkan bahwa manusia tidak akan bisa melihat atau memandang Allah selagi masih hidup di dunia fana ini. Nanti, setelah meninggal dunia baru Allah izinkan manusia melihat Rabb semesta alam, yaitu Allah سبحانه و تعالى .

أَنَّ أُنَاسًا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا
 يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ هَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الشَّمْسِ
 بِالظَّهِيرَةِ ضَوْءٌ لَيْسَ فِيهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ وَهَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ
الْبَدْرِ ضَوْءٌ لَيْسَ فِيهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تُضَارُونَ
فِي رُؤْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا كَمَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ أَحَدِهِمَا
Sejumlah orang pada masa Rasulullah صلى الله عليه و سلم  bertanya; 'Ya Rasulullah, apakah kami dapat melihat Allah pada hari kiamat? Nabi صلى الله عليه و سلم  menjawab. 'Iya, ' apakah kalian merasa kesulitan melihat matahari yang terang benderang serta tidak ada mendung?" Mereka berkata: "Tidak wahai Rasulullah!" lalu Rasulullah صلى الله عليه و سلم  bersabda: "Apakah kalian merasa kesulitan melihat rembulan pada malam purnama yang tidak ada mendung dibawahnya?", mereka berkata; "Tidak, wahai Rasulullah!" Rasulullah صلى الله عليه و سلم  bersabda: "Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya kelak pada hari kiamat tanpa merasa kesulitan sebagaimana kalian melihat salah satu dari keduanya (matahari dan bulan).” (HR Bukhari) Shahih

Tetapi masalahnya bukan sekedar mengaku sebagai Rabb. Ad-Dajjal kelak akan menampilkan berbagai atraksi supra-natural yang menyihir banyak manusia sehingga menjadi yakin bahwa Dajjal memang benar-benar Rabb tandingan Allah سبحانه و تعالى . Selanjutnya Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم bersabda:

وَإِنَّ مِنْ فِتْنَتِهِ أَنْ يَقُولَ لِأَعْرَابِيٍّ أَرَأَيْتَ إِنْ بَعَثْتُ لَكَ أَبَاكَ وَأُمَّكَ أَتَشْهَدُ أَنِّي رَبُّكَ فَيَقُولُ نَعَمْ فَيَتَمَثَّلُ لَهُ شَيْطَانَانِ فِي صُورَةِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَقُولَانِ يَا بُنَيَّ اتَّبِعْهُ فَإِنَّهُ رَبُّكَ
“Dan di antara fitnah (Ad-Dajjal) juga adalah, ia akan berkata kepada seorang Arab, 'Pikirkanlah olehmu, sekiranya aku dapat membangkitkan ayah dan ibumu yang telah mati, apakah kamu akan bersaksi bahwa aku adalah Rabb-mu? ' Laki-laki Arab tersebut menjawab, 'Iya.' Kemudian muncullah setan yang menjelma di hadapannya dalam bentuk ayah dan ibunya, maka keduanya berkata, 'Wahai anakku, ikutilah ia (Ad-Dajjal), sesungguhnya dia adalah Rabb-mu.' (HR Ibnu Majah - 4067)Shahih

Subhanallah...! Bayangkan, Allah bakal mengizinkan Dajjal meyakinkan seorang Arab bahwa dirinya benar-benar Rabb. Dan si Arab itu bakal mempercayainya karena Dajjal (seolah-olah) berhasil menghidupkan kembali kedua orang-tua si Arab tersebut yang sudah meninggal dunia. Kemudian kedua orang-tuanya itu bersaksi bahwa Ad-Dajjal memang Rabb si orang Arab itu. Kedua orang-tuanya berkata: 'Wahai anakku, ikutilah ia (Ad-Dajjal), sesungguhnya dia adalah Rabb-mu.' Na’udzubillahi min dzaalika...!

Bukan hanya itu keluarbiasaan atau sihir Ad-Dajjal. Ia bahkan diizinkan menyembuhkan berbagai penyakit yang diidap manusia. Di antaranya menyembuhkan penyakit buta serta orang berkulit belang.

وَإِنَّهُ يُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَيُحْيِي الْمَوْتَى وَيَقُولُ لِلنَّاسِ أَنَا رَبُّكُمْ
Nabiyullah صلى الله عليه و سلم  bersabda: "Sesungguhnya Ia (Ad-Dajjal) dapat menyembuhkan orang buta, orang berkulit belang, menghidupkan orang mati.” (HR Ahmad - 19292)

Semua hal di atas jelas berpotensi menyebabkan manusia menjadi takjub dan mudah mempercayai bahwa Ad-Dajjal adalah Rabb selain Alah سبحانه و تعالى . Apalagi mereka yang merasakan manfaat perbuatan Ad-Dajjal. Orang yang tadinya buta kemudian menjadi dapat melihat tentunya akan sangat berterimakasih kepada Ad-Dajjal. Orang yang tadinya berpenyakit kulit belang kemudian menjadi sembuh tentu akan sangat berterimakasih kepada Dajjal. Orang yang menyaksikan bahwa Dajjal sanggup menghidupkan orang yang sudah mati tentunya dengan mudah menjadi yakin bahwa Dajjal-lah Rabb yang menghidupkan dan mematikan makhluk....! Laa haula wa laa quwwata illa billaah...!

Selanjutnya Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menerangkan bahwa barangsiapa takjub menghadapi berbagai perkara supra-natural yang ditampilkan oleh Ad-Dajjal, maka ia bakal segera terfitnah oleh Dajjal. Sebab saat ia sedang takjub itulah Ad-Dajjal segera melontarkan pernyataan batil yang menjadi fitnah terbesar, yaitu: “Akulah Rabb kalian.” Dan barangsiapa membenarkan pengakuan batil Dajjal itu dengan kesaksian: “Engkau adalah Rabb-ku,” maka ia telah terkena fitnah Ad-Dajjal. Sebab manusia itu berarti telah melakukan puncak dosa yang tak bakal terampuni yaitu syirik (mempersekutukan) Allah....

وَيَقُولُ لِلنَّاسِ أَنَا رَبُّكُمْ فَمَنْ قَالَ أَنْتَ رَبِّي فَقَدْ فُتِنَ

“... dan (Ad-Dajjal) berkata kepada manusia, “Akulah Rabb kalian.” Barangsiapa berkata, “Engkau adalah Rabb-ku,” maka ia telah terkena fitnahnya.” (HR Ahmad - 19292)

Sedangkan dosa syirik menyebabkan si pelaku tidak bakal terampuni jika dia tidak bertaubat dari dosa syirik tersebut sebelum ajal menjemput. Semua dosa selain syirik masih mungkin diampuni Allah. Tetapi tidak demikian halnya dengan dosa syirik.

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ
 لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa 48)

Adapun terhadap mukmin sejati Ad-Dajjal tidak bakal berhasil memfitnahnya. Sebab seorang mukmin membekali dirinya dengan kemantapan iman-tauhid bahkan sejak Ad-Dajjal belum keluar.

وَيَقُولُ لِلنَّاسِ أَنَا رَبُّكُمْ فَمَنْ قَالَ أَنْتَ رَبِّي فَقَدْ فُتِنَ وَمَنْ قَالَ رَبِّيَ اللَّهُ
 حَتَّى يَمُوتَ فَقَدْ عُصِمَ مِنْ فِتْنَتِهِ وَلَا فِتْنَةَ بَعْدَهُ عَلَيْهِ وَلَا عَذَاب
“... dan (Ad-Dajjal) berkata kepada manusia, “Akulah Rabb kalian.” Barangsiapa berkata, “Engkau adalah Rabb-ku,” maka ia telah terkena fitnahnya. Dan siapa yang mengatakan: “Allah-lah Rabb-ku,” hingga ajal menjemputnya, maka ia telah terlindungi dari fitnah Dajjal, dan tidak ada lagi fitnah maupun siksa (Dajjal) terhadap dirinya.” (HR Ahmad - 19292)

Keadaan yang digambarkan hadits di atas sungguh sangat mirip dengan beberapa peristiwa yang terjadi sekarang. Para pengikut atau fans Lady Gaga sedemikian tersihirnya oleh tipuan Ratu Setan itu sehingga mem-publish lewat twitter pernyataan Gaga Akbar...! Na’udzubillahi min dzaalika. Suatu pernyataan yang bagi seorang mukmin sejati hanya berhak ditujukan kepada Allah سبحانه و تعالى yakni Allahu Akbar.

Para pembela thaghut syiah Bashar Asad di Suriah sedemikian tersihir oleh pesonanya sehingga memaksa rakyat muslim melafalkan kesaksian batil yaitu Laa ilaaha illa Bashar (tiada ilah selain Bashar Asad)...! Na’udzubillahi min dzaalika. Suatu pernyataan yang bagi seorang mukmin sejati hanya berhak ditujukan kepada Allah سبحانه و تعالى yakni Laa ilaaha illAllah.
Mukmin sejati menyadari pentingnya memelihara iman-tauhidnya bahkan sebelum puncak fitnah –yakni Ad-Dajjal- keluar ke tengah umat manusia. Bahkan ketika dunia diwarnai oleh aneka fitnah pra-Dajjal seorang mukmin telah bersusuah-payah memelihara iman-tauhidnya dengan tidak terjebak oleh aneka fitnah tersebut. Bahkan ketika dunia modern membentuk dirinya menjadi sebuah Novus Ordo Seclorum (tatanan dunia baru) alias Sistem Dajjal ia telah memasang sikap dan antisipasi memelihara iman-tauhidnya.

Seorang mukmin sejati tidak bakal tertipu oleh budaya kafir yang memfitnah manusia dengan sajian hiburan semisal seorang Ratu Setan yang menyebarluaskan berbagai ritual setan dibungkus erotisme, pornografi serta gaya hidup lesbianisme dan gay. Seorang mukmin sejati tidak bakal tertipu oleh ideologi kafir yang menyerukan sekularisme, pluralisme dan liberalisme dibungkus slogan palsu semisal sikap obyektif-universal, tidak diskriminatif, kebinekaan serta kebebasan. Seorang mukmin sejati tidak bakal tertipu oleh sistem politik kafir yang menyerukan kedaulatan di tangan sekumpulan manusia bukan di Tangan Allah, Raja langit dan bumi, dibungkus dengan slogan menyesatkan semisal demokrasi. Seorang mukmin sejati tidak bakal tertipu oleh sistem hukum kafir yang memberikan wewenang kepada manusia atau sekumpulan manusia untuk menetapkan legal-ilegal, baik-buruk serta halal-haramnya suatu perkara, padahal ini merupakan hak prerogratif milik Allah سبحانه و تعالى

Pantas bilamana Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم memperingatkan para sahabat agar memastikan diri dapat selamat menghadapi rangkaian fitnah sebelum keluarnya fitnah Ad-Dajjal. Sebab keselamatan iman-tauhid seseorang pada masa fitnah sebelum keluarnya fitnah Ad-Dajjal, menjamin keselamatan iman-tauhidnya ketika Ad-Dajjal keluar. Dan itu berarti sebaliknya, barangsiapa sebelum Ad-Dajjal keluar saja sudah terjerembab ke dalam aneka fitnah pra-Dajjal, maka jangan harap dirinya bakal sanggup selamat menghadapi fitnah Ad-Dajjal, sebab ia merupakan fitnah paling dahsyat sepanjang zaman...!

Jadi barangsiapa justeru menjadi pendukung dan pembela Ratu Setan, thaghut seperti Bashar Asad, faham sekularisme-pluralisme-liberalisme, sistem politik demokrasi, hukum produk manusia, berarti ia telah terfitnah oleh berbagai fitnah pra-Dajjal. Maka jangan harap ia bakal sanggup menghadapi fitnah Ad-Dajjal, sebab fitnah Ad-Dajjal merupakan puncak fitnah yang jauh lebih dahsyat daripada segenap fitnah sebelum fitnah Ad-Dajjal...!!!

لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ
 وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ
كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ 
الدَّجَّالِ
Ad-Dajjal disebut-sebut di dekat Rasulullah صلى الله عليه و سلم  lalu beliau bersabda: "Sungguh fitnah sebagian dari kalian lebih aku takutkan dari fitnahnya Ad-Dajjal dan tidak ada seorangpun dapat selamat dari fitnah-fitnah  sebelum fitnah Ad-Dajjal melainkan pasti selamat pula dari (fitnah Dajjal) sesudahnya, dan tidak ada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali untuk fitnah Ad-Dajjal." (HR Ahmad - 22215) Shahih

by. Ihsan Tandjung : Eramuslim

Ad-Dajjal Mengaku Sebagai Rabb Tandingan Allah SWT (1)





Hidup di era penuh fitnah yang kita jalani dewasa ini menuntut kewaspadaan dan antisipasi menghadapi puncak fitnah, yaitu keluarnya Al-Masih Ad-Dajjal. Semua Nabi utusan Allah memperingatkan kaumnya masing-masing akan munculnya fitnah paling dahsyat sepanjang zaman. Tetapi hanya Nabi Akhir Zaman, yakni Muhammad صلى الله عليه و سلم yang memberikan gambaran paling rinci mengenai Ad-Dajjal. Hal ini wajar karena ummatnya-lah yang akan Allah taqdirkan berhadapan langsung dengan puncak fitnah tersebut.
إِنَّهُ لَمْ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ مُنْذُ ذَرَأَ اللَّهُ ذُرِّيَّةَ آدَمَ أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا إِلَّا حَذَّرَ أُمَّتَهُ الدَّجَّالَ وَأَنَا آخِرُ الْأَنْبِيَاءِ وَأَنْتُمْ آخِرُ الْأُمَمِ وَهُوَ خَارِجٌ فِيكُمْ لَا مَحَالَةَ
"Rasulullah صلى الله عليه و سلم  pernah berkhutbah: Sungguh, semenjak Allah menciptakan anak cucu Adam, tidak ada fitnah yang lebih dahsyat dari fitnah Ad-Dajjal, dan tidak ada satu Nabi pun yang diutus oleh Allah melainkan memperingatkan umatnya mengenai fitnah Ad-Dajjal. Sedangkan Aku adalah Nabi yang terakhir dan kamu juga ummat yang terakhir, maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Ad-Dajjal akan keluar di tengah-tengah kalian. (IBNUMAJAH - 4067) Shahih

Dan telah terbukti bahwa sejak manusia dihadirkan ke muka bumi hingga hari ini Ad-Dajjal belum keluar. Tetapi Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menegaskan bahwa kita sebagai ummat terakhir alias ummat Akhir Zaman pasti akan berhadapan langsung dengan Ad-Dajjal. Nabi bersabda: “Sedangkan Aku adalah Nabi yang terakhir dan kamu juga ummat yang terakhir, maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Ad-Dajjal akan keluar di tengah-tengah kalian.”

Dalam hadits lainnya Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menjelaskan bahwa ummat terakhir ini akan mengalami lima babak perjalanan sejarahnya. Dan ternyata kita yang hidup di era modern dewasa ini sedang berada di babak keempat dari lima babak perjalanan sejarah tersebut. Selama babak pertama, kedua maupun ketiga Ad-Dajjal belum Allah taqdirkan keluar ke tengah-tengah ummat manusia untuk menebar fitnah dahsyatnya. Sementara itu, di babak keempat yang masih berlangsung ini, ummat Islam meraskan sangat banyaknya fitnah yang kian menyebar dan kian memuncak.
Bayangkan...! Selama tigabelas abad perjalanan ummat Islam dunia merasakan rahmat dienullah Al-Islam sebagai aturan yang diterapkan oleh para pemimpin Islam, baik di babak pertama, kedua maupun ketiga. Kita tidak menutup mata adanya pasang-surut kebaikan dan keburukan sosok-sosok pemimpin Islam di masa-masa itu, terutama selama babak ketiga yaitu babak kepemimpinan Mulkan ‘Aadhdhon (raja-raja yang menggigit). Tetapi secara umum kebaikan ajaran Islam masih dinikmati masyarakat luas karena para pemimpin di masa itu masih berusaha memenuhi kriteria dirinya sebagai ulil amri minkum (para pemimpin di antara orang-orang beriman) sebab mereka masih memenuhi keharusan yang Allah sebutkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa 59)

Baik itu babak kenabian, babak khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah (khulafa ar-rasyidin) maupun babak mulkan ‘aadhdhon, para pemimpin Islam masih berusaha untuk setia memenuhi kriteria “... jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya)...” Berbagai persoalan kehidupan bermasyarakat dan bernegara diselesaikan berdasarkan dan merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kehidupan bermasyarakat dan bernegara dilandasi oleh dienullah Al-Islam.

Namun begitu memasuki babak keempat, yang ditandai dengan runtuhnya secara formal tatanan bermasyarakat dan bernegara berlandaskan Islam (baca: al-khilafah al-Islamiyyah), maka Allah taqdirkan terjadinya perpindahan kepemimpinan dunia dari tangan para pemimpin Islam kepada masyarakat di luar ummat Islam. Allah menguji ummat Islam dengan diserahkannya kepemimpinan dunia kepada kaum kafir barat, Eropa kemudian Amerika, yang tidak lain adalah kaum yahudi dan nasrani. Akhirnya dunia tidak lagi menikmati rahmat diterapkannya dienullah Al-Islam. Dunia mulai mengalami ketidakjelasan tuntunan, arah dan tujuan. Dunia tidak di-manage oleh para pemimpin yang memberlakukan Islam sebagai solusi menghadapi berbagai persoalan hidup dan kehidupan. Kaum yahudi dan nasrani jelas tidak menjadikan hidayah/petunjuk Allah sebagai tuntunan di dalam memimpin dunia modern. Bagaimana mereka dapat menuntun ummat manusia ke jalan yang benar jika mereka sendiri tersesat?
Sejak limabelas abad yang lalu Nabi صلى الله عليه و سلم  telah memprediksi bahwa Allah bakal taqdirkan kaum Yahudi dan Nasrani memegang kepemimpinan global dunia sehingga sebagian ummat Islam bakal mengekor kepada mereka dalam segenap aspek kehidupan sampai masuk ke lubang biawak alias kebinasaan..!
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ
لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
"Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekalipun mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pasti akan mengikuti mereka." Kami bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka?" (HR Muslim) Shahih

Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menyebut babak keempat perjalanan sejarah ummat Islam sebagai babak kepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (para raja/penguasa yang memaksakan kehendaknya). Dan kita saat ini jelas membukitkan kebenaran prediksi Nabi tersebut..! Para pemimpin dunia modern –baik skala lokal apalagi global- memimpin manusia berlandaskan kehendaknya sendiri, bukan kehendak Allah dan Rasul-Nya. Ada yang memaksakan kehendaknya secara individual (para diktator) dan ada juga yang memaksakan kehendaknya secara kolektif (kerjasama badan eksekutif, legislatif dan yudikatif). Bagaimanapun bentuknya, semua tidak memimpin berdasarkan kehendak/petunjuk Allah dan Rasul-Nya..! Inilah babak paling kelam dalam sejarah ummat Islam..! Pantas bilamana ummat Islam yang faham dan cinta Islam sangat merasakan keprihatinan yang begitu mendalam hidup di era penuh fitnah ini.
تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ
“Babak(1)kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang babak (2)Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian, selama beberapa masa hingga Allah mengangkatnya, kemudian datang babak (3)Raja-raja yang Menggigit selama beberapa masa, selanjutnya datang babak (4) Para penguasa  yang memaksakan kehendak (diktator) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali  babak (5)Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian. Kemudian Rasul صلى الله عليه و سلم  terdiam.” (HR Ahmad Shahih)

Mengingat bahwa ini merupakan babak paling kelam dalam sejarah ummat Islam, maka sudah sepantasnya kita mempersiapkan diri menghadapi keluarnya puncak fitnah di babak ini. Sungguh kita patut menduga bahwa keluarnya Ad-Dajjal untuk menebar fitnah bakal berlangsung di babak keempat ini, babak dimana kita sedang hidup dewasa ini..!
Dan tahukah kita apa yang akan dinyatakan oleh Ad-Dajjal saat ia keluar ke tengah ummat manusia? Fitnah besar apakah yang akan ditampilkan olehnya? Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menjelaskan dalam hadits berikut:
يَا عِبَادَ اللَّهِ فَاثْبُتُوا فَإِنِّي سَأَصِفُهُ لَكُمْ صِفَةً لَمْ يَصِفْهَا
 إِيَّاهُ نَبِيٌّ قَبْلِي يَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ وَلَا تَرَوْنَ رَبَّكُمْ حَتَّى تَمُوتُوا
“Wahai hamba Allah, wahai para manusia, teguhkanlah diri kalian, karena aku akan menerangkan sifat-sifatnya (Ad-Dajjal) yang belum pernah diterangkan oleh seorang Nabi pun sebelumku. Ia (Ad-Dajjal) akan berkata: 'Aku adalah Rabb kalian.' Sedangkan kalian tidak akan bisa melihat Allah kecuali setelah kalian meninggal.” (IBNUMAJAH - 4067)Shahih

Inilah fitnah besar yang akan terjadi saat Ad-Dajjal keluar. Ia akan mengaku dirinya sebagai Rabb...! Persis sebagaimana dahulu kala Fir’aun meng-claim dirinya sebagai Rabb di hadapan masyarakat Mesir yang dipimpinnya.
فَحَشَرَ فَنَادَى فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الأعْلَى

“Maka dia (Fir’aun) mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: "Akulah Rabb-mu yang paling tinggi". (QS An-Naazi’at 23-24)

Keluarnya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal menjadi seperti pengulangan sejarah Fir’aun. Sungguh Ad-Dajjal dan Fir’aun memang memiliki kesamaan yaitu dalam hal kedua-duanya sama-sama merupakan penguasa zalim alias thaghut. Bahkan semua thaghut sepanjang zaman pada hakikatnya memiliki kesombongan yang mirip antara satu sama lainnya. Hanya saja ada yang sampai ke derajat mengaku secara terbuka bahwa dirinya adalah Rabb tandingan Allah dan ada yang tidak menyatakannya secara lisan, tetapi sikap dan perilakunya kurang lebih sama, yaitu bertingkah seolah dirinya merupakan tandingan bagi Allah. Thaghut menuntut masyarakat untuk mentaati dirinya sebagaimana manusia semestinya mentaati Allah. Thaghut menuntut dirinya dicintai sebagaimana manusia semestinya mencintai Allah. Tetapi claim diri sebagai Rabb yang bakal dilakukan oleh puncak thaghut –yakni Ad-Dajjal- akan sangat berbeda dari yang pernah dilakukan oleh thaghut manapun sepanjang zaman. Mengapa? Karena Ad-Dajjal tidak saja bermodalkan kesombongan dan kekuasaan, tetapi ia bakal diizinkan Allah menampilkan sihir tingkat tinggi untuk meyakinkan manusia bahwa dirinya memang benar-benar Rabb tandingan Allah سبحانه و تعالى ..!!

(BERSAMBUNG)

 Ihsan Tandjung : Eramuslim

19 Juni 2012

Siapkah Anda Kehilangan Suami

 
Betul! Judul itu ditujukan khusus untuk kaum ibu. Kaum yang secara kejiwaan, umumnya amat rentan bila harus kehilangan suami. Entah ditinggal mati suami atau karena kasus perceraian. Konon peristiwa yang paling memukul perasaan seorang wanita adalah, ketika ia harus kehilangan orang yang dicintainya. 

Kasus seorang lelaki yang mengalami shock berat lantaran kehilangan istri, barangkali terbilang langka. Jika betul ada seorang suami ditinggal minggat istri misalnya, mungkin ia hanya akan mengatakan, "Biarin aja. Emang gue pikirin!" 

Ada anggapan, seorang laki-laki ditinggal mati istri, hampir tak begitu menimbulkan persoalan besar. Jarang peristiwa itu sampai mengakibatkan guncangan bathin yang hebat pada laki-laki. Kecuali barangkali bagi mereka yang memiliki kenangan amat dalam dengan isteri mereka. Boleh jadi lantaran itulah muncul anekdot yang cukup akrab di kalangan kaum perempuan: "Ah, laki-laki sama! Sebelum kuburan isterinya kering, pasti ia sudah kawin lagi."

Tentu tidak selamanya asumsi itu benar. Anekdot tersebut hanya sebuah penggambaran, betapa beratnya bagi seorang wanita jika harus kehilangan suami. Tapi bahwa peristiwa seorang wanita bakal ditinggal mati suami, atau sebaliknya, hal itu adalah sebuah keniscayaan. Sesuatu yang aksiomatik. 

Tinggal masalahnya sekarang, bagaimana seorang istri harus menyadari bahwa hal itu pasti terjadi pada siapapun. Hanya sayangnya kaum ibu umumnya, jarang menghayati peristiwa yang tak pernah diharapkan, tapi pasti bakal datang itu. Tak pelak hal ini menjadi persoalan laten yang relatif cukup serius bagi kaum wanita tentunya. 

Perpisahan apapun namanya, terlebih dengan orang yang kita cintai, pasti tak pernah kita harapkan. Apalagi harus berpisah dengan suami. Bahkan jika mungkin kita ingin suami berada di sisi kita selamanya. Tapi realitas kehidupan selalu mengajarkan kita, bahwa "tamu tak diundang" bernama kematian itu acapkali datang secara mengejutkan. 

Sebut saja kisah Abdul Rozaq (40). Istrinya tak pernah menyangka laki-laki yang dicintai itu direnggut maut dengan cara mengenaskan. Subuh hari ia pamit keluar untuk membeli bahan-bahan roti. Tapi sebelum kesampaian niatnya, mobil Hijet yang dikemudikannya dihajar sebuah truk besar hingga meremukkan batok kepalanya. 

Jauh sebelum itu, Naimullah, seorang wartawan Harian Sinar Pagi mengalami nasib serupa. Ketika itu, Naimullah pamit pada istri dan anak-anaknya untuk shalat Jum'at. Tapi lama ditunggu hingga malam hari, tak kunjung pulang. Besoknya aparat menemukan jasad bapak tiga orang anak itu terbujur bersimbah darah dalam sebuah mobil.

Ilustrasi itu mungkin terlalu menakutkan. Tapi tidak, ini sebuah fakta yang harus kita jadikan ibroh. Sebab apapun yang namanya perpisahan (karena kematian atau perceraian) akan selalu menyisakan guncangan mental bagi pelakunya. Penelitian para psikolog anak dan keluarga membenarkan, betapa sulitnya kondisi seorang ibu di masa-masa pasca perpisahan. 

Mereka para ahli menuturkan, betapa pelik dan sukarnya para ibu menjawab dan menjaga kondisi bahtera keluarga yang kehilangan nakhodanya. Ibu-ibu, kata mereka, akan kehilangan retorika komunikasi untuk menjelaskan satu kalimat: "Ayah sudah tidak ada...!" Kondisi itu diperburuk oleh berbagai persoalan yang menuntut sikap dan jawaban yang tak boleh ditunda. Sebab sekali seorang ibu menunda tanpa strategi, jelas akan membawa dampak yang tidak baik terhadap anak. 

Betul, siapa yang bisa melarang dan membantah jika wanita membayangkan indah dan nikmatnya pernikahan? Bahwa menikah itu indah, kita tak akan menafikan premis itu. Tapi apakah mereka juga menyadari bahwa hanya melulu membayangkan keindahan tanpa memahami esensi pernikahan, terkadang bisa membawanya pada petaka?

Kenapa? Karena bayangan indah itu akan membawanya ke dunia persepsi yang rawan: menyenangi asesori tanpa memahami esensi. 

Apapun lapangan kehidupan, di sektor publik maupun domestik, adalah lahan ujian. Tak terkecuali pernikahan tentunya. Ia adalah arena ujian. Kadang kita diuji dengan kesenangan. Tapi adakalanya ujian itu mencekam. Ibarat berlayar di tengah laut, kerap angin dan cuaca begitu indah dan bersahabat menggerakkan bahtera kita. Namun sekali waktu tanpa kita harapkan, secara mendadak hujan dan badai memporakporandakan seisi bahtera. Begitulah hidup.

Allah mengingatkan hal itu; 
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan kebaikan dan keburukan sebagai ujian (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (QS 21:35).

Begitu banyak wanita yang mengalami shock ketika harus kehilangan suaminya. Yakni mereka yang mungkin hanya memandang pernikahan adalah asesori. Mulus perjalanannya dan menyenangkan, tanpa gangguan. Tapi ketika tiba-tiba ia harus dihadapkan pada kenyataan, suaminya meninggalkannya (untuk sementara atau selama-lamanya) jiwanya terguncang. Ia tak mau menerima kenyataan pahit itu. 

Syukur-syukur guncangannya tak terlalu lama. Tapi bila berlangsung konstan? Ini yang berbahaya. Ia mungkin akan berupaya memenuhi fantasi-fantasi tentang indahnya berumah-tangga sebagaimana pernah dialami bersama suaminya. Jika ini yang terjadi, seseorang bisa terjebak pada sekadar ingin melampiaskan fantasinya tanpa memandang rambu-rambu agama. Ia akan terjebak pada dunia asesori tanpa keinginan untuk memahami esensi. 

Pernahkah kita mencoba menyelami kisah seorang Siti Hajar yang amat monumental itu? Ketika ia ditinggal suaminya Ibrahim 'alaihis salam, di padang tandus terpencil dengan bayi merah yang masih berada dalam gendongannya. "Wahai kakanda, benarkah engkau akan pergi meninggalkan kami sendiri?" tanya wanita itu lirih. Ibrahim hanya mengangguk pelan, seraya pergi menjauhi istri dan anaknya.

Ibunda Hajar jelas penasaran dan cemas, lalu menghambur mengejar suaminya. "Benarkah yang menyuruhmu Allah?" desak wanita sholihat itu sekali lagi. "Benar!" jawab Ibrahim. 

"Kalau ini perintah Allah, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami," ujar Siti Hajar mantap. Lantas perasaan cemas itupun berubah jadi tenang dan pasrah. Wanita sholihat itu tidak lagi merengek setelah memahami esensi misi suaminya. Ini tidak lain karena ia sangat mengerti bahwa pertalian cinta antara dia dengan suaminya karena Allah semata. Dengan kata lain, ia telah menukik ke dalam esensi, bukan menggayut pada asesori.

Memang, Islam tak melarang seseorang untuk melampiaskan duka atas sebuah musibah, apapun jenisnya. Termasuk menangisi kehilangan suami. Tapi jangan terus larut dalam perasaan tanpa berpikir rasional dan proporsional. Bahwa masalah-masalah baru menyangkut kelangsungan keluarga perlu segera dipikirkan. Sehingga Rasulullah saw pernah melarang wanita ke kuburan, ketika para wanita tak mampu mengendalikan emosi kesedihannya. Tapi setelah itu (ketika wanita Makkah tidak lagi histeris menangisi kematian anggota keluarganya), ziarah kubur bagi wanita beliau izinkan. 

Satu lagi kisah seorang wanita tabi'in yang kehilangan suaminya. Ia bersikap pasrah tanpa emosional. Para kerabat suaminya justru yang bertanya cemas. "Apa Anda tidak khawatir atas kematian suami Anda?" Dijawab oleh si wanita, "Bukankah suami saya seorang yang 'tukang makan' bukan 'Pemberi Makan'?" jawabnya tenang, lantaran keyakinannya yang mantap bahwa Allah adalah Penggaransi rezeki yang sebenarnya. 

Dua penggal episod di atas, seyogyanya kita jadikan sebagai ibroh (pelajaran). Bahwa kemantapan iman dan kepahaman akan esensi hidup, membuat seseorang akan bersikap rasional dan proporsional. Akan membuat seseorang menjadi cerdas, peduli, dan cepat mengambil tindakan-tindakan realistis mengatasi berbagai problema hidup. 

Mungkinkah wanita bisa memiliki keteguhan hati dan sikap sebagaimana dimiliki Siti Hajar dan wanita generasi tabi'in itu? Sangat mungkin. Tapi tentunya, ini harus melalui sebuah proses pembinaan yang lama dan berkesinambungan tanpa putus. Karena itu membekali diri mengahadapi segala kemungkinan itu menjadi suatu kemestian dan keniscayaan. 

Bekal-bekal yang seyogyanya disiapkan para wanita antara lain; pertama bekal ruhiyah (spiritual). Dengan cara menjauhkan diri dari hal-hal yang tercela. Kemudian intens membaca Al Qur'an dan menciptakan komunitas yang bernuansa qur'ani. Menjaga malam-malam dengan amalan-amalan shalih. Sebisa mungkin menjauhkan diri dari dominasi emosional yang berlebihan. Selain itu selalu berupaya mensyukuri nikmat dan berpikir tentang masalah umat. 

Kedua, bekal fikriyah (akal dan wawasan), dengan banyak membaca buku-buku Islam, khususnya kisah-kisah ketegaran para shohabiyah, tabi'in, maupun tabi' tabi'in dalam menghadapi cobaan hidup. Tak kalah penting tentunya, mengikuti berbagai peristiwa yang terjadi di dunia Islam, terutama Palestina. Di situ kita akan dapatkan kisah-kisah sejati tentang betapa tegarnya para ibu di Palestina menghadapi kebiadaban dan kedegilan bangsa Yahudi. 

Ketiga, bekal faniyah (keterampilan), dengan cara mempelajari berbagai keterampilan yang cocok dengan kodrat wanita. Entah itu keterampilan manajemen bisnis, bahkan mungkin sampai perintisan ke arah menjadi juragan usaha katering misalnya. Atau keterampilan jurnalistik, mengajar, komputer, perbankan syari'at, sampai ke arah menjadi kepala sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. 

Paling tidak, ketiga hal itu perlu menjadi perhatian dan kudu disiapkan seorang wanita. Agar kemampuan spiritual, wawasan, dan keterampilan, menjadi benteng kokoh yang akan memproteksinya dari pikiran, niat, dan perilaku nyeleneh, saat harus menghadapi ujian berat. 

"Hidup bagaikan garis lurus. Ia tak pernah kembali ke masa yang lalu." Begitu pesan Bimbo dalam salah satu lirik lagunya. Hadapilah hidup ini dengan realistis dan penuh keberanian. Bismillah. (sulthoni)
 
Source : Eramuslim.com | Media Islam Rujukan, 

Ajarkan anak-anak kita

Terkadang kita begitu pintarnya, begitu lihainya, begitu "gercep" nya ketika kita menyuruh anak orang lain untuk meminta maaf atas...